Lobi, Negosiasi dan Pemasaran Digital 4.0 Politisi Muda

Satunama.org – Dalam iklim politik seperti saat ini, adalah penting para politisi mengetahui calon pemilih mereka dan menyusun strategi untuk berkomunikasi secara afektif dan persuasif. Kedua bentuk komunikasi tersebut menjadi salah satu tema materi Sekolah Politisi Muda Angkatan-IV Tingkat-III. William Apipidely selaku Direktur Yayasan SATUNAMA Yogyakarta dan Ikrama Masloman, Peneliti Lembaga Survei Indonesia, menjadi narasumber di hari ke-4 ini.

Memperluas masalah yang dibahas dalam sesi hari Rabu tentang perilaku pemilih dan meningkatkan jumlah pemilih melalui ‘pemasaran digital 4.0’. Materi Ikrama terkait Mengelola Partai Politik Secara Digital (Berkampanye, Mengumpulkan Data, Rekrutmen dan Kaderisasi, Membangun Basis Dukungan) dimulai dengan pengamatan bahwa partai politik Indonesia berjuang karena belum berorientasi pada pemilu, dan sejauh ini inovasi dalam bergerak menuju era digital saat ini. Seperti yang disoroti dalam pemaparan Djayadi Hanan pada materi dihari sebelumnya, banyaknya generasi milenial dan generasi Z di Indonesia, berarti perpindahan ke ranah digital ini menjadi fundamental dalam menciptakan kampanye pemilu yang menggenjot demokrasi di tanah air dan menjauhi ketergantungan dengan politik uang saat ini. Serta memahami ancaman terhadap demokrasi yang datang dengan gelombang teknologi baru ini. Ikrama menjelaskan bahwa ini melibatkan pihak-pihak yang berinvestasi dalam teknologi dan para ahli yang dapat mengumpulkan data yang tersedia secara hukum untuk mendapatkan ‘wawasan’ tentang kebiasaan pemilih dan calon pemilih, dan menggunakannya untuk membuat konten partai yang dipersonalisasi dan ditargetkan khusus untuk preferensi pemilih. Ini adalah image branding, suatu bentuk soft selling di mana partai politik dan individu politisi dapat menjalin hubungan emosional dengan publik, membangun rasa percaya dan meningkatkan kemungkinan pemungutan suara.

Namun, dengan konsumsi data dan pertumbuhan alat manipulasi pemilih / konsumen juga muncul sejumlah masalah. Pengikut di media sosial umumnya terhubung dengan mereka yang memiliki pandangan serupa, menciptakan ‘gelembung’ politik yang mendorong polarisasi. Hal ini bisa kita lihat dari perlombaan antara pendukung Jokowi dan Prabowo di mana pendukungnya terbagi antara ‘kampret’ dan ‘cebong’. Masalah lainnya adalah manipulasi data negatif, Ikrama mencontohkan Cambridge Analytica, perusahaan teknologi yang berbasis di Inggris / AS yang menggunakan data yang bersumber baik secara legal maupun ilegal untuk memanipulasi pemilu di seluruh dunia. Ikrama menegaskan bahwa beberapa negara memilih aturan yang lebih ketat tentang pengumpulan data digital dan literasi online.

Berkaca pada penggunaan pengumpulan, analisis, dan pemasaran data digital di pihaknya masing-masing, semua peserta mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang kurang dalam strategi partainya, dengan hanya PSI yang dikenal sebagai pihak yang menangani data digital. Ini menyoroti kebutuhan yang jelas akan ‘peralihan digital’ dalam ranah politik nasional dan lokal Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan dan role play untuk meningkatkan kemampuan politisi muda tersebut dalam mengembangkan personal brand.

Jika pemasaran digital adalah tentang mengetahui pemilih Anda dan apa yang ingin mereka lihat, lobi dan negosiasi, yang dipimpin oleh William Apipidely, adalah tentang mengetahui individu yang akan Anda lobi dan mengadaptasi strategi Anda menjadi yang paling pribadi dan persuasif bagi mereka. William menjelaskan bagaimana lobi, seperti kampanye pemilu, harus dimulai dengan memahami konteks dan latar belakang situasi, menetapkan nada dan permintaan yang tepat, dan bergerak perlahan.

Melobi adalah sesuatu yang dilakukan manusia sejak lahir ketika kita menangis meminta perhatian orang tua kita atau ketika kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, perbedaan utama bagi politisi dan mereka yang bekerja di industri dengan lobi adalah strategi yang lebih baik dan lebih banyak praktik! Proses lobi, jelas William, adalah tentang pencapaian tujuan. Dengan menggunakan contoh dari SATUNAMA, ia menjelaskan bagaimana kunci lobi adalah ‘menentukan urutan prioritas, menyiapkan argumen, dan merumuskan ide dan saran’. Politisi dan pelobi harus menggunakan ‘hati, kepala dan tangan’ untuk sukses, dengan benar-benar percaya pada apa yang Anda dorong, Kepala untuk strategi dan data, dan Tangan untuk rasa hormat dan perilaku yang harus bersinar dalam proposal Anda. Anda harus menunjukkan kepercayaan, tanggung jawab, dan keterbukaan dalam bertransaksi.

Proses negosiasi menurut William biasanya jauh lebih cepat daripada lobi awal karena sering kali pada saat Anda diundang untuk berdiskusi, organisasi atau individu sudah menyambut baik ide Anda. Tanda-tanda yang harus diperhatikan adalah kata-kata yang digunakan, gerak tubuh dan kontak mata. Banyak negosiasi adalah tentang apa yang tidak diucapkan daripada apa yang dikatakan.

Penulis: Harriet Crisp (Magang CRCS-UGM) / Editor: Bima Sakti

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: