Jambore Sungai ke -2, Kuatkan Kerelawanan Komunitas

Jambore Sungai Indonesia ke -2
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook10Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Yogyakarta, 6 September 2017. Dalam kerja-kerja berjejaring organisasi masyarakat sipil, kerelawanan komunitas menjadi energi utama dalam aksi kolektif dan mobilisasi sumber daya.

Pembelajaran menarik didapatkan dalam penyelenggaraan Jambore Sungai Indonesia ke -2 di Yogyakarta pada 26-27, Agustus 2017 lalu, bahwa melihat kerelawanan tidak cukup hanya terlibat saja, tapi titik ujinya adalah kualitas kontribusi terhadap kerja-kerja jaringan atas keterlibatannya yang harus menjadi titik uji.

Ema Vidiastuti Utami, (kiri –red) pekarya SATUNAMA Yogyakarta sedang fokus memeriksa kualitas pendokumentasian proses Jamobore Sungai saat pertemuan refleksi-evaluasi penyelenggaraan Jambore Sungai ke-2 2017. Kepanitiaan Bersama soroti substansi dan teknis penyelenggaraan. Ledok Gebang Angler Fish Restaurant, Krajan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. (Rabu, 06/09). (Foto : Yoga)

Hal ini terangkum dalam pertemuan refleksi dan evaluasi penyelenggaraan Jambore Sungai yang dilaksanakan oleh Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta beserta jaringan organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam kepanitiaan bersama di Ledok Gebang Angler Fish Restaurant, Krajan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. (Rabu, 06/09).

Berangkat dari fakta bahwa kerelawanan orang-perorang dalam komunitasnya tetap bertumbuh, namun perlu juga diupayakan kerelawanan itu tumbuh berkualitas dalam kerja-kerja jaringan, seperti penyelenggaraan Jambore Sungai yang lalu.

Seperti apa yang diungkapkan oleh Ema Vidiastuti Utami dari SATUNAMA Yogyakarta, bahwa pendokumentasian proses tiap-tiap sesi belum optimal dilakukan, dalam semua bentuk pendokumentasian.

“Khusus soal pendokumentasian saya berkesimpulan kurang optimal, pendokumentasian seperti foto-foto yang bagus, notulensi transkripsi, dan rekaman audio-visual, kedepan kita perlu belajar lagi agar semakin baik pendokumentasian kegiatan-kegiatan terkait pengelolaan sungai”, jelas Ema.

Yoga dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) DIY menyatakan bahwa kerelawanan masing-masing orang yang terlibat dalam penyelenggaraan Jambore Sungai kali ini dilihatnya dari dua segi, yaitu kesadaran perorangan  dan kematangan persiapan, dan Yoga menyimpulkan bahwa dua hal tersebut sangat menentukan kualitas keterlibatan masing-masing elemen, baik secara kelembagaan maupun perorangan.

“Diri kita masing-masing sebagai anggota komunitas harus terus meningkatkan kualitas kerelawanan kita, bisa kita lihat dari kesadaran akan kerelawanan itu sendiri yang membangun motivasi, kemudian ditambah dengan kematangan persiapan sampai ke detail teknis dan substansi, kedua hal ini akan menentukan kualitas kerelawanan kita”, terang Yoga.

Menanggapi hal tersebut, Endang Rohjiyani, Ketua AKSY menyatakan bahwa pembelajaran penting terkait kerelawanan komunitas sungai di DIY dalam kerja-kerja jaringan mendapatkan energi baru untuk merintis kembali kerelawanan tersebut dengan semakin seringnya terjadi persentuhan antar komunitas sungai melalui kegiatan-kegiatan bersama.

“Saya optimis, untuk ke depannya akan lebih baik, kita mendapatkan energi tambahan untuk memperkuat kerelawanan komunitas, dengan semakin meningkatnya intensitas pertemuan dan persentuhan antar orang-orang dari berbagai komunitas, akan berbagi pengalaman dan pengetahuan”, terang Endang. (Prabu Ayunda Sora_SATUNAMA / Foto : Yoga_FPRB DIY).

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 34 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook10Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*