satunamasatunamasatunama

Editorial Februari 2016

Indonesia Mau Bergerak Kemana?

pinterest
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Pada hampir setiap  pagi di desa, angin bermain-main asyik, bercengkrama dengan matahari yang berenang di udara yang bersih. Dalam ruang semacam itu, cecuit burung menemukan tempatnya bernyanyi. Itulah rima, segenap yang berbeda di desa bisa memadu diri, menyebut sebagai harmoni.

Desa digambarkan sebagai orang-orang yang hidup dengan kesederhanaan jauh dari kemewahan. Desa diidentikkan dengan pemandangan alam yang indah seperti pegunungan dan pepohonan. Suasana dan kehidupan masyarakat desa ini salah satunya digambarkan pada Serat Centini yang ditulis sekitar abad 19. Pada saat Belanda datang ke Indonesia, mereka terpesona dengan keindahan alam Indonesia, terutama yang ada di pedesaan. Mereka selalu menggambarkan keindahan tersebut dengan rumah, pohon, sawah dan gunung.

Kini, rumusan-rumusan itu lamat-lamat tergerus oleh sebuah perubahan yang disebut modernisasi. Orang-orang desa bergerak dan berbondong ke kota. Kaum muda dengan usia produktif berlari ke kota, mencoba mencicipi janji manis tentang hidup yang lebih baik. Berpuluh tahun kemudian, desa mengalami kesepiannya.  Kota makin penuh sesak. Kota lalu digambarkan sebagai tempat bermukimnya orang-orang yang modern dan mempunyai kekayaan yang lebih dibandingkan dengan orang desa.

Hari-hari ini, kota tak cukup menjadi kota. Kota meluber pengaruhnya ke desa-desa. Muncul kota-kota baru. Alam desa yang awalnya adalah tempat tanah-tanah pangan produktif, beralih menjadi tanaman mati: bangunan tinggi, rumah-rumah yang seragam, dan unit-unit pertokoan. Kota pelan-pelan menggusur desa, menggantinya dengan kehidupan yang berbeda. Industri-industri lalu dibangun di areal pertanahan, tambang makin berderet panjang.

Perubahan desa menjadi kota, atau yang sering disebut sebagai aglomerasi kota, bukan tanpa membawa perubahan sistem sosial. Di satu sisi, lahan produktif warga tergadai dengan bangunan-bangunan modern. Dan mereka bertindak sebagai penonton ditengah riuh ramai warga baru, dan pusat perbelanjaan baru. Ruang mengais rejeki dari tenaga sendiri beralih menjadi kuli. Membayangkan anak-anak bermain-main di pematang sawah, sudah tak sanggup kita impikan. Desa mengalami keterpisahan, bukan hanya dalam ruang, tapi juga waktu.

Desa, kini berdiri sendiri, di tengah serbuan kota-kota. Di tengah serbuan gelombang pembangunan Indonesia. Ia bisa saja sewaktu waktu goyah dan hampir ambruk. Ia bisa sewaktu-waktu menantang kota. Tapi ia tak bisa sendiri. Warga desalah yang harus bahu membahu mempertahankan tanah, diri, dan kehidupan desanya. Desa harus mampu “ngemong” Indonesia, bukan sebaliknya.

Maka, kalaupun desa tunduk dan menjadi kota-kota baru, ada yang harus tetap diperjuangkan. Tidak hanya soal lahan-lahan yang dicaplok tuan tanah, tetapi juga cara hidup yang bertanggungjawab. Perubahan memang tak bisa dihindari, tapi akibat buruk harus dijauhi. Salah satu otokritik menunjuk kepada ketakmampuan kita untuk merasakan tempat kita tinggal sebagai bagian dari Hidup yang tiap kali membuat takjub. Kini kita kehilangan pesona dunia: harum kembang, suara burung, warna fajar, telah jadi ”pengetahuan”. Rumah telah jadi kamar persegi panjang, sebab desa telah menyeringai kota.

Bernostalgia tentang desa hari ini tidak cukup. Mengutuk pertumbuhan kota juga bukan jalan ampuh.  Keindahan desa dengan lembah dan bukit hijau bukan lagi masalah estetik. Ia jadi masalah ethik: bagaimana bersikap ke dunia, ke orang lain, dengan kehendak untuk tak menghancurkan. Pada gilirannya ia jadi masalah politik.Kehendak untuk menyelamatkan mau tak mau akan melibatkan orang lain, kekuasaan, dan juga harapan yang mungkin dan tak mungkin, yang harus dijangkau bersama.[].

(Visited 152 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*