Belajar Radio Komunitas di SATUNAMA

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Belajar Radio Komunitas di SATUNAMA

[foto1]

Radio merupakan sarana komunikasi yang mampu mengatasi kesulitan geografis sekaligus menjangkau masyarakat dengan status bawah. Saat ini di berbagai penjuru dunia bermunculan radio komunitas yang digunakan untuk berbagi informasi dalam sebuah komunitas.

Pasca kemerdekaan Timor Leste, banyak radio komunitas bermunculan. Sayangnya, hampir semua radio komunitas yang berdiri tanpa perencanaan jangka panjang. “Dua tahun lalu saat membuat rencana kerja, kami mengidentifikasi bahwa kami perlu mendapat pemahaman mendalam mengenai radio komunitas. Selama ini di Timor Leste radio komunitas diinisiasi oleh lembaga donor. Donor yang membelikan fasilitas, training, serta gaji untuk pengurus radio. Saat dukungan dari donor habis, banyak pengelola yang pergi. Kami-kami yang masih bertahan ingin mencari peluang supaya radio komunitas bisa bertahan,” tutur Prezado Ximenes, President Board Asosiasi Radio Komunitas Timor leste (ARKTL).

Prezado Ximenes yang akrab disapa Nono, menambahkan jika ia banyak mendengar tentang radio-radio komunitas di Indonesia yang bisa bertahan karena muncul atas inisiatif masyarakat. Ia dan rekan-rekannya yang berkecimpung di radio komunitas kemudian tertarik untuk belajar mengenai hal tersebut. Setelah mencari informasi dari internet dan rekan-rekan LSM lain mengenai kegiatan pemberdayaan masyarakat di Indonesia, para pegiat radio komunitas di Timor Leste mendapat rekomendasi untuk berlatih mengenai radio komunitas dari SATUNAMA.

Menanggapi keinginan mereka, SATUNAMA kemudian menyelenggarakan pelatihan mengenai radio komunitas. Selain Prezado Ximenes, ada empat orang pengurus radio komunitas di Timor Leste yang datang ke Balai pelatihan SATUNAMA di Yogyakarta. Di sini mereka belajar mengenai manajemen radio komunitas bersama tiga orang orang pelaku radio komunitas di Yogyakarta yang didampingi Radio SATUNAMA.

Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 28 Juni hingga 10 Juli 2010 ini mengajak pesertanya untuk belajar mengenai manajemen dan kemandirian radio komunitas termasuk didalamnya cara membuat iklan layanan masyarakat dan produk jurnalistik. Peserta berdiskusi mengenai penataan program siaran untuk menyelenggarakan siaran radio komunitas yang berkelanjutan. Siaran radio komunitas harus berbeda dengan radio publik dan radio komersial karena jadwal acaranya harus disesuaikan dengan aktivitas dan kebiasaan warga di komunitas tempat radio tersebut berdiri.

[foto2]

“Pelatihan ini bertujuan membangkitkan semangat para pengelola radio komunitas untuk berkreasi menciptakan program. Selain itu, pelatihan ini juga didesain supaya peserta memahami cara-cara mengajak komunitas berpartisipasi dalam mengelola program sehingga muncul regenerasi yang menjamin keberlanjutan radio kumunitas,” tutur Nurul Purnamasari, penanggung jawab Radio SATUNAMA. Ia juga menambahkan jika pengelola radio harus memahami isu-isu ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang berkembang supaya mampu meningkatkan kreativitas perencanaan program.

Pada akhir pelatihan, selama dua hari peserta bersama-sama mengunjungi Radio Komunitas Swara Kota, Radio Murakabi, Radio Balai Budaya Minomartani (BBM) dan Radio Komunitas Desa Kawasan Konservasi (Radekka). Mereka saling bertukar pengalaman dengan para pengelola keempat radio komunitas tersebut, mengenai cara mengajak masyarakat berpartisipasi mengelola radio hingga cara untuk membiayai operasional radio.

Belajar Radio Komunitas di SATUNAMA

[foto1]

Radio merupakan sarana komunikasi yang mampu mengatasi kesulitan geografis sekaligus menjangkau masyarakat dengan status bawah. Saat ini di berbagai penjuru dunia bermunculan radio komunitas yang digunakan untuk berbagi informasi dalam sebuah komunitas.

Pasca kemerdekaan Timor Leste, banyak radio komunitas bermunculan. Sayangnya, hampir semua radio komunitas yang berdiri tanpa perencanaan jangka panjang. “Dua tahun lalu saat membuat rencana kerja, kami mengidentifikasi bahwa kami perlu mendapat pemahaman mendalam mengenai radio komunitas. Selama ini di Timor Leste radio komunitas diinisiasi oleh lembaga donor. Donor yang membelikan fasilitas, training, serta gaji untuk pengurus radio. Saat dukungan dari donor habis, banyak pengelola yang pergi. Kami-kami yang masih bertahan ingin mencari peluang supaya radio komunitas bisa bertahan,” tutur Prezado Ximenes, President Board Asosiasi Radio Komunitas Timor leste (ARKTL).

Prezado Ximenes yang akrab disapa Nono, menambahkan jika ia banyak mendengar tentang radio-radio komunitas di Indonesia yang bisa bertahan karena muncul atas inisiatif masyarakat. Ia dan rekan-rekannya yang berkecimpung di radio komunitas kemudian tertarik untuk belajar mengenai hal tersebut. Setelah mencari informasi dari internet dan rekan-rekan LSM lain mengenai kegiatan pemberdayaan masyarakat di Indonesia, para pegiat radio komunitas di Timor Leste mendapat rekomendasi untuk berlatih mengenai radio komunitas dari SATUNAMA.

Menanggapi keinginan mereka, SATUNAMA kemudian menyelenggarakan pelatihan mengenai radio komunitas. Selain Prezado Ximenes, ada empat orang pengurus radio komunitas di Timor Leste yang datang ke Balai pelatihan SATUNAMA di Yogyakarta. Di sini mereka belajar mengenai manajemen radio komunitas bersama tiga orang orang pelaku radio komunitas di Yogyakarta yang didampingi Radio SATUNAMA.

Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 28 Juni hingga 10 Juli 2010 ini mengajak pesertanya untuk belajar mengenai manajemen dan kemandirian radio komunitas termasuk didalamnya cara membuat iklan layanan masyarakat dan produk jurnalistik. Peserta berdiskusi mengenai penataan program siaran untuk menyelenggarakan siaran radio komunitas yang berkelanjutan. Siaran radio komunitas harus berbeda dengan radio publik dan radio komersial karena jadwal acaranya harus disesuaikan dengan aktivitas dan kebiasaan warga di komunitas tempat radio tersebut berdiri.

[foto2]

“Pelatihan ini bertujuan membangkitkan semangat para pengelola radio komunitas untuk berkreasi menciptakan program. Selain itu, pelatihan ini juga didesain supaya peserta memahami cara-cara mengajak komunitas berpartisipasi dalam mengelola program sehingga muncul regenerasi yang menjamin keberlanjutan radio kumunitas,” tutur Nurul Purnamasari, penanggung jawab Radio SATUNAMA. Ia juga menambahkan jika pengelola radio harus memahami isu-isu ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang berkembang supaya mampu meningkatkan kreativitas perencanaan program.

Pada akhir pelatihan, selama dua hari peserta bersama-sama mengunjungi Radio Komunitas Swara Kota, Radio Murakabi, Radio Balai Budaya Minomartani (BBM) dan Radio Komunitas Desa Kawasan Konservasi (Radekka). Mereka saling bertukar pengalaman dengan para pengelola keempat radio komunitas tersebut, mengenai cara mengajak masyarakat berpartisipasi mengelola radio hingga cara untuk membiayai operasional radio.

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 203 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*