Bagaimana Politisi Muda Mendapat Suara Di Ranah Politik Saat Ini?

Satunama.org – Bagaimana politisi muda secara efektif -dan demokratis- mendapat suara di ranah politik Indonesia saat ini? Ini adalah topik utama di hari ketiga Sekolah Politisi Muda Angkatan IV Tingkat III Yayasan SATUNAMA Yogyakarta, melalui Program Civilized Politics for Indonesian Democracy (CPID) untuk melatih generasi muda politikus Indonesia.

Pembicara tamu hari ini adalah Djayadi Hanan, Direktur Lembaga Survei Indonesia dan Dosen Universitas Paramadina yang memaparkan gambaran mendalam tentang perilaku pemilih, diikuti oleh Dr. Gun Gun Heryanto, Pakar Pemasaran Politik dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memaparkan topik mengenai kursus pemasaran politik yang persuasif dan cerdas. Tema sesi hari ini terbukti menggugah pikiran, dengan banyak diskusi di akhir sesi seputar solusi jangka panjang untuk mengatasi politik uang masih tertanam dalam proses pra-pemilu di Indonesia.

Dengan usia pemilih 17 tahun di Indonesia, atau setelah menikah, kaum muda Indonesia merupakan proporsi pemilih potensial tertinggi. Milenial (yang berusia 24-39) dan Generasi Z (berusia 8-23) bersama-sama merupakan 54% dari populasi, dan dengan populasi yang begitu muda, Djayadi Hanan menjelaskan, penting untuk memahami cara terbaik untuk menjangkau dan terlibat. dengan konstituen potensial. Apa pun yang terkait dengan anak muda saat ini secara otomatis terhubung ke teknologi, dan ini tidak berbeda dengan kebiasaan memilih. Pemilu 2019 antara Jokowi dan Prabowo adalah contoh yang jelas tentang betapa pentingnya kampanye media sosial untuk menarik pemilih ke pemungutan suara.

Meski media sosial telah menjadi cara tercepat dan paling efisien untuk menyebarkan informasi terkait pemilu dan kandidat, ada berbagai masalah yang terkait dengan fokus pada media baru. Satu masalah yang secara khusus terkait dengan hubungan dengan pemilih adalah bahwa tidak semua orang Indonesia memiliki akses internet, atau dalam beberapa kasus memiliki internet tetapi belum memiliki smart phone (30% orang Indonesia tidak punya smart phone) yang memungkinkan mereka untuk melihat informasi berbasis politik.

Faktor-faktor di atas menyoroti beberapa pertimbangan sosio-demografis bagi politisi muda ketika merencanakan bagaimana menjangkau pemilih potensial dan bagaimana agar berhasil dalam pemilu. Pertimbangan sosio-demografis berkisar dari usia pemilih, tingkat pendidikan, apakah Anda menjangkau mereka yang tinggal di desa atau di perkotaan. Terkait dengan identitas, salah satu faktor penarik terbesar pemilih di Indonesia adalah afiliasi agama dan intensitas keagamaan pemilih. Apa yang diinginkan pemilih Anda dan bentuk sosialisasi apa yang Anda gunakan untuk menjangkau mereka?

Dr. Gun Gun Heriyanto mempresentasikan tentang teknik dan alat untuk pemasaran politik yang sukses. Mengambil inspirasi dari pemasaran komersial, yang tujuannya adalah ‘mempengaruhi perilaku massa dalam situasi politik’ (Mauser), Dr. Gun Gun Heriyanto menyoroti bagaimana saat ini, politisi harus menjalankan ‘kampanye berbasis data’ dengan banyak penelitian utama, analisis dan penilaian sebelumnya. komunitas sasaran, diikuti oleh strategi yang dibentuk oleh data ini. Terakhir, dia menekankan perlunya ‘branding’ politik, menggunakan Jokowi dan Ma’ruf Amin sebagai contoh sukses branding yang menarik bagi banyak pemilih melalui membangun keakraban dan kepercayaan.

Dalam kedua presentasi tersebut, pembicaraan akhirnya kembali ke masalah penghapusan ‘uang politik’ atau suap bagi warga negara termasuk uang tunai dan paket makanan sebagai imbalan atas pemungutan suara. Semua peserta berkomentar bahwa ini adalah masalah besar dalam proses pemilihan dan yang secara langsung membahayakan demokrasi, tetapi Pak Djayadi menyoroti bahwa sebenarnya suap terbukti efektif untuk membujuk pemilih karena banyak yang mengambil insentif tunai tetapi tetap memilih dengan calon awal mereka. Gun Gun beralasan bahwa karena perjuangan untuk menghapus suap dalam pemungutan suara itulah pemasaran politik sangat penting. Dengan pelatihan dan persiapan yang benar, strategi merek yang baik jauh lebih efektif daripada uang atau makanan dalam jumlah kecil. Sebelum mengikuti lokakarya terakhir pemasaran calon, ia menunjukkan foto-foto politisi lulusan Sekolah Politik Muda SATUNAMA yang telah bangkit di dunia politik melalui cara ini. Djayadi Hanan mengatakan, “Kalau mau bekerja sebagai politikus, Anda harus bisa bekerja keras, karena menjadi politisi jam kerja Anda 24/7.”

Penulis: Harriet Crisp (Magang CRCS-UGM) / Editor: Bima Sakti

Satu pemikiran pada “Bagaimana Politisi Muda Mendapat Suara Di Ranah Politik Saat Ini?”

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: