Kesehatan Jiwa & Disabilitas

P3KU

PSKJ

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya (UU RI No. 18 tahun 2014).

Kesehatan jiwa merupakan salah satu indikator visi kesehatan pemerintah. Masalah kesehatan jiwa, gangguan jiwa, dapat berefek kepada ekonomi sebuah bangsa karena menurunkan produktivitas kerja. Menurut Laporan World Bank pada tahun 2016, menghitung lebih dari 1 triliun dollar dihabiskan atau hilang secara ekonomi global atau dunia akibat persoalan gangguan jiwa setiap tahun. Diperkirakan di tahun 2030, akan naik menjadi 6 triliun.

Pemberdayaan masyarakat perlu ditingkatkan, mulai dari anggota masyarakat, pamong, aparat, tokoh dan profesi tenaga kesehatan. Kesehatan jiwa di masyarakat perlu penanganan secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Dalam konteks Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kasus penyandang gangguan jiwa berat (skizofrenia) tertinggi dibandingkan provinsi lainnya. Menurut data RISKESDA -Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, DIY memiliki sekitar 16 ribu orang yang hidup dengan skizofrenia dengan prevalensi skizofrenia 4,6 per 1.000 penduduk.

Data Riskesda Tahun 2013 menemukan kasus gangguan jiwa berat/psikotik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati urutan teratas di Indonesia, yaitu 2,7 permil, sedangkan di Indonesia secara keseluruhan 1,7 permil. Tingginya angka penyandang gangguan jiwa berat di DIY menunjukkan sistem pendataan kesehatan di DIY sudah berjalan dengan baik sehingga dapat mendeteksi jumlah pasien penyandang gangguan jiwa.

Isu Disabilitas dan kesehatan jiwa seperti 2 sisi mata uang yang tidak terpisahkan, karena keduanya saling menyumbang terciptanya kondisi seseorang dalam kondisi kesehatan dan kebutuhan khusus. Seseorang yang disabilitas fisik misalnya bisa menciptakan disabilitas baru yaitu gangguan mental atau disabilitas psikososial. Di samping itu ada situasi seseorang yang mengalami kondisi kesehatan yang terpuruk misalnya mengalami kusta, dapat menciptakan

disabilitas baru yaitu disabilitas fisik, bahkan bisa menjadi disabilitas mental. Hal-hal ringkih seperti ini yang menjadi prioritas dari layanan Yayasan SATUNAMA, dalam pelayanan yang bermodel charity khususnya kesehatan mental sampai dengan pelayanan yang bermodel development dan transformasi (David Cortens).

Indonesia yang masih dikategorikan menjadi negara berkembang, menurut Worl Health Organizations (WHO) bahwa jumlah penyandang disabilitas di negara berkembang yaitu 10 %- 15 % dari jumlah total populasi suatu negara. Jika Indonesia berpenduduk sekitar 250 juta maka jumlah penyandang disabilitas diperkirakan sekitar 25 juta orang.

Jumlah yang tidak sedikit, yang sudah tentu mempunyai kebutuhan yang juga lebih besar. Saat ini penyandang disabilitas memang sudah banyak diperhatikan walaupun itu dari beberapa jenis disabilitas saja, tetapi dibalik semua itu, masih ada jenis disabilitas yang sangat ringkih yang masih jauh dari perhatian Pemerintah dan mengalami stigma yang cukup tinggi, yaitu Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Mereka adalah penyandang disabilitas akibat dari penyakit kusta yang diderita mereka, dan sampai saaat ini eliminasi kusta belum terselesaikan di Indonesi. Jumlah penyandang kusta di Indonesia menempati urutan ke 3 di tingkat Dunia, setelah India dan Brasil.

Data terakhir yang diperoleh NLR Indonesia dan juga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahwa jumlah penyandang kusta di Indonesia sebanyak 17 ribu orang. Penanganan yang kurang maksimal dan tidak berkelanjutan serta non multi sektor, mengakibatkan penyandang kusta lalu menjadi penyandang disabilitas dan terus mengalami stigma negatif di masyarakat.

Untuk menyikapi persoalan kesehatan jiwa dan disabilitas diatas, maka Yayasan SATUNAMA yang telah berdiri sejak tahun 1997 ini, pada tahun 2017 mulai menggagas Program Kesehatan Jiwa. Program Kesehatan Jiwa ini sudah tentu sejalan dengan pelaksanaannya terus berdinamika dan tidak terlepas dengan issue disabilitas pada umumnya, yang kemudian penyelesaianpun membutuhkan penanganan yang holistik dan komprehensif.

Yayasan SATUNAMA ingin meletakan atau memilih pelayanan ke issue dan kelompok yang sangat ringkih, karena selain peliknya permasalahan yang dihadapi oleh kelompok ini, Yayasan SATUNAMA ingin menjadi pioneer, yang mana issue ini tidak atau kurang dilakukan oleh lembaga yang lain.

VISI

  • Terwujudnya individu yang mempunyai jiwa dan raga yang sehat dan berdaya
  • Terwujudnya individu yang terbebas dari stigma negatif dan memiliki kemandirian diri
  • Terwujudnya masyarakat Indonesia dan Dunia yang inklusif

MISI

Departemen Kesehatan Jiwa & Disabilitas – Yayasan SATUNAMA yaitu aktif melakukan layanan preventif, kuratif, rehabilitatif, pemberdayaan, advokasi untuk kesehatan jiwa yang lebih baik dan penguatan hak-hak penyandang disabilitas melalui strategi berbasis institusi dan masyarakat.

TUJUAN

  1. Mempertahankan anggota masyarakat yang sehat jiwa agar tetap sehat,
  2. Meningkatkan kesehatan anggota masyarakat yang berisiko agar menjadi sehat.
  3. Membantu anggota masyarakat yang mempunyai gangguan jiwa agar lebih mandiri.
  4. Menguatkan hak-hak penyandang disabilitas yang terabaikan
  5. Meningkatkan kapasitas penyandang disabilitas untuk kemandirian
  6. Menciptakan masyarakat yang inklusif

STRATEGI

Departeman Kesehatan Jiwa dan Disabilitas dalam pekerjaannya memiliki beberapa strategi yaitu:

  1. Strategi Berbasis Institusi dan Berbasis Masyarakat, dilakukan untuk issue kesehatan jiwa, yang mana kedua strategi ini digabungkan dalam pelaksanaannya. Melalui strategi berbasis institusi maka diadakannya Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa (RPKJ), dan strategi berbasis masyarakat, maka kemudian diadakannya kegiatan-kegiatan berbasis di Desa yaitu melalui Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ)
  2. Untuk keberlanjutan dan menyesuaikan dengan perkembangan program, maka strategi yang dikembangkan adalah pelatihan, penelitian, pengembangan dan konsultasi. Strategi ini bertujuan untuk memastikan bahwa Yayasan SATUNAMA memiliki basis data melalui temuan-temuan ilmiah juga pembelajaran yang sifatnya partisipatoris serta konsultasi sebagai bagian untuk desiminasi keahlian dari Yayasan SATUNAMA ke pihak lain
  3. Untuk keberlanjutan kelembagaan khususnya Departemen Kesehatan Jiwa dan Disabilitas dari sisi pendanaan, maka strategi yang dikembangkan adalah melakukan pendayagunaan aset berupa “Wisma” yang pengelolaannya bekerjasama dengan jaringan layanan perhotelan atau startup unicorn di sektor hospitality, yang tujuannya untuk mendapatkan profit demi dan untuk pembiayaan program dan operasional

 

Personil Departemen Kesehatan Jiwa
Frans Toegimin – frans@satunama.org
Karel Tuhehay – ktuhehay@satunama.org
B. Hartono – hartono@satunama.org
Doddy Kurniawan Kaliri – doddy.kaliri@satunama.org
Eka Setyahadi Baene – eka.baene@satunama.org
Sapto Putri Trisnowati Handayani – sapto.putri@satunama.org
Berlian Prafitri Utaminingtyas – berlian.prafitri@satunama.org

 

  • Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa Yogyakarta Peduli Orang Gangguan Jiwa
    Usianya baru 23 tahun. Awalnya penampilannya nampak kumal dengan rambut dan kumis yang kurang terurus. Tatapannya sering kosong dan cenderung selalu menunduk. Kalau diajak bicara ia tidak berani menatap lawan bicara dan suaranya pelan. Ia jarang berkomunikasi dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Bila ditanya, dia hanya menjawab seadanya. Laki-laki kelahiran 12 Maret 1997 … Baca Selengkapnya Kesehatan Jiwa & Disabilitas
  • Jalinan Pengembangan Organisasi dan Fundraising
    Fundraising atau Penggalangan dana adalah salah satu aspek finansial yang dapat membuat organisasi masyarakat sipil berkiprah secara berkelanjutan. Dana dari pendapatan, hibah, hadiah, dan sponsor dapat digunakan untuk memastikan keberlanjutan sebuah program atau organisasi. Pada dasarnya, penggalangan dana adalah kampanye yang dapat mengambil beberapa bentuk, yang dirancang untuk mengumpulkan uang untuk program atau kegiatan yang … Baca Selengkapnya Kesehatan Jiwa & Disabilitas
  • Penting, Upaya Identifikasi Resiko Gangguan Kesehatan Jiwa di Masyarakat
    Upaya preventif dan promotif seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam program penanganan Kesehatan Jiwa (Keswa) di masyarakat. Oleh sebab itu agenda sosialisasi Kesehatan Jiwa yang dilakukan Departemen Kesehatan Jiwa SATUNAMA di pedukuhan-pedukuhan dalam wilayah Desa Sendangadi menjadi hal yang penting. Hal ini didasarkan pada dua faktor. Pertama, Sosialisasi Informasi dan Edukasi yang benar akan … Baca Selengkapnya Kesehatan Jiwa & Disabilitas
  • RPKJ, Kepedulian SATUNAMA dalam Ranah Kesehatan Jiwa
    Kesehatan jiwa menjadi isu hangat yang gencar diperbincangkan di berbagai ruang. Nyata maupun maya. Bagaimana tidak, hampir setiap bulan bahkan pekan media-media merilis berita tentang kasus bunuh diri yang salah satu penyebabnya adalah masalah kesehatan jiwa. Fenomena ini kemudian melahirkan perhatian dari berbagai pihak. Tidak hanya mereka yang begelut di dunia kesehatan tetapi juga siapa … Baca Selengkapnya Kesehatan Jiwa & Disabilitas
  • Mahasiswa, Skripsi dan Beban Psikologis
    Bunuh diri adalah problem sosial yang membutuhkan perhatian serius. Kasus bunuh diri bisa terjadi pada siapa saja. Tidak memandang usia golongan, umur ataupun pekerjaan. Tak terkecuali kelompok mahasiswa. Awal september 2019 lalu seorang mahasiswa pasca sarjana sebuah sekolah tinggi di Bandung diberitakan meninggal bunuh diri (CNN Indonesia, 2019). Ini hanya satu kasus bunuh diri di … Baca Selengkapnya Kesehatan Jiwa & Disabilitas
Artikel terkait Departemen Kesehatan Jiwa dan Disabilitas

Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa Yogyakarta Peduli Orang Gangguan Jiwa

Usianya baru 23 tahun. Awalnya penampilannya nampak kumal dengan rambut dan kumis yang kurang terurus. Tatapannya sering kosong dan cenderung selalu menunduk. Kalau diajak bicara ia tidak berani menatap lawan bicara dan suaranya pelan. Ia jarang berkomunikasi dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Bila ditanya, dia hanya menjawab seadanya. Laki-laki...Read More »

Jalinan Pengembangan Organisasi dan Fundraising

Fundraising atau Penggalangan dana adalah salah satu aspek finansial yang dapat membuat organisasi masyarakat sipil berkiprah secara berkelanjutan. Dana dari pendapatan, hibah, hadiah, dan sponsor dapat digunakan untuk memastikan keberlanjutan sebuah program atau organisasi. Pada dasarnya, penggalangan dana adalah kampanye yang dapat mengambil beberapa bentuk, yang dirancang untuk mengumpulkan uang untuk...Read More »

Penting, Upaya Identifikasi Resiko Gangguan Kesehatan Jiwa di Masyarakat

Upaya preventif dan promotif seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam program penanganan Kesehatan Jiwa (Keswa) di masyarakat. Oleh sebab itu agenda sosialisasi Kesehatan Jiwa yang dilakukan Departemen Kesehatan Jiwa SATUNAMA di pedukuhan-pedukuhan dalam wilayah Desa Sendangadi menjadi hal yang penting. Hal ini didasarkan pada dua faktor. Pertama, Sosialisasi Informasi dan...Read More »

RPKJ, Kepedulian SATUNAMA dalam Ranah Kesehatan Jiwa

Kesehatan jiwa menjadi isu hangat yang gencar diperbincangkan di berbagai ruang. Nyata maupun maya. Bagaimana tidak, hampir setiap bulan bahkan pekan media-media merilis berita tentang kasus bunuh diri yang salah satu penyebabnya adalah masalah kesehatan jiwa. Fenomena ini kemudian melahirkan perhatian dari berbagai pihak. Tidak hanya mereka yang begelut di...Read More »

Mahasiswa, Skripsi dan Beban Psikologis

Bunuh diri adalah problem sosial yang membutuhkan perhatian serius. Kasus bunuh diri bisa terjadi pada siapa saja. Tidak memandang usia golongan, umur ataupun pekerjaan. Tak terkecuali kelompok mahasiswa. Awal september 2019 lalu seorang mahasiswa pasca sarjana sebuah sekolah tinggi di Bandung diberitakan meninggal bunuh diri (CNN Indonesia, 2019). Ini hanya satu...Read More »

Older Entries »
English EN Bahasa Indonesia ID