satunamasatunamasatunama

Bincang-bincang : Mangun Wijaryo, Tokoh Spiritual PEBM

Menunggu Demokrasi Indonesia Yang Substantif

DSC_0135 (Medium)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Sejarah agama-agama lokal terus berlangsung. Ada ratusan bahkan ribuan jenis agama lokal yang ada di nusantara, Ia tumbuh, hilang, berganti, dan tumbuh lagi. Namun agama-agama lokal tersebut hingga kini tidak mendapat pengakuan dari negara. Mereka, yang kemudian oleh negara disebut sebagai penghayat kepercayaan, mengalami proses diskriminasi oleh negara. Mulai dari hal-hal yang sifatnya administratif kenegaraan hingga pelarangan ekspresi keagamaan di depan publik. Para penghayat kini dalam posisi menunggu. Menunggu negara untuk benar-benar bertindak demokratis dalam arti yang sesungguhnya: memberikan kebebasan berekspresi kepada segenap warga penghayat untuk menentukan dan memeluk kepercayaannya secara merdeka.

Jurnalis Media SATNAMA.org, berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah satu tokoh penghayat kepercayaan Persatuan Eklasing Budi Murka (PEBM) di Kulonprogo, Mangun Wijaryo, di sela-sela rembug desa dalam rangka penyuwunan Buku Sejarah Desa Salamrejo, Kulonprogo. Berikut beberapa petikan wawancara yang dilakukan oleh Ryan Sugiarto dan Ariwan K. Perdana.

Pak Mangun, bisa dijelaskan bagaimana sejarah dan awal mula PEBM, dan seperti apa PEBM itu?

PEBM singkaan dari Persatuan Eklasing Budi Murko. Dari paguyuban, kini menjadi besar, maka disebut persatuan. Ini adalah ajaran spiritual kejawen intisarinya adalah tata cara kehidupan bermasyarakat, segi kehidupan, berketuhanan, menggali kebudayaan dari tinggalan nenek moyang. Belajar dari olahan jamu-jamu tradisional, tumbuhan daun, akar untuk kesehatan badan sendiri dan masyarakat. Intisarinya adalah membesarkan rasa ketuhanan, menumbuhkan kemanusiaan, dan gotong royong. PEBM ini Berdiri tahun 1926 masehi. Pendirinya adalah Kaki Mangun Wijaya, yang berada di Krapyak, Bantul.

Boleh ceritakan tentang Ki Mangun Wijaya?

Dia dulunya masinis. Dia kecewa dengan pribumi yang dekat dengan Balanda yang ngapusi sesamanya. Kok bongsoku tegel karo bangsane dewe. Dia lalu bertapa di Gunung Arjuna, lalu mendapat petunjuk dari sang pencipta bahwa dia supaya mendirikan paguyuban, ada bayangan berjalan yang dia lihat dan suara ‘eklasno budi murkamu’ yang dia dengar. Dicetuskan pada 1 suro dan lama-lama makin banyak pengikutnya. 1 Suro ini sudah kita sepakati menjadi hari besar Penghayat seluruh Indonesia.

Bisa dirinci pak, persatuan yang dimaksud itu seperti apa? eklasing seperti apa, budi, dan murka seperti apa?

Persatuan adalah kesamaan tujuan. Jadi bersama-sama bersatu tujuan dan bersama untuk ketentuan yang sudah disusun perintis dalam AD/ART. Sama-sama bersedia, mengakui, dan melaksanakan. Sebelum kemerdekaan, ada 3 hal yang jadi pegangan. Ketuhanan, kemanusiaan, dan gotong royong. Kemudian dibahas lagi tahun 1970 dengan mengikutsertakan UUD 45, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Kemudian Budi adalah gerak. Eklasing adalah mengiklaskan. Rela. Murko adalah hawa nafsu yang tidak terkendali. Jadi Persatuan Eklasing Budi Morko adalah persatuan orang-orang yang mau mengiklaskan kepentingan diri sendiri dan bergerak melepaskan hawa nafsunya.

Di wilayah ketuhanan prinsip dasarnya seperti apa?

Dalam segi ketuhanan prinsip utama adalah manusia mengolah rasa dan mendekatkan diri kepada pencipta, dijalankan secara rutin dengan semedi.

Semedi itu apakah ritus ibadah yang dijalankan?

Iya.

Bagaimana semedi ini dilakukan?

Ya seperti orang Jawa pada umumnya. Bersila, tangan di depan. Hening menyatukan unsur yang da di dalam diri kita untuk menyongsung Tuhan. Hasilnya kita bisa mendapatkan petunjuk dari Tuhan

Tahapan melakukannya bagaimana?

Tubuh harus bersih dulu. Jiwa juga harus bersih. Karena yang berhubungan dengan Tuhan adalah jiwa. Setelah jam 12 malam mengadakan ritual semedi. Kurang lebih sekitar jam itu, tapi melihat suasana, andaikata ada kewajiban lain, bisa kita jalankan lebih malam. Siang juga bisa, tapi siang kan untuk kerja kehidupan. Tapi sebenarnya hubungan antara manusia dan Tuhan itu siang malam tidak boleh berhenti.

Bagaimana penghayat PEBM membaca Tuhan?

Tuhan itu tidak bisa dilihat, diraba, didengar. Kita menelusuri Tuhan dengan rasa kita. Rasa adalah alat kehidupan manusia. Maka penghayat berhubungan dengan sang maha halus, dengan alat yang juga halus, yaitu dengan rasa kita, kepada yang maha tunggal.

“Tuhan itu tidak bisa dilihat, diraba, didengar.Kita menelusuri Tuhan dengan rasa kita. Rasa adalah alat kehidupan manusia.”

Salah satu hal penting yang diajarkan di PEBM adalah tentang organ tubuh. Bagaimana pandangan PEBM tentang tubuh?

Tubuh kita terdiri dari sel-sel yang berkuasa di situ di masing-masing bagian. Di PEBM itu ada 40 macam. Itu juga untuk menuntun kita memahami Tuhan.

Kalau di Islam ada Al Quran atau Injil di Kristen dan seterusnya, kalau di PEBM bagaimana pedoman perilaku yang digunakan?

Kalau di PEBM ajaran kita memang tidak ditulis sejak awal, dan disarankan memang tidak ditulis, agar tidak dicuri orang lain. Ciptaan Tuhan yang ada di dalam diri kita kan bisa dibaca sendiri. Nanti kalau ditulis akan ditafsirkan berbeda-beda. Ini yang tidak diinginkan oleh pendiri. Jadi yang jadi dasar adalah kepribadian diri dan alam semesta.

Lalu bagaimana cara untuk menurunkannya ke generasi muda?

Itu pakai baiatan. Dia masuk, lalu dibaiat, diberi keterangan tentang aturan-aturan PEBM. Aturan dalam organisasi ada, sekilas dalam menjalankan ajaran juga ada. Itu dwifungsi. Ini suatu arahan, tapi bukan kitab.

Apakah aturan AD-ART ini ada sejak Kaki Mangun Wijaya atau dikembangkan oleh pengikutnya?

Yang jelas dari pendirinya yang diajarkan adalah yang tiga hal sudah disebutkan tadi itu. Menghidupkan ketuhanan, kemanusiaan dan gotong royong. Kemudian setelah itu dikembangkan oleh generasi setelahnya.

Di Nusantara ada banyak agama dan kepercayaan lokal, bahkan di Jawa kalau disimak ada ratusan agama lokal. Ajaran apa dari PEBM yang dianggap menonjol dibandingkan kelompok penghayat yang lain?

Kita menjalankannya dengan rasa. Merasakan. Yang menjalankan kita, yang menyeleksi dalam diri kita, juga kita sendiri. Dengan pedoman begitu, diri kita punya kepribadian. Misalnya dalam hati kita ini sebenarnya tidak mau diajak ribut. Meski mungkin beda di mulut. Hati tidak bisa berbohong, meski mulut mungkin bisa.

Kemudian ini soal sosial. Bagaimana PEBM memandang hal ini dan bagaimana dengan masyarakat di luar PEBM?

Itu sudah jelas sesuai ajaran sesepuh. Dengan masyarakat luar ya juga berdasarkan ajaran yang tiga itu. Wajib menolong orang yang susah, yang meninggal, yang sakit dan sebagainya tanpa memandang ras, agama, suku dan latar belakang. Karena semua adalah makhluk Tuhan. Terkait dengan orang di luar PEBM, tidak ada masalah, karena kita sudah menyatu dalam segala segi kehidupan. Di sini tidak ada ormas kaku. Nasrani, Islam, penghayat bisa menyatu. Memayu Hayuning Bawono.

Hingga hari ini persebaran PEBM telah menjangkau daerah mana saja?

Ada di Sorong, Bayuwangi, Tulungagung, Klaten, Boyolali, Yogyakarta, Kulonprogo, itu yang besar-besar. Lainnya tersebar di Mamuju, Jambi, Lampung dsb. Jumlahnya kurang lebih 8000 orang. paling banyak di Boyolali. Karena di Boyolali, dulu tokoh tokoh pentingnya adalah PEBM otomatis rakyatnya kemudian mengikuti. Banyak yang tidak diminta, dia berminat masuk ke PEBM. Di Kulonrpogo cuma sekitar 200an karena waktu ada G30 S kita berhenti. Tidak ada regenerasi baru. Baru ada lagi sekitar 1970an.

Yang di luar Jawa itu apakah karena orang-orang Jawa yang migrasi ke sana atau orang sana, dan apakah pernah mengalami konflik dengan masyarakat?

Ada orang Jawa ada orang luar Jawa yang ingin tahu tentang PEBM kemudian masuk. Kalau di Salamrejo relatif baik. Menurut laporan dari cabang lain, belum ada laporan bahwa mereka diganggu oleh kelompok lain. Jadi semua damai. Karena PEBM memang menginginkan kedamaian. Kalau ada masalah, tidak perlu gontok-gontokan. Kita duduk bersama dengan berdiskusi mencari solusi.

Bagaimana perlakuan dan reaksi masyarakat di luar PEBM terhadap penghayat PEBM dalam hal ketuhanan?

Kalau dibilang musyrik dsb itu kami tidak masalah. Itu kan karena mereka tidak tahu, dan tidak ingin tahu dan mungkin mengira dirinyalah yang paling benar. Tapi kita tak bisa menghakimi orang lain. karena kita berhubungan dengan Tuhan. Kafir atau tidak, itu hanya Tuhan yang tahu.

Sejak didirikan pada tahun 1926 hingga kini, bagaimana perkembangan PEBM di Indonesia?

Sebelum merdeka, PEBM lebih banyak pengikutnya. Waktu itu pemahaman tentang agama kan belum seperti sekarang. Di desa-desa belum banyak yang paham tentang agama-agama yang sekarang ada. Setelah G 30 S baru ada gejolak yang luar biasa. Orang berkumpul lebih dari 2 orang kan tidak boleh. Itu jadi maslah bagi orang-orang seperti misalnya penganut kebatinan. Warga negara Indonesia saat itu diharuskan memilih salah satu agama yang ditentukan. Maka otomatis kita jadi takut.

Bagaimana cara mengajarkan atau memperluas kepercayaan terhadap orang di luar PEBM, apakah di PEBM terdapat semacam jalan dakwah atau bagaimana mengembangkan para penghayatnya

Karena ada AD/ART maka yang bisa masuk PEBM adalah yang dewasa pemikirannya. Dan kita tidak akan mengajarkan kepada orang lain jika dia tidak tertarik dengan PEBM. PEBM itu memang bukan agama. Ini kepercayaan asli Nusantara. Pintu masuknya seseorang ya melalui baiat.

Bagaimana proses pendidikan yang ditempuh di internal PEBM?

Kami memberikan suatu pengertian tentang kepribadian. Kalau sudah tahu tentang pribadi kita, baru kita akan tahu tentang Ketuhanan. Jadi mohon maaf kalau dengan agama itu memang agak beda. Kalau di agama kan mereka belum tahu apa-apa waktu masih kecil. Itu nanti kalau sudah dewasa dia bisa jenuh dan meninggalkan begitu saja. Kalau orang penghayat, kita belajar dulu baru menjalankan. Seperti orang belajar berjalan itulah. Kalau ada anggota keluarga atau anak yang masih kecil, mungkin dia belum tahu. Mungkin ajarannya belum tahu. Tapi praktiknya tahu. Misalnya semedi sujud agung itu. Mereka tahu tata caranya karena kerapkali mereka melihat orang tuanya menjalankan itu.

Di PEBM apakah ada semacam kiai, yang kemudian menjadi tokoh untuk belajar agama?

Ada. Sebutannya Kepolo Wargo, kemudian ada Panitera Kasepuhan. Ini dalam tatanan Jawa dikatakan Wargo Pangarso. Kemudian ada lagi Wargo Panuntun lalu ada warga biasa atau anggota.

Bagaimana ekspresi keagamaan yang dilakukan ketika memperingati hari-hari besar PEBM?

PEBM punya satu hari besar yaitu Bulan Suro. Kita rayakan pada tanggal 1 Suro malam. Tanggal 1 itu dipakai untuk mendekatkan diri pada Tuhan lalu baru bersyukur dengan jalan kebudayaan. Caranya dengan Sujud Agung di tanggal 1 itu. Tempatnya bisa di rumah warga PEBM. Kalau nanti ada wayang dan sebagainya itu, bisa meminjam tempat seperti balai desa.

Tidak ada tempat ibadah yang tetap?

Sebenarnya ingin punya, tapi tidak ada dukungan dari internal terutama di urusan ekonomi dan SDM.

Hari ini kan negara menempatkan PEBM sebagai penghayat, ada keinginan untuk diakui sebagai agama resmi, pak?

PEBM fokusnya bukan lahiriah tapi batiniah. Bagi kami, kalau menuntut sesuatu, itu juga karena hak. Kalau memang dari atas jalannya lebar, di bawah juga harus lebar. Jadi kalau memang demokrasi itu ditegakkan ya ikhlaskanlah agama apapun hidup di negara ini. Bahkan jika demokrasi benar-benar dijalankan, orang tidak beragama juga harusnya diizinkan.

Apakah artinya PEBM ingin diformalkan sebagai agama resmi di Indonesia?

Iya. Tapi sekarang masih kaku. Kita jalan langkah demi langkah. Kalau kita berjalan dan ada ruang yang lebar ya kita akan masuk. Kalau di Kulonprogo, misalnya sudah relatif berjalan baik, tapi di daerah lain belum berjalan baik, kan rancu.

Pernah hal ini diajukan ke pemerintah? Misalnya diobrolkan dengan kepala desa?

Belum pernah. Kita sejak dulu bukan sebuah ormas. Kita jadi tidak bisa gerak ke situ. Pemerintah belum memikirkan hal-hal yang berkepentingan dengan kelompok macam kami. Jadi misalnya sanggar atau padepokan dan praktik ibadahnya. Ini mengacu pada sesepuh di desa masing-masing. Padepokan ini semacam tempat ibadah dan menimba ilmu. Sebetulnya ada keinginan untuk membangun padepokan sendiri. Seandainya ada yang memberi tanah misalnya 500 meter, kita akan berani bicara.

Jika pemerintah mendukung, keamanan pasti terjaga. PEBM punya kemampuan obat-obatan. Tapi kami bukan dukun. Metodenya, kita mohon pada sang pecipta, semacam semedi dan doa yang  kemudian disalurkan kepada orang yang sakit. Kalau Tuhan mengizinkan ya akan sembuh. Manusia itu cuma perantara. Tuhan yang menyembuhkan.

Bicara soal lain, bagaimana soal administrasi kependudukan, apakah menjumpai persoalan yang mengganggu terkait urusan-urusan administrasi kependudukan?

Di KTP kita rata-rata dituliskan agama formal. Hari ini di Kulonprogo sudah ada sebagian PEBM yang KTPnya kosong. Tapi saya sendiri pakai agama Islam karena ini urusannya dengan anak saya ketika mereka belum nikah. Setelah sekarang mereka sudah nikah ya saya mungkin akan menjadikan KTP saya kosong. Dari PEBM sebenernya kami ingin bisa keyakinan kami ditulis di KTP. Tapi kami tak ingin ada masalah dalam prosesnya.

“Sebenernya kami ingin keyakinan kami bisa ditulis di KTP. Tapi kami tak ingin ada masalah dalam prosesnya.”

Apakah ada upaya yang dilakukan  itu ke situ atau hanya menunggu?

Kita menunggu. Dari pusat dan Jakarta. Jika mereka sudah menyatakan siap, ya kita akan jalan. Tapi kalau mereka masih setengah-setengah, ya kita bagaimana mau jalan?

Tidak adakah keinginan dari warga PEBM sendiri misalnya untuk jadi Kades?

PEBM sejak awal tidak pernah bersinggungan dengan pemerintah. Pemerintah selama ini tidak pernah memikirkan. Sementara kami kalau mau menjadi Kades, terbentur SDM. Kita juga khawatir jika berkiprah jadi birokrat nanti jiwanya malah jadi tercemar.

Apa harapan kepada pemerintah dan warga sekitar?

Kita sebagai warga yang punya hak, semoga hak kita ini juga diperhatikan. Kepada lingkungan sekitar, kita memikirkan tentang kepentingan bersama. Kita ciptakan suasana yang damai tentram, membantu pemerintah menjaga keamanan. Jadi harusnya kita bersama-sama menghayati ajaran masing-masing. Kalau dalam Islam istilahnya Lakum dinukum waliyadin. Sehingga tidak perlu ada keretakan-keretakan dalam masyarakat. []

(Visited 106 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*