Prinsip Kepercayaan Leluhur Terkait Pandemi.

Masyarakat kepercayaan leluhur, atau sebagian yang lain menyebutnya kepercayaan lokal atau agama leluhur atau penghayat kepercayaan adalah masyarakat Indonesia yang kaya dengan berbagai falsafah hidup.  Menyikapi pandemi Covid-19 pada tahun 2020 ini, masyarakat kepercayaan leluhur di Indonesia memiliki perspektif dan cara yang bisa menjadi acuan bagi masyarakat luas.

Paparan perspektif tersebut tertuturkan oleh Naen Soryono, salah satu penghayat Sapta Darma yang menjadi narasumber dalam Forum Kamisan Daring “Kepercayaan Leluhur Menyikapi Covid-19” yang diselenggarakan oleh CRCS UGM dan SATUNAMA pada Kamis, 7 Mei 2020 pukul 20.00-22.00 WIB.

Forum ini merupakan sebuah inisiatif untuk menggali berbagai ide, pendapat dan pengalaman berbagai pihak dan kalangan terkait keberadaan masyarakat kepercayan leluhur dengan berbagai dinamikanya. Forum dipandu oleh Valerianus Jehanu, staf Unit Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan SATUNAMA,

Perspektif Menyeluruh Terkait Pandemi

Masyarakat kepercayaan leluhur, termasuk Sapta Darma memiliki perspektif yang utuh dalam menghadapi pandemi. Masyarakat Sapta Darma menyebut pandemi sebagai pageblug, yang juga memiliki makna yang sama dengan pandemi yang secara umum dapat diartikan sebagai munculnya wabah penyakit.

Masyarakat Sapta Darma melihat pageblug dalam tiga perspektif mawas diri, yaitu pageblug sebagai pepiling, pageblug sebagai bencana dan pageblug sebagai harmonisasi alam semesta. “Yang terakhir ini kami juga menyebutnya sebagai Memayu Hayuning Bawono.” jelas Naen Soeryono.

Dalam pemaknaannya sebagai pepiling, pageblug dimaknai sebagai sebuah kehendak dari Tuhan yang dimaksudkan agar manusia semakin memperkuat keterikatannya dengan Tuhan. Naen Soeryono menyebutnya sebagai sujud manembah kepada Yang Maha Kuasa.

“Beberapa waktu lalu, warga kami di Jemursari Surabaya masing-masing melakukan sujud selama 12 malam. Tujuannya adalah untuk memohon kepada Tuhan agar segera diberi solusi atas pageblug yang sedang berlangsung saat ini.” Papar Naen.

Memohon kepada Tuhan atas berbagai tantangan dalam hidup merupakan sebuah tradisi yang melekat dalam masyarakat kepercayaan leluhur. Tidak hanya saat pandemi, mereka juga melakukannya sebagai sebuah kebutuhan akan panduan dari Tuhan.

Kemudian terkait pageblug sebagai bencana, menurut pemahaman Sapta Darma, mereka memilik prinsip Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu sumunar pindah baskara. Artinya bahwa di manapun, kepada siapapun, warga Sapta Darma harus bercahaya.

“Warga Sapta Darma harus memberikan bantuan kepada siapapun untuk mewujudkan darma kami kepada banyak orang. Maka kami memiliki kewajiban untuk berbagi kepada siapapun tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. ” Ujar Naen.

Sapta Darma melakukan hal ini misalnya ketika bulan Ramadan dengan memberikan takjil dan santunan kepada anak yatim. “ini kegiatan kami setiap Ramadan. Tapi karena sekarang ini kita dibatasi oleh PSBB tidak boleh kumpul bersama, kami melakukannya secara pribadi, memberikan bantuan terutama kepada masyarakat yang terdampak secara ekonomi.” Tambah Naen, menambahkan bahwa dampak Covid-19 sangat luas, khususnya dalam bidang ekonomi.

Sementara pemahaman pageblug sebagai harmonisasi alam semesta dimaknai sebagai welas asih terhadap alam di mana manusia, hewan dan tumbuhan serta berbagai entitas alam lainnya ada di dalamnya. Termasuk saripati bumi, seperti angin, air dan api. Karena unsur-unsur alam semesta ini ada dalam diri manusia dan diaplikasikan dalam kehidupan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Noor Sudiyati, perempuan dari kepercayaan leluhur Hardo Pusoro ini menyebutkan bahwa ada sebuah konsep pranataning jagad atau tatanan alam semesta. Menurutnya, manusia harus bisa bersinergi dengan segala yang ada di alam.

“Kita cenderung mengecilkan arti makhluk lain terutama yang kita anggap kecil dan lemah. Faktanya virus yang tergolong kecil ini sekarang menguncang dunia. Tapi virus ini juga yang membawa efek pranoto jagad karena bumi ini sudah banyak dicederai oleh kepentingan manusia. Intinya virus ini memberikan sinyal revolusi kesadaran untuk menata semesta.” Kata Noor.

Noor juga menjelaskan bahwa Pranataning Jagad adalah cara-cara untuk hidup sesuai dengan kondisi termasuk dalam kondisi hidup saat ini. Menurut Noor, virus yang muncul saat ini harus disadari karakter dan sistem kehidupannya, sehingga manusia bisa menghindari bersinggungan dengannya.

Pemahaman harmonisasi juga dimaknai sebagai usaha bersama untuk mencari solusi atas kondisi yang dihadapi. Karenanya, kerjasama lintas pemeluk agama juga tidak bisa dielakkan untuk memberikan penguatan kepada masyarakat di dalam menghadapi pageblug. Termasuk memberikan edukasi tentang usaha bersama dalam menghadapi pageblug.

Strategi Menghadapi Pageblug.

Hal pertama yang ditegaskan oleh Naen dalam upaya menghadapi pageblug Covid-19 adalah mematuhi kebijakan dari pemerintah. “Kami menganjurkan agar PSBB dipatuhi, agar kita tidak menularkan atau tertular. Cara-cara yang dianjurkan seperti pemakaian masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik, bekeria di rumah jika memungkinkan itu sepatutnya kita patuhi.“ tegas Naen.

Naen juga menuturkan bahwa secara spiritualitas, penguatan hubungan dengan Tuhan perlu terus dilakukan. Tidak hanya saat-saat pandemi tapi juga setelahnya. Sementara Noor Sudiyati melihatnya sebagai sebuah kesadaran bahwa hanya Tuhan yang memiliki kehendak sehingga apapun yang datang dari Tuhan harus direspon dengan olah rasa dan tindakan yang kontibutif.

“Kita butuh hening untuk merefleksikan situasi. Dalam keheningan kita bisa menata pernafasan lebih baik, mencerna segala informasi dengan seimbang, berpikir secara menyeluruh, mengolah kesadaran emosi hingga bisa menerima situasi apapun sembari memikirkan langkah-langkah nyata yang sesuai untuk menghadapinya.” Tutur Noor.

Noor juga menyoroti pentingnya faktor keberlangsungan kehidupan, khususnya dalam konteks ketahanan pangan. Dia menyebutkan bahwa manusia memiliki daya hidup yang luar biasa. Melihat potensi, melihat peluang di sekitar, dan melihat daya diri sendiri yang bisa dikembangkan adalah hal-hal yang dapat membantu menghadapi masa-masa seperti saat ini.

“Kita kudu obah (harus bergerak). Memberdayakan diri sendiri dengan kesadaran dan kreatifitas. Berpikir panjang dan jangan mengeluh.” Saran Noor. Dalam hal ketahanan pangan, Noor menyarankan untuk memanfaatkan lahan sekecil apapun agar ditanami berbagai tanaman untuk kebutuhan pangan dan juga obat-obatan atau herbal.

“Minimal untuk kebutuhan sendiri dan selebihnya untuk menunjang ekonomi. Galilah warisan tata cara agragris yang kita miliki. Berpikir untuk berproduksi.” Ajaknya.

Tindakan nyata lainnya adalah edukasi, khususnya kepada anak-anak dan remaja tentang perlunya kebersamaan sosial dan hidup secara sederhana. Naen Soeryono menyebutkan tindakan atau langkah nyata penting dalam edukasi.

“Agar anak-anak menjadi peka terhadap kondisi sekitarnya. Anak-anak atau remaja butuh contoh tindakan nyata, tidak hanya sekadar kata-kata saja.” Katanya.

Dalam konteks kebersamaan juga, Naen Soeryono mengajak mengajak seluruh masyarakat untuk berbagi dalam berbagai hal kepada siapapun karena dampak Covid-19 telah menyentuh berbagai sektor kehidupan.

Urip itu urup (Hidup itu bercahaya). Kita masing-masing punya cahaya dalam diri kita dan itu harus dibagikan kepada sekitar kita.” Tutup Naen Soeryono. [Ariwan Perdana/SATUNAMA].

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID