Workshop Nasional

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

National Workshop on

[photo1]

A workshop on ‘Memeteri Bumi, Petani Mukti’ (By taking care of the earth farmers will be prosperous) was organized by SATUNAMA on 22 April 2009, at its Training Center, Sleman, Yogyakarta, with approximately100 participants from various sections of society such as village communities, village apparatus, NGOs, local government representatives and academics.

The resource persons were Prof. Muhammad Maksum (Agriculture Department of Gajah Mada University), Hendrastuti (Kulonprogo Farmer Network’s chairperson) and Sucipto H (the Control Office of Seeds and Horticulture Plants). The workshop was held concurrently with an organic farming product exhibition.

‘Nowadays Indonesia imports farming and livestock products to fulfill people’s need. In the short term this issue solves problems but in the long run it is suicidal. Now we depend on import of soybeans, salt, sugar, beef, peanuts, corns and rice. Isn’t that ironic? Above all, Indonesia is one of the countries that has longest coastal areas in the world but has to import 50% of its salt needs. There are serious crises since we do not have food sovereignty anymore,” says Prof. Dr. Muhammad Maksum.

Frans Toegimin, SATUNAMA’s Director, mentioned the government’s policies which do not protect the interests of local farmers. ‘This country is in the condition of keeping a time bomb. Government subsidies are spent more on industries. When the US dollar equals IDR 14,000 the government tries to depress it to IDR 11,000. This makes local industries depressed and encourages imports.’

Mr Toegimin added that we still need long-term efforts to make the government protect the interests of farmers. ‘We make efforts in policy advocacy as well as changing farmers’ orientation to embrace an organic farming system. Using unfriendly seeds, chemical fertilizers and pesticide has contributed to the poverty of farmers who are now used to instant cultivation and not independent. Therefore farmers need to unite to make changes to the government policies”.

Meanwhile, 12 farmer groups from Gunung Kidul, Bantul, Kulonprogo and Sleman districts of Yogyakarta participated in the exhibition of organic products. They exhibited and sold seeds of tubers, rice, and agricultural products such as cakes made from pumpkins, chips made from cassava and tubers, and traditional drinks.

Mia

Workshop Nasional

[foto1]

Pada tanggal 22 April 2009, SATUNAMA menyelenggarakan peringatan Hari Bumi melalui kegiatan workshop bertema Memetri Bumi, Petani Mukti (“Dengan Memelihara Bumi, Petani Sejahtera”), diikuti dengan pameran produk pertanian organik, dan orasi budaya. Kegiatan ini dilakukan di Pusat Pelatihan SATUNAMA di Dusun Duwet, Sendangadi, Mlati, Sleman.

Peserta yang hadir sekitar 100 orang yang berasal dari berbagai elemen masyarakat desa, aparat desa, LSM, pemerintah daerah, dan akademisi. Sebagai narasumber telah diundang Prof. Muhammad Maksum (Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada), Hendrastuti (Ketua Jaringan Petani Kulonprogo/JATIROGO), dan Sucipto H. (Balai Pengawasan Benih dan Tanaman Hortikultura).

“Saat ini Indonesia banyak mengimpor produk pertanian dan peternakan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Dalam jangka pendek, hal ini menyelesaikan masalah, tapi untuk jangka panjangnya ini bunuh diri. Kita sekarang bergantung pada impor kedelai, garam, gula, daging sapi, kacang tanah, jagung, dan beras. Ironis bukan? Negeri dengan pantai terpanjang
di dunia mengimpor 50% garamnya. Muncul krisis silih berganti karena kita tidak lagi memiliki kedaulatan pangan.,” tutur Prof. Dr. Muhammad Maksum.

Frans Tugimin, Direktur SATUNAMA juga menyayangkan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada petani. “Negara ini ada dalam kondisi menyimpan bom waktu. Subsidi pemerintah lebih banyak ke industri. Saat dolar ada di angka Rp 14.000, pemerintah mengupayakannya menjadi Rp 11.000. Hal ini membuat industri dalam negeri tertekan dan memudahkan produk impor masuk.”

Frans juga menambahkan bahwa kita masih butuh usaha panjang supaya kebijakan pemerintah berpijak pada petani. “Kita mengusahakannya pada dua ranah. Ranah pertama: advokasi kebijakan. Kedua, mengubah orientasi petani yang sudah terjerumus pada sistem pertanian revolusi hijau. Produktivitas pertanian yang didorong dengan benih, pupuk, dan pestisida kimia ini tidak ramah lingkungan. Ini menjadi sumber kemiskinan karena petani terbiasa dengan budaya instan dan tidak mandiri, karena tidak lagi memproduksi benih sendiri. Untuk memperjuangkan perubahan kebijakan pemerintah ini petani perlu bersatu padu, jangan sampai terpecah-pecah karena adanya perbedaan atribut”.

Di antara proses workshop di atas, berlangsung pula pameran produk pertanian organik di sekitar halaman parkir SATUNAMA. Sebanyak 12 kelompok tani yang berasal dari Gunung Kidul, Bantul, Kulon Progo dan Sleman. Bahan-bahan produk yang dipamerkan adalah benih umbi-umbian dan padi, umbi-umbian, beras, hasil olahan produk pertanian seperti kue dari waluh, keripik dari singkong maupun lembong, minuman jamu, dawet lembong, dll.

Orasi Budaya yang menampilkan Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso) cukup menghibur para peserta workshop dan pameran. Hal ini juga diharapkan dapat memotivasi para peserta yang sebagian dari mereka berprofesi sebagai petani untuk tetap memiliki komitmen membangun masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera.

Mia

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 94 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*