Meretas Kemandirian Gerakan Masyarakat Sipil

Satunama.org – Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia saat ini menghadapi situasi yang tidak mudah. Di satu sisi, OMS berperan penting dalam menjaga demokrasi, memperjuangkan keadilan sosial, dan mendampingi masyarakat rentan. Namun, di sisi lain, ruang gerak masyarakat sipil semakin terdesak oleh berbagai tekanan eksternal, sementara keberlanjutan organisasi juga menghadapi tantangan dari dalam.

Dalam situasi ini, menjaga keberlangsungan gerakan masyarakat sipil tidak cukup hanya melalui advokasi dan pemberdayaan. OMS juga perlu memperkuat fondasi internal agar tetap mampu bekerja, menjaga nilai-nilainya, dan membangun dukungan yang memungkinkan gerakan terus bertumbuh di tengah situasi yang kurang berpihak.

Tantangan Internal

Ruang sipil (civic space) yang menjadi tempat OMS bekerja kini semakin tergerus. Tekanan terhadap gerakan masyarakat sipil turut memengaruhi persepsi publik terhadap OMS. Pada saat yang sama, akses terhadap pendanaan internasional yang selama ini menjadi salah satu sumber dukungan utama organisasi juga semakin menantang.

Namun, memahami tekanan eksternal saja belum cukup untuk menjelaskan tantangan keberlanjutan OMS. Organisasi masyarakat sipil juga perlu berani melihat ke dalam: meninjau tata kelola, komitmen manajemen, serta cara membangun dukungan di luar proyek yang didanai donor.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Refresher Alumni Change the Game Academy (CtGA) Indonesia 2026 yang berlangsung di Yogyakarta pada 21-22 September 2026. Diskusi para alumni menyoroti sejumlah tantangan gerakan masyarakat sipil, mulai dari fragmentasi berdasarkan isu sektoral, kecenderungan mengandalkan pengelolaan proyek donor, hingga belum kuatnya basis dukungan nyata di masyarakat.

Gambaran mengenai dukungan internal terhadap upaya memperkuat keberlanjutan organisasi terlihat dari asesmen SATUNAMA terhadap peserta Refresher Alumni CtGA 2026. Berdasarkan kuesioner yang diisi sebelum kegiatan, dari 13 responden yang mewakili tujuh organisasi alumni, sebanyak 53,8% menyatakan bahwa manajemen, atasan, atau lembaga mereka sangat mendukung penerapan Local Fundraising (LFR) dan Mobilizing Support (MS), termasuk dengan menyediakan waktu dan dana. Sementara itu, 23,1% responden menyatakan bahwa dukungan yang diterima masih sebatas verbal tanpa alokasi khusus, sedangkan 23,1% lainnya menilai dukungan organisasinya masih netral.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun lebih dari separuh responden menyatakan memperoleh dukungan penuh, penguatan komitmen internal masih menjadi pekerjaan rumah. Dukungan terhadap LFR dan MS tidak cukup berhenti pada pengetahuan atau persetujuan, tetapi perlu diwujudkan dalam penyediaan waktu, sumber daya, dan ruang bagi organisasi untuk mengembangkan inisiatif keberlanjutannya.

Hasil asesmen dari 13 responden terkait dukungan manajemen/lembaga/atasan terhadap penerapan LFR/MS di masing-masing organisasi peserta kegiatan.

Meski demikian, pengalaman para alumni CtGA memperlihatkan bahwa berbagai upaya untuk memperkuat dukungan lokal dan mengembangkan sumber daya organisasi telah dilakukan. Yayasan Gugah Nurani Indonesia, Yayasan Stepping Stones Bali, Yayasan Arika Mahina, Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia, Mitra Wacana, Lombok Research Center, dan Arkom Indonesia memiliki pengalaman serta fokus kerja yang beragam. Praktik-praktik mereka menunjukkan bahwa upaya menuju kemandirian OMS dapat dikembangkan melalui pendekatan yang sesuai dengan konteks, kebutuhan, dan nilai yang dipegang masing-masing organisasi.

Yayasan Stepping Stones Bali, misalnya, mengembangkan mekanisme Bank Sepatu untuk mendukung anak-anak penyandang disabilitas melalui penempatan instrumen donasi di kawasan pariwisata. Sementara itu, Yayasan Arika Mahina di Ambon mengembangkan penggalangan dana yang berangkat dari tradisi lokal. Kedua praktik ini memperlihatkan bahwa dukungan terhadap kerja organisasi dapat dibangun melalui pendekatan yang dekat dengan lingkungan sosial dan konteks masyarakat setempat.

Pengalaman Yayasan Gugah Nurani Indonesia memberikan penekanan lain. Organisasi ini melakukan refleksi terhadap setiap kegiatan penggalangan dana lokal dan menolak sponsorship yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diyakini. Praktik tersebut menunjukkan bahwa upaya menghimpun sumber daya bukan semata-mata soal memperoleh dana, melainkan juga tentang menjaga integritas dan konsistensi nilai organisasi. Keberlanjutan tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan prinsip yang menjadi dasar gerakan.

Dari sisi Mobilizing Support, Arkom Indonesia mengupayakan pembangunan ekosistem hunian kota yang aman dan inklusif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Upaya ini mencakup inisiatif pengembangan hunian kolektif bagi masyarakat terpinggirkan melalui skema yang lebih egaliter dan mudah diakses. Pengalaman Arkom menunjukkan pentingnya membangun dukungan dan keterlibatan berbagai pihak untuk mewujudkan tujuan bersama, tidak hanya mengandalkan sumber daya internal organisasi.

Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa LFR dan MS memiliki ruang penerapan yang beragam. Keduanya tidak semata-mata merupakan instrumen untuk menambah pemasukan atau menghimpun bantuan bagi organisasi. Lebih dari itu, LFR dan MS dapat menjadi cara untuk membangun hubungan, memperluas partisipasi, dan memperkuat legitimasi OMS di tengah masyarakat (community-rooted legitimacy).

Dukungan dari warga dan komunitas tentu tidak otomatis menjamin keberlanjutan organisasi. Dukungan tersebut perlu dirawat melalui keterbukaan, akuntabilitas, keterlibatan masyarakat, dan konsistensi terhadap nilai yang diperjuangkan. Dengan demikian, kemandirian tidak hanya ditentukan oleh seberapa beragam sumber daya yang berhasil dihimpun, tetapi juga oleh kualitas hubungan yang dibangun organisasi dengan masyarakat dan para pendukungnya.

Dari Inisiatif Organisasi Menuju Kekuatan Kolektif

Berbagai pengalaman alumni menunjukkan bahwa OMS memiliki sumber daya, pembelajaran, dan jejaring yang dapat dikembangkan untuk memperkuat keberlanjutan organisasi. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman yang masih tersebar di masing-masing organisasi dapat saling terhubung, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada lingkup internal lembaga dan potensi kolaborasi dapat berkembang menjadi kekuatan bersama.

Kebutuhan untuk tidak terus berjalan sendiri-sendiri menjadi salah satu gagasan yang mengemuka dalam Refresher Alumni CtGA 2026. Pada hari kedua kegiatan, para peserta menginisiasi pembentukan aliansi kolaborasi yang kemudian diberi nama Rangkulin. Nama ini membawa makna saling mendukung dan saling merangkul, sejalan dengan semangat membangun kerja bersama di antara alumni LFR dan MS.

Dari tujuh organisasi yang hadir, tiga organisasi terpilih melalui proses voting untuk menjadi pengurus harian Rangkulin, yaitu Yayasan Arika Mahina dari Ambon, Yayasan Gugah Nurani Indonesia dari Jakarta, dan Arkom Indonesia dari Yogyakarta. Ketiganya direncanakan menjadi motor penggerak kegiatan kolaborasi yang akan dimulai pada 2027, antara lain melalui penyelenggaraan webinar dan pengelolaan situs web bersama.

Inisiatif ini berangkat dari potensi jejaring alumni CtGA Indonesia yang telah berkembang sejak 2022, dengan organisasi-organisasi yang memiliki fokus isu dan pengalaman berbeda dari berbagai wilayah, dari Aceh hingga Papua. Keberagaman tersebut membuka peluang untuk saling berbagi pembelajaran, mempertemukan sumber daya, dan mengembangkan aksi kolektif yang dapat dilakukan bersama oleh alumni LFR maupun MS.

Para peserta bersama Tim Program dan Tim SATUNAMA Training Center berpose untuk menutup rangkaian kegiatan Refresher Alumni CtGA 2026 di Yogyakarta, 21-22 September 2026 lalu.

Pembentukan Rangkulin menjadi langkah awal untuk mengembangkan potensi tersebut. Namun, pembentukan struktur dan penyusunan rencana kerja saja belum cukup untuk memastikan kolaborasi akan berjalan secara berkelanjutan. Komitmen para anggota, pelaksanaan kegiatan, dan kemampuan menjaga partisipasi bersama akan menjadi bagian penting yang perlu dilihat dalam perjalanan Rangkulin ke depan.

Agar upaya kolaborasi tidak berhenti pada pembentukan jejaring, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian OMS. Pertama, menghubungkan fokus kerja organisasi dengan persoalan yang secara langsung memengaruhi kehidupan warga. Ketimpangan ekonomi, hak atas tanah, kepastian kerja, dan jaminan kesehatan, misalnya, merupakan persoalan yang dapat saling berkaitan dan tidak selalu dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral semata. Organisasi tetap dapat mempertahankan keahlian masing-masing, sembari membuka ruang untuk melihat keterkaitan isu dan bekerja bersama pihak lain.

Kedua, memperluas ruang partisipasi generasi muda. OMS perlu merefleksikan kembali cara berkomunikasi dan membangun keterlibatan agar tidak terjebak dalam bahasa yang kaku atau pendekatan yang terlalu instruktif, sebagaimana kerap melekat pada gaya developmental NGO. Narasi yang lebih dekat dengan pengalaman orang muda, perhatian terhadap kesejahteraan (wellbeing) dan kebebasan, serta pemanfaatan kanal media yang relevan dengan budaya mereka dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Namun, keterlibatan generasi muda tidak cukup dibangun melalui perubahan bahasa dan media saja. Mereka juga perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan terlibat secara bermakna dalam gerakan.

Pada akhirnya, kemandirian gerakan masyarakat sipil bukanlah tujuan yang dapat dicapai dalam semalam. Ia merupakan proses yang perlu terus dirawat melalui integritas organisasi, keberanian untuk membenahi tata kelola, hubungan yang kuat dengan masyarakat, dan kesediaan untuk bekerja melampaui batas-batas sektoral.

Ketika OMS tidak lagi semata-mata bergantung pada proyek donor, tetapi juga mengembangkan dukungan masyarakat dan memperkuat kolaborasi, peluang untuk membangun gerakan yang lebih berkelanjutan akan semakin terbuka. Rangkulin merupakan salah satu upaya untuk memulai langkah tersebut; sejauh mana ia mampu menjadi ruang kolaborasi yang hidup akan ditentukan oleh pelaksanaannya ke depan.

Masa depan gerakan masyarakat sipil tidak hanya ditentukan oleh kemampuan setiap organisasi bertahan, tetapi juga oleh keberanian untuk berefleksi, berbenah, saling merangkul, dan melangkah bersama. Dari sana, harapan bagi gerakan masyarakat sipil yang mandiri dan demokrasi yang lebih kuat dapat terus dirawat.

Penulis: Ariwan Perdana | Editor: Agustine Dwi | Foto: Tim Dokumentasi

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca