Lidah Buaya, Alternatif Pendapatan Keluarga Penghayat PEBM

Kisah Komunitas
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook15Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Memiliki keterampilan khusus adalah sebuah keuntungan bagi masyarakat dewasa ini. Terlebih apabila keterampilan tersebut bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Menyadari tentang hal ini, Pak Suyut salah satu anggota Paguyuban Eklasing Budi Murka (PEBM) Cabang Salamrejo Kulonprogo melihat bahwa di dalam komunitasnya, pelatihan keterampilan ekonomi merupakan sebuah kebutuhan.

Beliau melihat bahwa para anggota komunitasnya Paguyuban Eklasing Budi Murka membutuhkan sebuah pelatihan keterampilan yang bisa dilakukan secara bersama-sama (berkelompok) maupun individu.

Diskusi rencana pengolahan tanaman lidah buaya sebagai alternatif pendapatan keluarga kelompok penghayat pada Agustus 2017. (Foto : Dwi)

Oleh Karena itu, Pak Suyut memprakarsai ide pelatihan keterampilan ini dengan mengundang komunitasnya untuk mendiskusikan model pelatihan seperti apa yang cocok untuk dilakukan. Beliau baru saja berkunjung ke Rama Vera Kedai Lidah Buaya di Jalan KHA. Dahlan KM 1 Wates Kulonprogo, tempat budidaya dan pengolahan produksi lidah buaya milik Bapak Imam Rodli.

Ketertarikan Pak Suyut pada ide bisnis ini dimulai dari pengamatan dan pengalamannya tentang memelihara tanaman lidah buaya yang memiliki banyak khasiat dan manfaat bagi kesehatan. Selain itu, produk lidah buaya masih sangat sedikit yang mengembangkan di area Yogyakarta, terutama di wilayah Kulonprogor. Ketika bertemu dengan Pak Imam Rodli, rasa ingin tahunya semakin bertambah besar dan tekadnya untuk membuat pelatihan bisnis ini semakin kuat.

Beliau lalu membicarakan kemungkinan ini dengan Mbak Tri – program manajer Program Peduli LKiS yang juga menjadi mitra Program Peduli SATUNAMA. LKiS menyambut baik ide tersebut dan memberikan kesempatan pada Pak Suyut untuk mempresentasikan rencananya.

Kunjungan lapangan ke lahan budi daya lidah buaya. (Foto : Dwi)

Beberapa waktu kemudian, Tim Program LKiS berkunjung ke komunitas PEBM untuk mendiskusikan rencana ini secara lebih matang. Dibantu oleh Ketua PEBM Cabang Wates, Pak Daryono, bersama-sama mereka mengatur dan merencanakan diselenggarakannya kegiatan pelatihan ini, termasuk outcome dan outputnya.

Pelatihan dilakukan pada akhir Agustus 2017 dengan tujuan bahwa dalam rentang waktu lima – sembari menunggu bibit lidah buaya berkembang dan siap dipanen, anggota komunitas sudah bisa mempraktikkan hasil pelatihan, membuat perijinan, dan memasarkan produk. Nantinya, anggota komunitas akan didampingi oleh Community Organizer (CO) dari LKiS – di dalam mengembangkan bisnis mereka.

Pelatihan ini melibatkan tidak saja anggota komunitas PEBM, tetapi juga menghadirkan anggota komunitas penghayat lain di wilayah Kulonprogo, yaitu HB. Ada sekitar 18 peserta yang terdiri dari 12 anggota komunitas PEBM dan 6 anggota komunitas HB terlibat dalam pelatihan ini.

Selama dua hari dari tanggal 28-29 Agustus 2017 peserta dimentori oleh dua orang fasilitator yaitu Pak Yudi dari Dinas Koperasi Kab. Kulonprogo dan Pak Imam Rodli pewirausaha produk lidah buaya dan pemilik Rama Vera Kedai Lidah Buaya di Wates Kulonprogo.

Pelatihan membuat produk pangan dari lidah buaya di Rama Vera Kedai Lidah Buaya, Wates, Kulonprogo. (Foto : Dwi)

Bertempat di Dapur Semar Jalan Tentara Pelajar Wates Kulonprogo pelatihan hari pertama lebih difokuskan pada teori dan materi dari modul.  Sedangkan di hari kedua, peserta diajak untuk lebih banyak melakukan praktek pembuatan produk pangan – yang mengambil tempat di Rama Vera Kedai Lidah Buaya Jalan KHA. Dahlan KM 1 Wates Kulonprogo.

Bagi komunitas penghayat PEBM, pelatihan ini merupakan alat dukung bagi keterampilan pengolahan jamu herbal yang selama ini mereka kembangkan secara bersama-sama di komunitas. Oleh karena itu, adanya keterampilan ini akan mendukung mereka dalam peningkatan kapasitas ekonomi kelompok komunitas penghayat. Selesai pelatihan, peserta pelatihan dipandu oleh tim program LKiS menyusun rencana tindak lanjut (RTL) dan harapan mereka setelah mengikuti pelatihan ini.

Pak Daryono sebagai ketua paguyuban menyatakan bahwa komunitas akan melanjutkan program pelatihan ini dengan membuat kebun lidah buaya sendiri dan mencoba mengembangkan salah satu jenis usaha/produk yang diminati. Sebagai modal usaha, masing-masing anggota komunitas PEBM mendapatkan satu paket tanaman yang terdiri dari beberapa bibit lidah buaya siap budidaya.

Dengan adanya inisiasi pelatihan ini, diharapkan akan ada peningkatan kapasitas secara teknis dan pengetahuan tentang pengolahan tanaman lidah buaya. Ke depan, keterampilan dan pengetahuan yang mereka miliki akan mampu berkontribusi pada peningkatan kapasitas ekonomi kelompok-kelompok penghayat. (Berita & Foto : Agustine Dwi Kurniati/SATUNAMA)

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 36 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook15Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*