Anak Unyu Dengan Segudang Kiprah Seru

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Ruri Edit
Ruri Putri Kriswanto [Foto: istimewa]
Mungkin tak banyak yang mengulas kiprah seorang anak atau remaja perempuan yang membawa kemanfaatan bagi masyarakat di sekitarnya. Padahal dunia anak-anak adalah dunia yang luwes untuk membangun pondasi diri, belajar dan berkembang. Kesadaran untuk mencari dan mengenali jati diri serta lingkungannya bisa tumbuh di masa anak-anak agar seseorang dapat bergerak dewasa dengan terus  membawa anasir-anasir positif dalam hidupnya.

Proses itulah yang kini sedang dijalani oleh Ruri Putri Kriswanto -begitulah orang tuanya memberi ‘tetenger’ pada dirinya- seorang anak perempuan kelahiran Klaten, 24 Februari 1998. Berangkat dari kepeduliannya terhadap anak-anak, Ruri pun banyak menghabiskan waktunya berkiprah dalam isu tersebut, selain tentunya juga sibuk di bangku sekolah. Baginya, hidup ini harus seimbang. Sekolah iya, berkegiatan juga iya .

Ruri adalah salah satu pengurus Perpustakaan KOPER, di Desa Kadilajo, Klaten, Jawa Tengah. Membuat perpustakaan memang menjadi salah satu cita-citanya sejak lama. “Kartini saja bisa menulis dan senang membaca saat masih remaja, kenapa kita tidak?” ujarnya menyebut salah satu motivasinya membuat perpustakaan yang terinspirasi dari salah satu kisah baik Kartini yang bisa ditirunya.

Setelah sempat masuk dalam nominasi ajang Duta Anak Klaten tahun 2011, Ruri kemudian membuat sebuah tulisan tentang rencana membuat perpustakaan di desanya. Dia bersama teman-teman sebaya di Desa Kadilajo kemudian mencoba mengumpulkan buku-buku bacaan bekas lewat dukungan buku dari SATUNAMA dan jaringannya, baik kelompok maupun perseorangan.

Ruri terbilang getol dalam belajar dan bergabung dengan beberapa kegiatan sosial untuk mengasah kecerdasan dan keberaniannya. Dia pernah bergabung dalam Forum Anak di Klaten sebagai Koordinator Divisi Perlindungan Anak. Saat ini pun dia menjadi pengurus Forum Anak Karangnongko Cilik (KANCIL) di Kecamatan Karangnongko, Klaten. Sementara untuk mengakomodir hobi menulisnya, dia bergabung dan menjadi pengurus juga di Kelompok Menulis Anak Klaten (KOMPAK).

Kesenangannya dalam belajar tentang dunia anak menghantarkannya peduli dengan korban-korban kekerasan anak, terlebih terhadap korban kekerasan seksual. Tak hanya melihat dan mengamati, Ruri bahkan ikut terjun  terlibat dalam penanganan kasus dari sisi pendampingan. Menemani korban belajar saat mempersiapkan ujian, melaporkan kasus ke Pos Pelayanan Terpadu (PPT) di kota asalnya, dan menjadi pendengar yang baik ketika ada teman menjadi korban adalah hal-hal yang dilakukannya.

Kepedulian itu tidak hanya berhenti di dirinya. Bersama dengan beberapa temannya yang tergugah untuk menyuarakan suara anak, mereka kemudian menuangkan pemikiran ke dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2012 dengan judul “Cahaya Si Bintang Kecil”  dengan kata pengantar buku oleh Dr.Phil Dewi Candraningrum, Redaktur Jurnal Perempuan.

Ruri KOPER
Ruri bersama kawan-kawannya [Foto: istimewa]

Ruri percaya bahwa setiap anak mempunyai hak yang sama tak terkecuali pada akses hak pendidikan. Keyakinannya itu tidak hanya berhenti di mulut saja. Tak peduli teman atau bukan, kalau dianggapnya tidak benar maka bersuaralah dia. Satu kisah kecil darinya yang tidak bisa dikatakan hanya bermodal berani saja adalah ketika Ruri dan teman-temannya lulus SMP dan harus mencari sekolah yang lebih tinggi. Kegelisahannya tidak terbendung ketika mengetahui kasus kecurangan sekelompok orang -yang bahkan bisa dikatakan sistemik- untuk membuat piagam palsu agar nilainya bertambah sebagai syarat masuk SMA favorit.

Ruri kemudian mencari banyak informasi, bertanya ke sana-sini dan akhirnya membuahkan hasil ketika jaringan yang dimilikinya membuka jalan, membuatnya serasa ada teman seperjuangan yang masih berani bertindak demi keadilan. Usaha mencari kebenaran itu berpuncak pada titik di mana Ruri menulis dan mengirim surat kepada presiden yang kala itu masih dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono, sembari berharap keadilan dapat datang pada waktunya, mengingat masa pendaftaran sekolah kala itu hanya sebentar sehingga tidak bisa ditunda-tunda.

Kebenaran itu bukan barang gratis dan tidak jatuh dari langit. Semua butuh diperjuangkan dengan suka dukanya. Dalam perjalannnya mencari kebenaran Ruri juga dihadapkan pada banyak masalah. Ditinggal teman-teman dekatnya yang masuk dalam lingkaran pemalsu piagam, diteror oleh orang-orang yang tidak suka bahkan disudutkan karena dianggap ‘sok suci’. Kisah itu pernah juga dituliskan dengan cara lain yang bisa dilihat dari tulisannya Saat ‘Anak Unyu’ Surati Ombudsman karena Berhasil Masuk SMA  Surat Ruri itu akhirnya memang berbalas, berupa ucapan terima kasih dan pemberitahuan bahwa surat sudah diterima. Sayangnya balasan surat datang sangat terlambat, di saat pendaftaran sekolah sudah tutup, bahkan masa bersekolah sudah dimulai.

Kepiawaian Ruri dalam menulis itu bukan tanpa belajar. Dia dengan telaten belajar menulis dengan merawat blog pribadinya sebagai media penampung pernak-pernik tulisannya, selain terbitan buku-buku yang ada. Buku selanjutnya selain ‘Cahaya Si Bintang Kecil’ yang ditulisnya bersama teman-temannya adalah Buku Riset Kesehatan Reproduksi Remaja Klaten (2013) dengan Kata Pengantar yang ditulis oleh Desti Murdijana, Wakil Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Ruri juga bersinggungan dengan dunia jurnalistik dengan bergabung dalam Wadah Wartawan Siswa (WASIS) yang difasilitasi oleh Solopos.

Saat ini Ruri juga bergabung dengan Jaringan Guyub Bocah yang difasilitasi oleh SATUNAMA. Jaringan ini menambah panjang daftar sarana baginya untuk belajar hidup yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolah. “Sekarang saya punya teman dibanyak tempat. Ada Keningar, Duwet, Sitimulyo dan lainnya” ungkapnya ketika berkisah tentang manfaat berjejaring. Sementara perpustakaan anak KOPER di desanya  di Desa Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten semakin menjadi modal berharga buatnya untuk selalu mencintai dunia tulis-menulis dan membaca.

Bersama dengan teman-teman KOPER, dia mengajak banyak orang untuk belajar, bermain dan berekspresi. Melalui perpustakaan itu ada banyak hal bisa dilakukan bersama. Membuat agar perpustakaan sebisa mungkin diakses oleh banyak anak didesanya, adalah konsep utama KOPER. Ruri dan teman-temanya berkeliling ke beberapa dukuh untuk mengadakan mobile books. Dengan sekotak buku mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan sampai ke luar desanya. Salah satunya adalah ketika memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tahun 2014 lalu. Ruri mengajak teman-temannya mengadakan kegiatan mobile books sebagai sarana belajar mengenal Hak-hak Anak di lintas kecamatan.

Menjadi salah satu anak yang masuk dalam nominasi Duta Anak Klaten, bersemangat belajar serta memiliki minat besar terhadap dunia membaca dan menulis, giat bergabung dalam banyak forum dan kelompok, ikut menginisiasi berdirinya Perpustakaan KOPER mungkin barulah merupakan awal kiprah anak Klaten ini dalam meraih cita-citanya yang lebih besar di masa mendatang sekaligus menjadikan dirinya semakin bermanfaat bagi orang lain.

Kebanyakan cita-cita masa kecil biasanya menguap seiring bertambahnya umur seseorang. Seperti obor yang hanya terang kala baru saja dinyalakan. Tapi dalam cerita Ruri, setidaknya hingga saat ini, hal itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi.

Penulis : Maria Sucianingsih
Editor : Ariwan K Perdana

————————————————————————————————————————————————————–

Surat Ruri Putri Kriswanto kepada Presiden Indonesia. Dipublikasikan seizin penulis dengan harapan agar dapat menjadi media belajar bagi anak-anak lain yang peduli dengan keadilan.

Surat pertama
Hai Pak SBY, aku merindukanmu.

Aku mengenal namamu sejak aku kecil. Sejak aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak jauh berbeda denganmu, aku juga terkenal. Ketika aku berjalan keluar rumah, banyak orang yang menyapaku dengan ramah. Tapi aku yakin, kau tidak pernah mengenalku. Padahal kau adalah Bapakku. Bapak Negaraku. Bapak dari semua orang yang hidup di NKRI ini.

Hai Pak SBY, nama kerenku Ruri. Bapak bisa memanggilku Rur atau Put. Terserah Bapak aja deh, yang penting keren. Huehue. Aku ingin bercerita sesuatu kepadamu, Pak. Cerita bahagiaku, dan cerita sedih dalam hidupku saat ini.

Aku dinyatakan lulus SMP tahun ini tahun 2013 dengan Nilai UN 36,45. Aku bahagia, sangat bahagia. Dan aku ingin berbagi kebahagiaanku ini padamu, Pak. Bapak harus tahu, satu dari sejuta anakmu di negeri ini sedang bahagia karena merasa sukses menjalani sistem pendidikan baru dengan 20 paket soal Ujian Nasional. Aih leganya aku, dapat berbagi kebahagiaan dengan bapakku yang satu ini :D.

Aku mendaftar di SMA N 1 Klaten. Nilai UNku yang tadinya 36,45 menjadi 37,70 karena tambahan nilai piagam. Mendapatkan nilai piagam itu susah juga ya, Pak. Aku mengikuti lomba cipta puisi tingkat kabupaten sewaktu aku berumur empat belas tahun. Hahaha aku tak tahu juga kenapa aku bisa mendapat juara 2 kabupaten. Nilai piagamku 1,25.

Untuk mendapat nilai yang sah itu tidak mudah. Harus minta legalisir dari Kepala Sekolahku, minta surat keterangan yang menyatakan itu benar-benar piagamku, dan minta legalisir lagi ke Dinas Pendidikan. Setelah legalisir ke Dinas pendidikan, barulah aku mendapat tambahan nilai 1,25 itu. Oh iya, yang sibuk mengurusi dan pergi ke sana-kemari itu ibuku. Lama memang, tapi mau bagaimana lagi? Birokrasi disini memang rumit. Membosankan. Huehue.

Sistem pendaftaran di SMA yang kutuju tersedia secara online. Dengan begitu, aku bisa dengan mudah melihat jurnal nilai setiap harinya. Betapa kagetnya aku ketika teman-temanku yang NEMnya jauh dibawahku malah menempati peringkat atas dengan nilai yang berbeda. Saat aku lihat, ternyata ada nilai piagam. Hmmm.. yang membuatku bingung adalah, kapan mereka mengikuti lomba itu? Padahal selama dua tahun aku satu kelas dengan mereka, mereka tidak pernah ikut lomba hingga menjadi juara 1 tingkat Kabupaten.

Menurut Bapak, apakah mereka berbohong? Menurutku sih begitu. Tapi aku masih tidak percaya, ketika dengan mudah mereka mendapatkan Surat Keterangan dan Legalisir dari SMPku, hingga Dinas Pendidikan. Aku sempat berpikir, busuk sekali mereka menggunakan cara licik seperti ini.

Lebih mengagetkannya lagi ketika aku diberitahu oleh teman sebangkuku bahwa dia juga membeli piagam palsu. Aku masih tidak percaya. Kulihat piagam palsunya sebagai juara 1 lomba renang tingkat Kabupaten. Saking tidak percayanya, diperlihatkan juga piagam palsu itu padaku. Aku shock, Pak. Aku sangat sedih. Huwaa. Padahal dia kan nggak bisa renang. Aku tidak tahu pasti itu ide dia sendiri atau orang tuanya. Tapi anehnya lagi, kenapa kepala sekolah atau  guru-guruku yang mungkin tahu hal itu, kok diam saja dan tetap memberi legalisir itu. Satu kebahagiaan temanku ini akan menggeser kebahagiaan teman lain yang mendaftar di tempat yang sama dengan nilainya sendiri, nilai kejujurannya.

Miris, ketika aku tahu mereka membeli piagam palsu dengan harga Rp.500.000,-. Kalau benar ide membuat piagam palsu itu dari temanku, dia tidak akan punya uang sebanyak itu. Kalaupun ide dan uang ada tapi kepala sekolah tidak memberi legalisir itu juga pasti tidak bisa, iyakan pak? Aku bingung harus mengadu kepada siapa. Aku sudah cerita pada ibuku, tapi ibuku tidak memberikan jalan keluar juga. Kurasa dia takut jika melaporkan kasus ini. Aku tak mau membungkam mulutku sendiri, aku tak mau membungkam hati kecilku. Lalu aku menulis surat sederhana ini untukmu, Pak. Aku percaya Pak SBY adalah pemimpin yang baik. Aku percaya bahwa Bapak bisa mengatasi kasus ini.

Aku sedih melihat dunia pendidikan di kotaku terbeli dengan lembaran uang, Pak. Kapan pun itu, aku menunggumu untuk kasus ini. Tolong, jangan buat anakmu menangis bertisu-tisu karena ketidak adilan yang didapatkannya. Terimakasih Pak Presidenku sayang, aku merindukanmu, meski kita belum pernah bertemu. Kuharap, Tuhan selalu memberi kebahagiaan dalam hidupmu, agar kau dapat membaginya denganku. Huehue.

Pengumuman sekolah baruku tanggal 3 Juli 2013 Pak. Entah kenapa aku juga ingin mengirim surat ini pada KOMNAS Anak yang katanya bisa melindungi anak. Aku juga akan mengirimkan surat ini pada Bapakku yang memimpin Kabupaten Klaten. Meski aku sabar menunggu Bapak mengurus surat ini, aku juga ingin berbagi surat cinta ini pada banyak orang sekiranya lama jawaban bapak.

Maturnuwun Pak. Minta maaf jika ada salah-salah.
Klaten, 29 Juni 2013
Tertanda,
Anak unyu

(Visited 135 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*