Kartini dan Gerak Zaman

Opini
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook2Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Sosok Kartini erat kaitannya dengan kata emansipasi atau pembebasan bagi perempuan untuk merdeka. Kisahnya selalu diingat setiap tanggal 21 April. Kartini pada setiap tahunnya dicirikan dengan kebaya, padahal Kartini lebih dari itu. Kartini adalah semangat dan cerita tentang tantangan peradaban pada perempuan.

Kartini lahir pada 21 April 1879. Ia lahir dari pasangan Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara dan M.A Ngasirah. Ia lahir dari kalangan priayi terdidik. Kakek dan ayahnya berpikiran maju. Kakaknya, Sosrokartono pun adalah sosok jenius yang fasih berbicara dalam banyak bahasa dan berkeliling Eropa pada masa 1900-an. Pada masanya, Kartini dihadapkan pada kondisi yang tak mudah sebagai perempuan. Diskriminasi, peminggiran hingga pemiskinan adalah wajah perempuan. Ia melihat banyak ketidakadilan terutama dalam konteks poligami, perempuan tak memiliki posisi tawar ketika harus dikawinkan dan menjadi istri.

Di sisi lain Kartini melihat bahwa perempuan tidak mendapat pendidikan yang baik dibandingkan laki-laki. Maka ia berinisiatif membuka sekolah bagi perempuan. Sebuah inisiatif yang melampaui zamannya. Tujuannya agar perempuan tidak hanya bekerja dalam ranah domestik tetapi juga bisa mengakses jalan kehidupan yang lebih baik.

Setelah hampir lebih dari satu abad Kartini lahir, sumbangsihnya banyak menginspirasi perempuan-perempuan nusantara. Tulisannya kepada Stella dan Nyonya Abendon, seorang sahabat sekaligus ibu baginya, telah membawa namanya tersohor hingga saat ini. Pesan-pesan Kartini masih terus berproses, bertransformasi dan bergerak sesuai iringan zaman. Mimpinya tentang perempuan mengakses pendidikan dan tampil pada wilayah publik sebagian telah terpenuhi. Namun, mimpi Kartini yang lain tentu belum sepenuhnya terjadi.

Dalam tulisannya, Kartini nampak menyoroti dua arena perjuangan perempuan, yaitu  wilayah agama dan budaya. Dua komponen inilah yang menjadi ruang leluasabagi patriarki untuk bergerak dan merugikan perempuan. Patriarki adalah budaya yang memberikan ruang dominan kepada laki-laki dan merugikan perempuan. Teks dan tafsir atas perempuan pada kedua arena tersebut hampir sepenuhnya dikuasai patriarkhi. Sehingga kemudian, teks dan tafsir cenderung mempersempit ruang gerak perempuan.

Sebagai contoh, persoalan poligami pada zaman Kartini hingga saat ini cenderung sama. Bukan dari segi jumlah, tetapi wacana dan cara tindak yang muncul atas tafsir poligami tak pernah berubah. Jumlah laki-laki yang melakukan poligami memang tak banyak, tetapi poligami pada zaman ini justru bisa terbungkus rapi dalam bentuk perselingkuhan, yang berujung atas kekerasan dalam rumah tangga. Ini menandakan bahwa teks agama cenderung tak ada perubahan tafsir sebagai upaya pembaharuan atas nilai-nilai agama yang merugikan perempuan.

Dalam praktik budaya, persoalan perempuan juga tak kalah menantang. Hal ini terlihat dari banyaknya peraturan daerah (perda) yang diskriminatif mengatur tubuh perempuan, dalil moralitas menjaga kesopanan, hingga hukuman atas dasar seksualitas perempuan. Merujuk catatan dari Komnas Perempuan, sekitar 365 perda diskriminatif perempuan lahir di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini menggambarkan bahwa praktek diskriminasi perempuan dalam arena budaya, justru makin terlembaga dalam kebijakan. Sementara gerakan perempuan, tak sepenuhnya memiliki energi untuk bergerak melawan paham konservatisme berbasis agama yang melegitimasi pemikirannya melalui kebijakan.

Dua ranah, agama dan budaya, adalah arena yang mau tidak mau harus segera ditafsirkan ulang agar tidak merugikan perempuan. Bentuk wacana tandingan, atas teks dan bergerak sesuai konteks sosial perlu dilakukan. Dan cara yang paling jitu untuk melakukan itu justru  sudah dilakukan oleh Kartini berpuluh tahun lalu. Ia bergerak dengan cara berpikir, membaca, menulis dan kemudian bertindak. Dari sanalah kita seharusnya paham, bahwa Kartini menjadi istimewa, bukan karena kebayanya, tetapi cara ia mampu memformulasikan cara jitu untuk ditiru oleh perempuan yang berjuang untuk memperoleh pembebasan sesuai zamannya. []

Any_2_editAny Sundari
Tim Riset Perempuan dan Politik
Staf Departemen Politik, Demokrasi dan Desa
Yayasan SATUNAMA

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 134 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook2Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*