satunamasatunamasatunama

Relawan Internasional

Mahasiswa Australia Inisiasi Perpustakaan di Jomblang

IMG_2859
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Bulan Juli 2015 lalu Yayasan SATUNAMA menerima lima relawan dari The University of Melbourne, Australia. Melalui program Australian Volunteer Internasional (AVI), mereka membantu aktivitas pada divisi penguatan masyarakat yang sudah berjalan. Kelima mahasiswa tersebut adalah Alice (22) mahasiswa Neuroscience, Anna (20) mahasiswa Biomedicine, Louise (20) mahasiswa Antropologi, Maree (21) mahasiswa Science, Joyce (21) mahasiswa Sosiologi.

Mereka melakukan aktivitas penguatan masyarakat selama kurang lebih satu bulan. Adapun kegiatan yang mereka lakukan selama satu bulan adalah bermain dan belajar bersama anak-anak, berkebun, reboisasi, memasak, dll. Kegiatan tersebut dilakukan di wilayah Desa Sendangadi, Sleman, DIY dan Desa Kadilajo, Klaten, Jawa Tengah.

Dalam melakukan aktivitasnya, kelima mahasiswa tersebut dibagi dalam dua kelompok. Tim pertama berada di Desa Sendangadi berjumlah 2 orang (Alice dan Anna) dan tim kedua berada di Desa Kadilajo berjumlah 3 orang (Louise, Maree, dan Joyce).

Tim pertama yang berada di Desa Sendangadi tepatnya di Dukuh Jomblang memiliki fokus pada anak, lingkungan dan disabilitas. Harapannya, mereka dapat membantu dan mendorong terbentuknya percontohan Dukuh Inklusi di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.

“Setiap orang, difabel atau tidak, harus mendapat perlakuan yang sama.” ujar Alice menanggapi kerja yang dilakukannya tersebut.

Mereka tinggal bersama masyarakat di wilayah sasaran program. Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan di antaranya adalah mengajak anak-anak -baik yang difabel maupun yang bukan difabel- bermain bersama. Beberapa contoh permainan sederhana  yg mereka lakukan salah satunya adalah menempel ekor monyet pada gambar monyet yang sudah disediakan dengan mata tertutup, tebak warna huruf, dan membentuk benda dengan plastisin yang mereka buat dari tepung. Mereka terlihat bahagia dan senang sehingga tak ada batas atau sekat diantara meraka.

“Saya senang dengan permainan tempel ekor ini, karena kita dapat merasakan bagaimana menjadi orang yang tidak bisa melihat. Walaupun sudah diarahkan teman-teman dan bisa menempel tapi hasilnya tetap saja tidak tepat.” Demikian kesan Edo (12), seorang anak yang mengikuti permainan.

Kesan senada juga diungkapkan oleh Dela (11). “Mereka mengajari beberapa nyanyian dari Australia, yang saya paling suka Hokey Pokey” kata dia.

Selain bermain, mereka juga mengajak anak-anak untuk belajar Bahasa Inggris sederhana. Kegiatan di masyarakat tidak hanya berhenti di situ saja. Bertepatan dengan bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri, karena mayoritas masyarakat Indonesia umat muslim, mereka juga ikut dalam kegiatan takbir bersama di masyarakat. Meski berbeda agama, mereka mau ikut dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh masjid.

Menginisiasi Perpustakaan

Menjelang akhir kegiatan bersama masyarakat, para mahasiswa mengajak anak-anak untuk menanam pohon di belakang pos ronda dukuh, membuat cetak tangan dengan berbagai warna yang menunjukkan keberagaman dan kebersamaan anak-anak Dukuh Jomblang.

Sebelum pulang ke Australia, mereka melakukan presentasi akhir di hadapan anak-anak dari dua desa dan perwakilan dari pemerintah lokal wilayah sasaran program. Ada pun hal-hal yang dipresentasikan adalah aktivitas-aktivitas bersama mereka yang dirangkum dalam film dokumenter tentang kebanggaan orangtua anak-anak difabel terhadap anak-anak mereka.

Mereka juga mempresentasikan konsep buku scrap book yang siap cetak. Buku ini berisi tentang informasi mengenai disabilitas, termasuk di dalamnya adalah tokoh-tokoh besar dunia yang hidup dengan disabilitas, karya seni anak-anak Jomblang dan beberapa kutipan wawancara dengan orang tua.

“Kehadiran kakak-kakak mahasiswa ini sangat bermanfaat. Seperti anak-anak SD yang belum sadar dan paham bagaimana berinteraksi dengan anak-anak difabel, sekarang menjadi tahu. Untuk saya sendiri, Mbak Alice dan Mbak Anna mengajarkan kepada saya bagaimana seharusnya saya harus berperilaku kepada teman-teman dan saudara saya yang difabel.” Ujar Rakel (12) menanggapi aktivitas yang dilakukan para mahasiswa di desanya.

“Sebagai orangtua dan mewakili Dukuh Jomblang, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Alice dan Anna karena sudah bersedia belajar bersama tentang inklusivitas di desa kami.” Ujar Ratna (30) mewakili para orang tua dari Dukuh Jomblang.

Para mahasiswa juga telah membuat gerakan bersama dengan mengajak teman-teman dan anggota keluarganya di Australia dalam penggalangan dana guna menginisiasi perpustakaan di Dukuh Jomblang, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Para mahasiswa kemudian kembali ke Australia pada Sabtu (25/7) dengan segudang harapan untuk bisa kembali ke Indonesia untuk melihat perkembangan Dukuh Jomblang ke depan.

“Saya akan merindukan masyarakat dan anak-anak Jomblang. Ini pengalaman yang menakjubkan. Terimakasih untuk semua yang telah terlibat dan membantu proses ini, terutama untuk semua warga yang telah menerima kami. Semoga saya bisa kemari lagi untuk melihat inisiasi perpustakaan itu berdiri.” Kata Alice.

Penulis: Asep Nanda Paramayana
Editor: Ariwan K. Perdana

(Visited 81 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*