satunamasatunamasatunama

Tulisan Anak

Dari Mengeja Asmat Hingga Sangiran

Guyub Bocah di Sangiran
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Satunama.org – Pameran “Mengeja Asmat” tinggal menghitung hari. Adel, Pretty, Ruri dan teman-teman KOPER belajar dan berlatih musikalisasi puisi untuk aacara pembukaan pameran tersebut. Kami membawakan puisi karya Wiji Thukul yang berjudul “Bunga dan Tembok”. Dimana suatu yang kecil dapat bergandengan membentuk kekuatan demi keadilan dan kesejahteraan.

Seusai berlatih, kami bermain game yang dipandu oleh kak Kiki. Salah satunya menggabungkan pemikiran jadi dalam permainan tersebut kita dibagi ke dalam dua kelompok lalu masing-masing dari kita memikirkan suatu benda kemudian kami menggambarkannya dalam kertas plano secara bergantian. Selanjutnya, kita mendiskusikan gambar tersebut dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Perwakilan kelompok mempresentasikan ceritanya di depan teman-teman.

Kegiatan menyenangkan kami tak berhenti disitu saja. Kami juga ke Studio Kiri milik Mas Hafizh. Kami membantu menurunkan barang-barang yang akan digunakan pameran besok. Setelah itu kita pergi ke Sangiran.

Namun, kita perginya tanpa Mbak Maria. Mbak Maria ditinggal di Studionya Mas Hafizh. Nah dikarenakan kita tidak mengetahui jalan menuju Sangiran, kita menggunakan aplikasi GPS yang justru menuntun kita ke jalan yang teramat jauh, sehingga kita menanyakan jalannya ke penduduk sekitar. Di tengah perjalanan teman kami, Linda mabuk darat. Tapi ia sangat mandiri, sudah bawa plastik kresek sendiri, bawa minyak dan minum, perlengkapan sendiri jadinya ia tidak merepotkan orang lain. Berbeda dengan Linda, Yose dan Ahmad justru merdeka dengan hidup mereka. Mereka tak henti-hentinya bercerita, bercanda dan tertawa lepas. Ah si peramai suasana memang.

Di Sangiran kita belajar evolusi manusia. Disana kita dapat mengetahui jenis manusia dan hewan apa saja yang dulu pernah ada di Indonesia. Kita juga bisa belajar mengapa terjadi perbedaan jenis manusia yang salah satunya karena seleksi alam. Tak hanya itu, disana kita disuguhi fosil-fosil purbakala yang ditemukan di wilayah Indonesia yang kebanyak dari daerah Sangiran dan Ngandong. Di Museum Sangiran ini banyak sekali patung-patung manusia purba. Dari cuplikan video yang disuguhi disana ternyata patung-patung ini buatan orang luar negeri. Tapi Pak Gubernur (Jawa Tengah) kita, Ganjar pernah kesini lho! Pak Menteri Pendidikan, Anis Baswedan juga kesini bulan Februari kemarin. Tak mengherankan memang jika museum ini didatangi banyak wisatawan. Selain sejarah yang dapat kita pelajari, arsitektur dan tata ruangnya sangat indah dan menakjubkan. Di lluar ruang pameran, tata tamannya juga bagus dan indah dipandang mata. Fasilitasnya pun memadahi, di luar ada gazebo yang bisa kita gunakan istirahat tatkala kita lelah berkeliling. Kamar mandinya juga bersih, jadi buat teman-teman yang sering kebelet gak perlu khawatir lagi deh. Museum ini wajib kita kunjungi.

Lelah berwisata, kita kembali ke Studio Kiri untuk mengajak Mbak Maria bergabung bersama kami pulang. Di tengah perjalanan, jalanan macet. Dan kami melihat adek-adek sedang bermain layang-layang ditengah rel kereta api. Sungguh berbahaya bukan? Jangan ditiru ya teman-teman.

Kelelahan kami terbayar dengan ilmu dan kebahagiaan yang kami dapat hari ini. Ini cerita kami, mana ceritamu? Kapan-kapan kita bercerita bersama ya?

Penulis : Adhe Lella Wahyuning Firdaussy

(Visited 76 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*