satunamasatunamasatunama

Bincang-bincang : Dodok Putra Bangsa

Saya Serukan ke Publik : Jogja Ora Didol!

Dodok
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+1Share on Tumblr0Email this to someone

Dodok Putra Bangsa. Nama ini bukan nama yang asing dalam gerakan #jogjaoradidol. Sebuah gerakan yang menyuarakan keprihatian sekaligus protes keras terhadap pertumbuhan dan perkembangan Yogyakarta. Jogja Ora Didol adalah media pengumpulan laporan, protes, curhat, seruan jujur ikhlas sukarela berupa dari penduduk di Daerah Istimewa Yogya atas masalah yang dihadapinya akibat pemerintah DIY yang getol sekali ingin menjual Yogya. Jogja ora didol, Jogja tidak dijual, sebuah manifesto penolakan eksploitasi atas hak publik. Pembangunan kota jogja yang harusnya didasari asas kemanfaatan oleh masyarakat bukan malah berpihak ke investor yang tamak. Pembangunan hotel-hotel dan mall-mall di Jogja berkedok peningkatan pariwisata dan investasi di kota Jogja hanya akan merusak keistimewaan kota Jogja. Kota Jogja yang berslogan “Berhati Nyaman” serasa tak nyaman lagi oleh begitu banyaknya beton yang ditanam di kota Jogja, kemacetan lalu lintas yang semakin parah dan banyaknya pengusuran lahan oleh Pemerintah Kota Jogja.

Beberapa aksi teatrikalnya, sebagai wujud protes keras kepada pemerintah Yogya dan kaum bisnis, menarik banyak perhatian warga Jogja. “Saya akan terus melancarkan aksi-aksi ini,” tuturnya ketika ditemui tim media Satunama.org. Dodok menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap pembangunan kota yang tidak mengindahkan sisi lingkungan, dan kemanusiaan. Dua pewarta dari Satunama.org, Ryan Sugiarto dan Ariwan K. Perdana, berkesempatan untuk bincang-bincang dengan lelaki gempal ini tentang gagasan, aksi-aksi, dan kesehariannya. Berikut beberapa petikan wawancaranya.

Pertumbuhan kota sekarang sangat maju. Menurut Mas Dodok apakah perkembangan kota sekarang sudah sesuai kebutuhan masyarakatnya?

Kalau bicara pembangunan kota, yang dibangun di kota adalah pembangunan dengan dalih PAD. Untuk menjawab pendapatan daerah itu dengan pariwisata, dan itu adalah mendirikan hotel sebanyak-banyaknya. Wacana yang dikeluarkan kota bahkan jika ini belum mencukupi, arahanya akan dibuat hunian vertikal. Artinya akan ada banyak lagi bangunan hotel, melihat tahun ini moratorium habis. Padahal tahun ini ada ijin, yang hotelnya belum berdiri, hotelnya belum jadi. Lalu kalau bicara tentang manfaat seperti yang dikatakan pemerintah, itu nyaris tidak ada. karena dengan dalih pariwisata dan PAD, apapun dilakukan. Artinya kalau konteksnya dengan warga tidak ada manfaatnya. Kalau urusan lapangan kerja warga paling dapat yang ecek-ecek. Paling jadi parkiran. Bahkan berekses pada konflik warga. Rebutan parkir, rebutan jadi satpam.

Untuk pembangunannya saya belum melihat yang sesuai kebutuhan masyarakat. Dan saya juga tidak tahu apakah seperti Fave hotel yang dijual  beberapa waktu lalu, itu bagaimana manfaatnya.

Perjuangan Mas Dodok dengan Warga Berdaya, bagaimana melihat pertumbuhan hotel, apartemen di lingkungan jogja, tidak ada korelasi dengan kesejahteraan warga?

Nggak ada. Sama sekali tidak ada. Dan warga juga tidak paham. Saya bisa mengatakan itu karena kasus Miliran yang sudah dibangun 2 tahun dampaknya terasanya sekarang. Artinya dua tahun ke depan baru dirasa dampaknya, harusnya kita bicara 10 tahun. Kalau kita bicara dampak, harusnya itu hitungan tahunan.

Kalau membandingkan hotel yang sebelum dan sesudahnya itu bagaiamana beda masyarakatnya dulu dan sekarang? Dulu seperti apa dan sekarang seperti apa

Kalau dulu, masyarakat agak tidak mengira akan seperti ini, sekarang ini ibaratnya warga itu menolak dalam bisik-bisik. Menolak tapi isone (bisanya)  bisik-bisik. Sama seperti Sultan saat mensuksesi Pembayun, warga tidak setuju tapi tidak bisa bicara. Cuma bisik-bisik. Masyarakat gelisah.

Coba lihat ini (menunjuk Jl. Ipda Tut Harsono, Timoho), Setiap selesai hujan, sudah pasti banjir. saya pernah mencatat dari jam 12 siang sampai jam 2 siang. Mobil plat baru ada 37 buah!  Kalau jam aktif seperti ini jam 5 sore. Ini macet. Mirip Jakarta. Ini dirasakan jelas.

” Izin pembangunan hotel kan cuma sosialisasi, warga menolak atau setuju, hasilnya sama saja. “

Sebelum dan sesudah ada pertumbuhan hotel. Kalau sebelumnya cara hidup ada relasi yang cukup enak, tapi ketika tumbuh kota dengan kemacetan dan hotel tinggi, pola relasi masyarakatnya seperti apa? Ada pergeseran pola relasi masyarakat?

Itu ada. contoh di Miliran sebelah timur Fave 100 meter, ada orang yang masuk penjara. Ada rebutan lahan keamanan, yang hanya 600 ribu sesasi (sebulan). Ada yang apatis. Tapi ada juga yang menolak tapi nggak berani bicara. Menolak dalam gosip, istilahnya. Lebih ke hal yang pragmatis, karena warga nganggur ada lapangan kerja ya ambil saja. Lalu ada intimadasi. Personil tentara dan polisi. Izin pembangunan hotel kan cuma sosialisasi, warga menolak atau setuju, hasilnya sama saja.

Ada yang setuju, ada yang diam, ada yang tidak setuju. Bisa dijelaskan ini mas, polarisasi warga?

Menurut aku, yang setuju itu tidak ada. Cuma kan setuju karena ada alasannya. Makanya aku bahasakan pragmatis. misalnya karena cari keuntungan sendiri. Saya yakin kalau misalnya mereka tahu resiko, itu tak akan terjadi. Tapi menolak juga tidak berani. Saya paham masyarakat Jogja. Yang menggerakkan rakyat  itu kan informasi. Kalau itu tidak ada, ya mereka tidak tahu. Jogja ini tidak pernah krisis air, mereka tidak bereaksi karena itu. Tapi coba kalau dampaknya terjadi gempa, mereka pasti bereaksi. Misalnya, kalau dibangun hotel, nanti gempa, woooo pasti mereka ngamuk, menolak. Tapi kalau krisis air itu susah, mereka nggak percaya.

Kalau dari sisi njenengan, dampak paling substansial dari pembangunan hotel itu dari sisi fisik seperti apa, isi emosional dan sosialnya seperti apa?

Kalau fisik, dampaknya pasti masalah air. Secara sosial akan terkikis. Kita pasti akan seperti Jakarta. Dari segi ekonomi, kebutuhan akan semakin tinggi harganya, sementara penghasilannya tidak sesuai. Karena Jogja ini kan angka penghasilannya tidak besar. Nanti bisa jadi kriminalitas semakin marak di jogja, lihat saja.

Kalau membandingkan, memori apa yang anda rasakan katika kecil dengan sekarang?

Di sini aja (Jalan Timoho) kalau hujan deras 1 jam sudah banjir. Padahal paritnya saja belum penuh. Dulu di sini sawah semua. Nalar kita, kalau sawah, sedikit banyak bisa menimbun air. Sirkulasi air bisa masuk sawah. Sekarang kan bangunan semua. Naiknya harga tanah karena ada bangunan-bangunan baru, menjadi membuat segalanya menjadi mahal. Yang jelas serba mahal, dan pendapatan warga tetap. Kalau jaman kecil dulu di sini banyak air. Sekarang mana ada. jaman cilik banyu tinggal nyiduk, sekarang nggak bisa.

Anda kan dikenal sebagai inisiator Jogja Ora Didoal. Ide awalnya seperti apa?

Jogja Ora didol itu bukan saya. Saya baru gabung tahun 2014. Jogja Ora Didol itu Jamal dan Elanto itu mungkin lebih banyak tahu. Ndilalah saya mudik, sumure asat (sumurnya kering), hotele tak parani (hotelnya saya datangi).  Jogja Ora Didol itu, aku hanya menjadikannya berwarna. Aku cuma bagian kecil. Saat ada masalah dengan hotel, aku angkat Jogja Asat. Kasus hotel ini cuma bagian kecil dari Jogja Ora Didol. Pesan akhirnya sampai. Dengan celetukan seperti itu pesan sampai.

Teman Jogja lebih banyak memulai, setahun dua tahun lebih dulu, bahkan ketika Hariyadi dikirimi banner-banner sampah, itu sudah jalan waktu itu. Di tingkat nasional tidak der (tidak kena). Sejak ada hotel baru kelihatan. Saya pertama menolak hotel, saya membuat Jogja Asat, saya diundang teman-teman, Joyo (Elanto), Jamal, dan aku gabung.  Kalau ibarat kita kapling-kaplingan, aku lebih ngangkat Jogja Asat. Tapi sekarang sudah jadi milik bersama. Harapanku, Jogja Ora Didol ini bisa jadi semacam slogan merdeka atau mati untuk Jogja.  Jadi kalau ada misalnya yang sewot, berarti dia tidak suka dengan Jogja Ora Didol. Itu saja indikasinya. Kalau Hariyadi sewot berarti dia ora cinta Jogja.

” Ya intinya menjadi kota yang partisipatif. Bukan hanya butuh menawarkan, tapi juga membutuhkan masukan.”

Tujuan besarnya Anda memiliki konsepnya pertumbuhan jogja?

Impian Jogja itu seperti aku kecil. Jogja yang santun, Jogja yang tiap panen ada orang membagi sego wiwitan. Ikon-ikon budaya  atau pelajar itu sekarang hilang. Budaya seperti apa? wong bangunan cagar budaya dirusak jadi hotel. Sekolah dan bangunan cagar budaya saja sudah jadi hotel-hotel.  Mungkin nanti saya akan bikin seruan kepada publik ‘Jangan sebut Jogja sebagai kota pelajar’ atau ‘Jangan sebut Jogja sebagai kota budaya’.

Terkait dengan aksi-aksi ini, di Fave dengan mandi tanah, dan di balaikota Yogyakarta mandi air tujuh sumur, apa yang anda pikirkan waktu itu?

Itu 7 sumur Miliran. Sumur Lawas Jogja di Watu Putih. Ada dari Sleman dan kampung-kampung lainnya, yang juga kena apartemen. Kembangnya 7 rupa karena filosofi Jawa kan 7 itu pitu. Pitulungan. Itu aku dapatnya dari mimpi. Aku tanya ibuku, ruwatan itu bagus tidak. Dan kebetulan itu pas Jumat Kliwon. Dan dua aksi itu punya dua isu yang sama. Beda sedikit saja. Kalau yang pertama urusannya teritorial di Miliran, yang kedua lebih umum.

Nah terkait dengan air dan teaktrikal itu, dalam bacaan Anda kondisi-kondisi apa yang dirasakan masyarakat? Apakah itu aksi itu refleksi Anda atau bagian dari refleksi warga?

Kalau aku bisa menggerakkan masyarakat Jogja dengan masa ribuan, aku tak perlu aksi-aksi seperti itu. Ini bagian dari mengingatkan. Kenapa saya (bikin aksi) tidak lebih dari 15 menit, karena saya bukan seniman. Media itu hanya butuh view. Intinya sebenarnya cuma mandi. Dijuduli saja ruwatan, air, Jumat Kliwon, gentong, itu bisa menarik media. Bayangkan kalau itu dilakukan 100 orang dalam 100 hari. Lha kalau membuat aksi seperti seniman tapi yang nonton juga seniman lha untuk apa?

Dengan jorjoran hotel atau apartemen ini bagaimana dampaknya ke depan dalam jangka panjang?

Kalau ini tidak dibendung, saya khawatir 20-30 tahun ke depan Jogja akan seperti Hong Kong. Dengan padat penduduk, tiap tahun tambah tapi belum tentu kurang. Ada yang lulus kuliah tapi kerja dan nikah di sini.

Bagaimana gerak Warga Berdaya hari ini?

Itu berproses. Kami ini bergerak di kampung masing-masing. Ada teman-teman Gondolayu, bersama teman-teman seperti Mas Jamal, Mas Joyo, Walhi dsb. Spiritnya ya warga berdaya. Jadi ketemu di satu isu. Karena posisinya ini kumpulan orang yang peduli Jogja, akademisi, aktivis, seniman, warga yang mencoba men-support. Dan menjahit apa yang terjadi di jogja. Saya beberapa kali ketemu warga Kulonprogo dsb, itu masalahnya sama. Ini sebenarnya bisa saja selesai kalau misalnya Sultan berani teriak menyelesaikan masalah. “Leren”. Rampung, nggak usah sebagai gubernur, tapi sebagai sultan.

Menurut anda, bagaimana prinsip membangun kota yang manusiawi itu?

Prinsip pembangunan kota yang nawarke warga. Misal aku jadi walikota. Aku mungkin tidak tahu apa-apa. Tapi aku bisa mengumpulkan ahli-ahli arsitek, lingkungan. Lalu setelah ada desainnya, aku tawarkan ke warga untuk didiskusikan. Lebih seperti fasilitator. Bukan pembicara. Ya intinya menjadi kota yang partisipatif. Bukan hanya butuh menawarkan, tapi juga membutuhkan masukan.

” Jogja ini kan rawan gempa, kok malah mau bikin hunian vertikal, membangun hotel, itu otaknya di mana? “

Hari ini kita merasakan Jogja yang seperti ini, kalau tadi dari prinsip membangun kota yang partisipatif, itu bentuk kotanya seperti apa?

Bentuk kota yang melakukan pembangunan tanpa meninggalkan sejarah budaya, dan kearifan lokal. Misalnya, kalau saya ditanya saya nolak hotel. Saya akan bilang Jogja itu hanya butuh homestay. Satu RT berapa, yang luas 1 kamar, dua kamar, butuh membangun APBD bisa diturunkan. Saya tidak anti pembangunan. Tapi mbok ya dipikir. Jogja ini kan rawan gempa, kok malah mau bikin hunian vertikal, membangun hotel, itu otaknya di mana?

Jogja ini bukan kota besar. Tapi memposisikan seolah seperti kota besar. Kayak Jakarta, Bandung, Surabaya. Jelas beda. Yang lain ngomong upah buruh, disini bicara lain. Ini bukan kota industri. Ini kota pelajar, kota budaya. Maka pembangunannya jangan disamakan dengan kota-kota besar lainnya itu. Nanti pasti ada yang akan dikorbankan. Orang yang sudah nyaman, misalnya petani, bisa hidup teratur, sekarang terganggu air habis, gimana dong?

Kalau misalnya dihitung, Warga Berdaya itu sudah ada berapa orang?

Ini lebih ke spirit. Mungkin orangnya cuma sekitar 20-an orang. Saya belajar dari teman-teman NGO yang sering mencabut warga dari akar. Itu saya hindari dari awal. Mereka bergerak di kampung masing-masing dan saya support, kita menjahit itu, kita menyambungkan itu, karena ini ada yang hampir dan sudah merasakan dampak dari pembangunan Jogja.

Apa yang ingin anda serukan kepada negara dalam hal ini konteks kota Jogja tentang Jogja hari ini.

Seruannya ya, Jogja Ora Didol! Itu saja. [*]

(Visited 200 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+1Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*