SATUNAMA Adakan Sosialisasi Pendidikan Inklusi di SD Negeri Ngino 1 Kabupaten Sleman

Satunama.org – Fundamentalisme agama menjadi realitas yang kasat mata pada situasi kewargaan kita hari-hari ini. Kian parau karena penyebarannya sampai di sekolah-sekolah. Tempat seharusnya anak belajar tentang nilai-nilai baik dalam mempersiapkan bekal sosialnya kelak.

Dari berbagai pengamatan, paham-paham ini dapat dengan mudah masuk dalam sistem pendidikan kita dikarenakan sistem sekolah yang tidak inklusif. Peraturan tak inklusif ini berkaitan dengan kurangnya pemahaman tenaga pendidik tentang pendidikan inklusif.

Secara garis besar, pendidikan inklusif merupakan strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak.

Merespons situasi kontemporer, termasuk dengan maraknya berita perundungan di kalangan pelajar, Satunama mengadakan Diskusi Pendidikan Inklusi pada Rabu (4, Maret, 2020) di SD Negeri 01 Ngino, Seyegan, Sleman. Kegiatan ini didesain sebagai rangkaian agenda Peduli Goes to School. Diskusi dihadiri oleh peserta UPT Pengawas, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, dan Guru untuk mendiskusikan langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan bersama ke depan.

Kegiatan ini dibuka oleh Valerianus B. Jehanu yang dalam paparannya membagi bahwa Inklusi harus dimaknai sebagai proses, bukan sebagai tujuan. Dalam proses maka tidak boleh ada yang ditinggalkan (no one left behind), termasuk di sekolah tidak boleh ada yang ditinggalkan karena kondisi fisik, sosial, atau ekonomi yang berbeda dengan anak-anak lainnya.

Oleh karena itu perlu adanya wawasan yang cukup dari pengajar terhadap siswa agar inklusi itu bisa terwujud tanpa memandang kesulitan/perbedaan yang ada dalam kegiatan belajar mengajar. Valeri juga memaparkan program-program yang pernah dilakukan Satunama seperti pendampingan terhadap penghayat kepercayaan bersama beberapa lembaga-lembaga mitra di 6 (enam) wilayah dampingan.

Ferry Timur Indratno (Unit Pendidikan IBM dan Anak Yayasan Satunama) dalam kesempatan selanjutnya menambahkan bahwa program ini berusaha untuk mengurangi angka kekerasan terhadap anak. Utamanya dalam membantu anak untuk memahami keberagaman, sehingga punya disiplin positif untuk mengikis perundungan dari diri anak sendiri.

Bagi SATUNAMA sendiri, langkah ini harus dikerjakan dengan pola kolaborasi, mengingat begitu pentingnya peran guru dalam memastikan anak terpapar dengan prinsip-prinsip inklusif. Kegiatan ini mendapat antusias peserta. Setelah proses sosialisasi dilakukan, pihak sekolah sepakat untuk dalam waktu dekat menyusun materi bahan ajar bersama. Bahan yang disiapkan diharap dapat mengeksplorasi cara-cara menyenangkan agar ikut menambah antusiasme dan pemahaman anak. [Artikel: Reynald Marjun (Mahasiswa magang dari Jurusan Sosiologi Fisip UAJY), Valerianus BJ / Foto: Bima Sakti]

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: