satunamasatunamasatunama

Lokakarya Nasional Demokrasi, Oligarki & Perempuan

Perempuan Mulai Berpartisipasi dalam Demokrasi Lokal

IMGP0451
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Proyek kerjasama antara SATUNAMA dengan UNDEF melalui program “Hak Asasi Manusia dan Aliansi Penguatan Para Aktor Demokrasi untuk Memperkuat Demokrasi di Indonesia” telah berakhir dengan  diadakannya Workshop Nasional yang bertemakan “Demokrasi, Oligarkhi & Perempuan : Peran CSO, Pemerintah-Legislatif & Media dalam Memperkuat Perempuan dalam Demokrasi Lokal”, bertempat di Kampus Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atmajaya Yogyakarta, pada Selasa, (12/5).

Agenda ini dibuka dengan sambutan dari FX. Bima Adimoleya, Direktur SATUNAMA. Dilanjutkan oleh pemaparan hasil laporan dua tahun pelaksaanan program di tiga wilayah, yaitu Nagan Raya, Aceh Barat Selatan; Kubu Raya, Kalimantan Barat; dan Merauke, Papua Selatan.

IMGP0455

William E. Aipipidely memberikan paparannya tentang hasil kerja program penguatan demokrasi lokal pada Lokakarya Nasional Demokrasi Oligarki dan Perempuan di Kampus FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Selasa (12/5). [Foto: Sugiyanto/SATUNAMA]

Dalam pemaparan yang diberikan oleh William E. Aipipidely, selaku koordinator nasional proyek SATUNAMA-UNDEF, terdapat gambaran potret demokrasi di tiga wilayah proyek sebelum penetrasi program dimulai. Menurut Willy, potret demokrasi lokal di Kabupaten Kubu Raya tidak dapat dilepaskan dari kuatnya politik identitas (etnis) dan fenomena orang kuat.

Lain halnya dengan di Kabupaten Merauke, OMS harus berhadapan dengan pemerintah yang berselingkuh dengan koporasi dan berhadapan dengan sistem adat, yang tidak menjadikan tanah subur bagi partisipasi demokrasi warga khususnya kaum perempuan. Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, politik kekerabatan (oligarki) sangat mempengaruhi dinamika politik dan potret demokrasi di kabupaten ini.

“Ini tantangan-tantangan yang kami hadapi pada awal-awal berjalannya proyek. Dan bukan sesuatu yang mudah menghadapi tantangan-tantangan tersebut.” Tutur Willy dalam paparannya.

Namun setelah dua tahun penetrasi program, terobosan-terobosan praksis demokrasi lokal telah memberikan titik-titik harapan baru. Partisipasi publik dan kontrol terhadap praktek jalannya pemerintahan lokal berjalan dengan daya yang cukup. Aktor masyarakat sipil dengan perempuan sebagai roh pendobrak telah menghasilkan paparan-paparan baru dan pemilik-pemilik kuasa lokal mulai memberikan ruang partisipasi publik kepada perempuan.

Beberapa narasumber juga diundang dalam workshop ini, salah satunya adalah Wasingatu Zakiyah, direktur IDEA, yang memberikan tanggapan atas pemaparan hasil kerja SATUNAMA-UNDEF dari sisi posisi perempuan dalam demokrasi, bahwa dalam pelaksanaan proses demokrasi masih terjadi lapis diskriminasi terhadap perempuan, perempuan masih dianggap sebagai kelompok kelas dua.

“Sangat penting adanya dukungan dari laki-laki maupun kelompok-kelompok tertentu yang bisa membuat perempuan naik kelas.” kata Zakiyah.

Dalam agenda lokakarya ini juga diluncurkan buku lesson learnt proyek yang berjudul sama dengan tema lokakarya. Buku yang disusun oleh tim proyek ini menceritakan perjalanan proyek selama dua tahun sekaligus menjadi sarana berbagi dari staf regional mengenai kerja-kerja mereka.

Kegiatan ditutup dengan dilakukannya Focus Group Discussion (FGD) oleh tim dan staf regional yang membahas mengenai hal-hal yang selama dua tahun belum selesai dilakukan dan strategi apa yang bisa dilakukan agar semangat untuk menyelesaikan proyek ini tidak luntur.

Penulis: Yulita Rossy
Editor: Ariwan K. Perdana

(Visited 80 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*