Musik Experimental, Bioskop Lapangan dan Kethoprak di FKL Salamrejo

Musik Experimental, Bioskop Lapangan dan Kethoprak di FKL Salamrejo

Festival Kearifan Lokal di Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang digelar oleh SATUNAMA sejak Rabu, (25/7) lalu memunculkan beberapa seniman musik dan sandiwara yang cukup mampu menyita perhatian pengunjung. Sementara sesi nonton bareng film dokumenter tentang penghayat kepercayaan juga lumayan menyedot perhatian pengunjung festival.

Salah satu penampil yang muncul di hadapan ratusan pengunjung festival pada Jumat, (27/7) adalah kelompok musik Rakitikar. Tampil selama sekitar 25 menit, kelompok musik yang beranggotakan 9 personil dengan berbagai macam latar belakang asal dan budaya ini berhasil menampilkan komposisi-komposisi musik yang ciamik dengan percampuran musik tradisional dan modern. Salah satu komposisinya sempat memukau pengunjung karena menampilkan tehnik vokal scream dan distorsi gitar di tengah permainan gamelan.

Embrio band eksperimental etnis ini sudah nampak sejak 2016 namun baru benar-benar lahir pada 2017 ketika personilnya bertambah banyak menjadi seperti sekarang. Salah satu personilnya, Aziz, menyebutkan bahwa format musik yang mereka mainkan muncul dari pemikiran bahwa karakter-karakter musik tradisional selama ini kerap luput dari perhatian masyarakat modern, padahal musik-musik semacam itu adalah format kesenian yang paling dekat dengan latar belakang budaya bangsa-bangsa di Indonesia.

Rakitikar dengan komposisi musik modern dan tradisional muncul di Festival Kearifan Lokal, membawakan beberapa lagu instrumental pada Jumat, (27/7) di Lapangan Desa Salamrejo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. [Foto : Ariwan K. Perdana]
“Itu sebabnya kami memainkan musik tradisional yang disentuhkan dengan musik modern. Selain sebagai usaha untuk nguri-uri kesenian lokal, juga untuk memberikan pengetahuan kepada publik bahwa akulturasi musik modern dan tradisional juga bisa menjadi sesuatu yang menarik.” Ujar Aziz kepada SATUNAMA.

Dengan format musiknya yang menonjolkan gamelan –terlihat dari set panggungnya di mana perangkat gamelan diletakkan di depan- Rakitikar memang menjadi nampak unik, meskipun format musik perkawinan modern instrument combo dengan gamelan tradisional sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Namun kelompok ini cukup rapi memainkan setiap komposisi mereka sehingga pengunjung festival juga tidak banyak yang beranjak dari tempatnya saat Aziz dkk beraksi di panggung.

Usai Rakitikar tampil, pengunjung festival kemudian mendapat suguhan bioskop tentang penghayat kepercayaan. Film yang diputar adalah Kami Ada?, sebuah antologi film dokumenter produksi SATUNAMA pada 2016 yang menceritakan 8 kisah eksklusifitas yang dialami oleh warga penghayat kepercayaan di Indonesia.

Kelompok penghayat kepercayaaan di Indonesia merupakan salah satu kelompok yang selama ini kurang mendapatkan akses terhadap hak-haknya sebagai warga negara. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami pengalaman-pengalaman buruk dalam akses layanan yang disediakan pemerintah.

Selama ini mereka tidak mendapatkan layanan identitas seperti KK/KTP, akses pendidikan, akses untuk mencari kerja. Eksklusi yang mereka alami juga merembet ke sektor penerimaan sosial di mana mereka acap kali mendapat stigma kurang mengenakkan karena dianggap sebagai kelompok klenik dan sebutan-sebutan lainnya.

Namun demikian tahun 2017 lalu merupakan momen bersejarah bagi seluruh penghayat kepercayaan di Indonesia. Pada 7 November 2017, Mahkamah Konstitusi mengabulkan seluruh permintaan pemohon yang juga merupakan para penghayat kepercayaan dalam Uji Materi UU Adminduk no 24 tahun 2013 tentang pengosongan kolom agama di KK dan KTP.

Meskipun masih menyisakan banyak pekerjaaan rumah, utamanya terkait implementasi Putusan tersebut di level daerah, Putusan MK No. 97/2016 dipandang sebagai pintu masuk bagi pemulihan hak, harkat dan martabat penghayat kepercayaan atau penganut agama leluhur.

Dalijo tampil di panggung Festival Kearifan Lokal, Desa Salamrejo, Kulonprogo, Jumat (27/7). Aksinya yang kocak mampu menghibur ratusan pengunjung festival. [Foto : Ariwan K. Perdana]
Sebagai penutup acara, panggung memunculkan sandiwara dari grup kethoprak Desa Salamrejo yang juga menampilkan Dalijo Angkring. Salah satu ikon kethoprak RRI Yogyakarta ini sanggup membuat para penonton terhibur selama penampilannya yang berdurasi sekitar 1 jam.

Festival Kearifan Lokal ini memang memiliki tema Merayakan Keberagaman Nilai dan Tradisi Nusantara. Sehingga berbagai macam nilai dan keragaan Nusantara pun mendapatkan wadahnya di sini. Selain panggung hiburan, festival selama satu minggu ini juga diisi dengan aneka transfer pengetahuan melalui forum-forum diskusi setiap harinya yang juga bertemakan nilai-nilai dan tradisi Nusantara beserta dinamikanya.

“Bagi para penghayat kepercayaan, diharapkan ini akan menjadi momentum perayaan bagi mereka serta menjadi ajang untuk saling belajar dan juga menjadi bagian dari kampanye Inklusi di Indonesia.” Demikian ujar Valerianus B. Jehanu, staf Unit Kebebasan Beragama, Berkeyakinan dan Inklusi Sosial [KBBIS] SATUNAMA. [A.K. Perdana/SATUNAMA]

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 15 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Translate »