satunamasatunamasatunama

Editorial

Pemberdayaan Masyarakat dan Makna Hidup

CVE website - News stories - BCR grants closing soon - image 1
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah kisah indah tentang perjuangan sekelompok orang yang bersatu padu berjuang untuk melakukan pembebasan diri dan pemenuhan kebutuhan mereka. Semangat dan kerja keras mereka kemudian menciptakan “keajaiban”; sesuatu yang semula tidak mungkin menjadi mungkin dan nyata. Marthin Luther King Jr menggerakkan kaum kulit hitam Amerika Serikat melakukan long march ke ibukota Washington DC, sebagai bagian memperjuangkan cita-cita mereka sebagai warga negara yang setara dengan kaum kulit putih. Pidato King bertajuk Membelah Laut (Parting the Water) yang bersejarah itu telah mengawali salah satu gerakan hak-hak sipil terbesar di abad-20. King mengutip kisah perjuangan Musa bersama para pengikutnya dalam pidatonya itu.

Hal-hal seperti itu sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Belajar hikmah dari kisah-kisah hijrah atau eksodus dari kitab suci atau sejarah agama yang sesungguhnya memiliki unsur-unsur pemberdayaan masyarakat. Sidharta Gautama bersama pengikutnya pergi meninggalkan kemewahan istana kerajaan ayahnya untuk melakukan proses pencarian makna kehidupan yang memunculkan konsep tatanan masyarakat yang damai. Muhammad memimpin para pengikutnya melakukan hijrah ke Madinah dan membangun masyarakat baru di sana yang semakin menguatkan cikal bakal pemberdayaan masyarakat dan inklusi sosial. Karena pemberdayaan masyarakat sesungguhnya juga merupakan sebuah proses hijrah. Hijrah dari tidak atau kurang berdaya menjadi berdaya atau lebih berdaya.

Di masa modern, secara lugas pemberdayaan masyarakat kerap dimaknai sebagai cara untuk mencapai kekuatan bersama yang berkelanjutan oleh elemen-elemen masyarakat dalam sebuah komunitas demi mencapai kebutuhan bersama. Secara umum, Payne (1997) menjelaskan bahwa pemberdayaan pada hakekatnya bertujuan untuk membantu masyarakat mendapatkan daya, kekuatan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan dirinya, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan.

Ditelaah dari dua kata yaitu “pemberdayaan” dan “masyarakat”, maka bisa dipahami bahwa di dalam proses pemberdayaan masyarakat terdapat aktivitas memberikan atau mentransfer pengetahuan, kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat agar mereka lebih berdaya. Lebih jauh juga bisa dilakukan proses stimulasi, mendorong atau memotivasi masyarakat agar dapat menentukan dan mengusahakan apa yang menjadi pilihan atau kebutuhan hidupnya. Bisa dibilang bahwa pemberdayaan masyarakat sebenarnya merupakan sebuah perjuangan mendapatkan kedaulatan diri. Proses pemberdayaan masyarakat yang menggunakan pendekatan dialog juga merupakan sebuah cerminan humanisme yang tak lepas dari anasir komunikasi sebagai sarana berjuang.

Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dengan akumulasi pengetahuan, keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal. Konsep bekerja secara kolektif dan partisipatif dari para warga menjadi patokan bergulirnya kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dengan cara ini diharapkan masyarakat akan menjadi lebih paham secara pengetahuan, memiliki sikap dan akhirnya mampu mandiri melakukan tindakan-tindakan yang bisa memenuhi kebutuhannya. Dan bukanlah sebuah kebetulan jika sikap kolektif sesungguhnya merupakan salah satu ciri kuat bangsa Indonesia yang bisa menjadikan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat berjalan dengan baik.

Pada akhirnya, berjuang merebut kekuasaan memang berbeda dengan berjuang merebut kedaulatan dan harga diri. “Berkuasa” atas orang lain jelas berbeda dengan “berdaulat” atas diri sendiri. Penggalang pemberdayaan masyarakat tetap menyadari keterbatasan pribadi. Pada saatnya, mereka pun akan menyerahkan kekuasaan dan kepemimpinan mereka kepada rakyat. Rakyat didorong untuk melanjutkan usaha yang telah mereka rintis. Mereka pun akhirnya memilih kembali menjadi “orang biasa” atau memulai atau melanjutkan kerja yang sama di tempat lain. Di teritori itulah mungkin seseorang baru bisa dibilang sukses dalam mengisi dan memanfaatkan hidupnya. []

Gambar : livingsafetogether.gov.au

(Visited 269 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*