satunamasatunamasatunama

Mangun Wijaryo (PEBM)

Menemukan Tuhan Dalam Kepribadian

DSC_0135 (Medium)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Sosoknya tenang dan bersahabat. Pria bernama Mangun Wijaryo yang lahir 64 tahun lalu ini adalah sesepuh komunitas penghayat kepercayaan Persatuan Eklasing Budi Murko (PEBM) di Kulonprogo, Yogyakarta.  Sebagai Kepolo Wargo atau sesepuh dalam komunitas PEBM, Mangun Wijaryo adalah sumber pengetahuan tentang sejarah, ajaran, dan keyakinan PEBM bagi para penganutnya. Hingga saat ini dia menjalani kehidupan sebagai penganut PEBM yang diyakininya sebagai sebuah ajaran yang mendasarkan pada kepribadian manusia dan olah rasa kepada Tuhan.

PEBM didirikan oleh Kaki Mangun Wijaya pada tahun 1926 memang mengajarkan tata cara kehidupan bermasyarakat, berketuhanan, menggali kebudayaan dari tinggalan nenek moyang. Mereka memiliki cara bersemedi dalam menjalankan praktik ritual ibadahnya. Saat ini, Mangun Wijaryo merupakan penasehat spiritual bagi penghayat PEBM. Ia memimpin setiap pelaksanaan ibadah Sujud Agung, Semedi bersama warga penghayat PEBM di wilayah Kulonprogo yang lumrahnya dilakukan pada malam hari.

Sesuai ajaran yang diyakini dalam PEBM, Mangun Wijaryo mengembangkan tata cara kehidupan yang penuh semangat kebersamaan dalam hidup bermasyarakat. Beliau tidak ragu-ragu menolong orang lain dan memganggap semua orang pada dasarnya adalah ciptaan Tuhan yang harus dihargai tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan semacamnya.

“Untuk menemukan Tuhan, kamu harus membuka pribadimu.”

Tahun 1986 merupakan momen penting bagi Mangun Wiyarjo. Saat itu usianya 34 tahun, ketika ia mulai tergerak untuk bergabung dengan PEBM. Kegelisahannya dalam mencari Tuhan bermuara pada PEBM. Sang ayah menjadi sosok yang menuntun Mangun untuk menemukan Tuhannya. “Untuk menemukan Tuhan, kamu harus membuka pribadimu,” kata Mangun menirukan Ayahnya ketika itu. Mangun kemudian melakukan laku prihatin dengan puasa 40 hari hingga akhirnya menemukan mantab untuk masuk dan menjadi penghayat PEBM. “Proses menemukan Tuhan memang tidak bisa sebentar” tuturnya.  Dia mengaku bahwa apa yang dia cari telah dia dapatkan di PEBM.

Seperti juga kebanyakan penghayat kepercayaan lainnya, Mangun Wijaryo juga mengalami berbagai hal yang menjadikannya seperti warga negara yang berbeda dibandingkan warga negara lainnya, hanya karena identitas keyakinannya. Dalam hidup keseharian Mangun beternak sapi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ayah dari 3 anak ini memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan pilihan agama atau kepercayaannya. “Urusan masa depan menjadi pertimbangan utama untuk mau tidak mau memilih salah satu agama resmi yang diakui pemerintah, mereka  anaknya tidak mendapat kesulitan dalam menjalani kehidupannya,” lanjut Mangun.

Sebagai pemuka dalam kepercayaan PEBM, Mangun Wijaryo memiliki falsafah hidup yang sederhana, yaitu membentuk suatu kehidupan keluarga yang aman tentram damai serta bertetangga secara harmonis. Tidak menyakiti orang lain saling asah asih dan asuh. Dia juga ingin menentramkan lingkungannya. Tidak ingin ada keributan serta saling membantu sesama pemeluk keyakinan. Sebuah pandangan hidup yang bisa dijadikan patokan setiap orang dalam menjalankan perannya, sebagai apapun, dalam kehidupan bermasyarakat. []

Penulis : Ariwan K Perdana

(Visited 152 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*