Melihat Agama dan Kepercayaan Sebagai Metode.

Daya tahan dan kelentingan hidup yang dimiliki masyarakat kepercayaan leluhur adalah elemen penting dalam menghadapi segala situasi. Kekuatan spiritual dan perspektif kebersamaan menjadi daya ungkit kesadaran yang luar biasa dan mewujud dalam perilaku=perilaku kontributif dalam meghadapi kehidupan berbangsa dan segala tantangannya.

Pengetahuan-pengetahuan tersebut penting diadopsi dalam kehidupan, baik pada masa-masa pandemi seperti pandemi Covid-19 maupun pada masa-masa non pandemi. Namun sarana pendidikan yang bermuatan pengetahuan eksistensi dan potensi masyarakat kepercayaan leluhur masih belum banyak ditemui. Padahal perspektif dalam memandang entitas kepercayaan menjadi hal penting.

Refleksi itu muncul dalam Forum Kamisan Daring “Kepercayaan Leluhur Menyikapi Covid-19” yang diselenggarakan oleh CRCS UGM dan SATUNAMA pada Kamis, 7 Mei 2020 pukul 20.00-22.00 WIB yang disiarkan secara live melalui Youtube.

Forum ini merupakan sebuah inisiatif untuk menggali berbagai ide dan pendapat dan pengalaman berbagai pihak dan kalangan terkait keberadaan masyarakat kepercayaan leluhur dengan berbagai dinamikanya. Forum dipandu oleh Valerianus Jehanu, staf Unit Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan SATUNAMA.

Basis Nilai Kemanusiaan dan Alam.

Daya spiritual dan kebersamaan yang dimiliki oleh masyarakat kepercayaan leluhur dapat melahirkan sinergi yang kuat di antara sesama manusia, alam semesta dan Tuhan sehingga dapat membawa kepada tatanan nilai-nilai kemanusiaan dan kecintaan terhadap alam dalam konteks luas.

Dewi Kanti dari Komnas perempuan menyebutkan bahwa prinsip nilai kemanusiaan dan prinsip kecintaan terhadap alam itulah yang menjadi spirit atas kekuatan penerimaan masyarakat kepercayaan leluhur terhadap dinamika hidup. “Pasrah di sini adalah pasrah yang bukan pasif. Tapi pasrah yang bergerak dalam kontribusi dan mengupayakan jalan keluar.” Kata Dewi yang menjadi penanggap dalam forum.

Dewi mencontohkan bagaimana misalnya kepercayaan leluhur melihat bumi dan alam sebagai bagian yang harus dihargai dan tidak berorientasi pada penguasaan. “Sebaliknya, mereka justru mengajarkan tentang penguasaan terhadap diri sendiri. Ketika kita sudah menguasai diri sendiri, kita bisa berbagi energi kepada semesta.” Demikian Dewi Kanti.

Penguasaan terhadap diri sendiri menjadi penting dalam perspektif dan tindakan manusia karena posisi manusia sebagai subyek yang memegang peran atas keberlangsungan keselarasan tatanan berbagai sektor yang saling terkait. Kritik, perbaikan dan pengelolaan internal menjadi sesuatu yang mendasar. Dan nilai-nilai internal atau kearifan yang dimiliki kepercayaan leluhur merupakan hasil dari pengelolaan diri yang matang.

“Pengetahuan-pengetahuan tersebut, yang selama ini kurang terungkap di masyarakat semoga bisa dimaknai secara lebih luas. Karena saya pikir bangsa ini memiliki hutang peradaban terhadap warga bangsa, putra-putri Nusantara yang mempraktikkan pemikiran dan pola hidup kepercayaan atau agama leluhur.” Dewi menegaskan.

Dewi juga melihat dampak dari pandemi Covid-19 ini dalam perspektif isu perempuan. Dewi melihat bahwa karakter masyarakat kepercayaan leluhur yang lekat dengan spiritualitas, budaya gotong royong dan semangat berbagi adalah hal-hal yang dapat menyeimbangkan peran manusia.

“Solusi-solusi yang dimiliki oleh masyarakat kepercayaan leluhur menunjukkan bahwa bangsa ini punya karakter yang bisa saling berbagi, saling memberi, saling menguatkan lewat jalan spiritualitas yang bermuatan nilai kemanusiaan dan terwujudkan dalam berbagai tindakan yang seimbang.” Kata Dewi.

Kebutuhan Pendidikan Kepercayaan.

Dalam sudut pandang akademis, pemahaman umum terkait kepercayaan leluhur disinggung lebih jauh oleh Dr. Samsul Maarif dari CRCS-UGM. Menurut pengajar yang akrab disapa Anchu ini, kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan kepercayaan leluhur beserta potensi-potensinya adalah dampak dari tidak adanya sistem pendidikan yang merangkul mereka, termasuk di kampus-kampus.

“Memang ada satu-dua orang yang memiliki minat terhadap isu ini dan memasukkannya ke dalam kajian-kajian mereka di kelas-kelas kampus. Tapi secara sistem, pendidikan penghayat ini belum ada. Ini menjadi catatan kita bersama.” Kata Anchu dalam sesi tanggapan.

Padahal menurut Anchu, ada kebijaksanaan yang begitu besar yang muncul dari masyarakat kepercayaan leluhur yang penting dilihat sebagai aset kekayaaan bangsa. Anchu melihat bahwa salah satu kendala dalam membawa isu ini di ranah akademik adalah karena kebanyakan orang terjebak pada definisi agama dan kepercayaan.

“Sehingga ada kelompok tertentu yang bisa kita kaji, sementara yang lainnya yang tidak masuk dalam kelompok ini menjadi lalai kita kaji.” Kata Anchu.

Anchu lalu mendorong agar agama maupun kepercayaan penting untuk dilihat sebagai metode. Karena dengan melihat agama dan kepercayaan sebagai metode, maka orang beragama atau berkepercayaan dapat dilihat sebagai subyek yang berproses aktif, dinamis dalam merespon tidak hanya dirinya sendiri tapi juga merespon lingkungannya.

“Sehingga dalam merekonstruksi pemikiran dan praktik agama, kita bisa menjadi dinamis mengikuti perkembangan.” Papar Anchu seraya menambahkan bahwa hal itu juga dapat membantu dalam menerima keragaman agama maupun kepercayaan.

Dunia akademik dalam pandangan Anchu dapat membantu dalam mengembangkan pemahaman tersebut dalam kerangka rekognisi atau pengenalan dan juga pelibatan langsung kelompok kepercayaan leluhur.

“Masyarakat kampus bisa mengkaji ini dan kemudian menyebarluaskannya sebagai sebuah pengetahuan tentang kewarganegaraan. Termasuk bagaimana melibatkan mereka, dengan membuka ruang bagi para penghayat untuk berbagi.” Demikian Anchu.

Karena Anchu melihat bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang asing atau baru, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan dan sejarah bangsa. “Saya kira menjadi penting untuk kita maksimalkan pelibatan mereka sehingga kontribusi mereka juga akan semakin besar.” Ujar Anchu.

Terlebih dalam konteks menghadapi pandemi, Anchu melihat bahwa masyarakat kepercayaan leluhur memiliki kesiapan yang luar biasa. Hal ini didasari oleh cara mereka mengelola dirinya. Internalisasi nilai-nilai, pengetahuan dan praktik-praktik yang kemudian terwujud secara eksternal didapatkan dari pengalaman-pengalaman panjang yang memperkuat fondasi kesiapan mereka.

“Tradisi untuk berpikir dan merenung menjadi dasar kekuatan besar bagi diri mereka. Sehingga mereka mampu membangun pengetahuan bahwa manusia harus berhubungan dan berinteraksi dengan sekitarnya secara harmonis.” Demikian Anchu menuturkan. [Ariwan Perdana/SATUNAMA]

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID