Pelatihan Fasilitator CEFIL di NTT

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Pelatihan Fasilitator CEFIL di NTT

Pada tanggal 27 September hingga 2 Oktober 2010 nanti, SATUNAMA bekerja sama dengan Konrad Adeanuer Stiftung (KAS) akan menyelenggarakan pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) untuk region NTT. Sebelumnya, Budi Susilo dan Sri Sulastri dari Divisi Capacity Building SATUNAMA mempersiapkan fasilitator lokal yang diikuti oleh alumni pelatihan CEFIL di wilayah NTT. 11 orang alumni CEFIL menjadi peserta pelatihan yang berlangsung dari tanggal 20 hingga 21 Mei 2010 lalu di Maumere, Flores, NTT

Pada pelatihan ini, calon fasilitator belajar mengenai pemahaman dan ketrampilan untuk memfasilitasi materi Basic CEFIL. “Acara selama dua hari tersebut bertujuan menyiapkan supaya alumni CEFIL mampu menjadi fasilitator pelatihan mendatang. Kami berdiskusi mengenai konsep dan kerangka pelatihan Basic CEFIL. Selain itu, kami juga mengembangkan materi supaya sesuai dengan kondisi yang dialami masyarakat Nusa Tenggara Timur” tutur Sri Sulastri. Ia juga menambahkan jika para alumni CEFIL di wilayah Flores pernah mengadakan pelatihan Liberty yang berisi tentang pendidikan kewarganegaraan. Pelatihan CEFIL mendatang akan memadukan antara modul CEFIL Basic dari SATUNAMA, modul Liberty, dan isu-isu lokal.

Selain mempersiapkan para alumni CEFIL untuk melakukan pendidikan politik, pelatihan fasilitator ini juga melatih supaya para calon fasilitator ini memiliki ketrampilan fasilitasi dengan metode pendidikan orang dewasa. Pertemuan ini juga membentuk tim inti yang akan merumuskan materi pelatihan bermuatan lokal supaya pelatihan CEFIL region NTT mampu menghasilkan pemimpin masyarakat sipil yang peka terhadap situasi sekitarnya. Tim lokal ini juga bertindak sebagai penanggungjawab persiapan penyelenggaraan pelatihan basic CEFIL.

CEFIL merupakan pelatihan reguler yang awalnya diselengarakan di Balai Pelatihan SATUNAMA, Yogyakarta sejak tahun 1998. Mulai tahun 2009, pelatihan ini mulai diadakan di daerah. CEFIL membahas materi-materi mengenai demokrasi diyakini oleh banyak bangsa sebagai suatu sistem pemerintahan yang dapat menjamin warga masyarakat mencapai kehidupan yang sejahtera. Pelatihan ini muncul atas dasar perlu adanya para pemimpin yang akan membawa organisasi masyarakat sipil yang memiliki komitmen pada sistem sosial politik yang adil.

Materi-materi pelatihan seperti demokrasi, globalisasi, hak asasi manusia, partisipasi, masyarakat sipil, kepemimpinan, analisis sosial, resolusi konflik dan pengorganisasian, akan membekali peserta menjadi pemimpin masyarakat sipil yang demokratis. Kedepannya, lulusan CEFIL diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memiliki daya tahan dan daya juang untuk melakukan perubahan sosial serta memiliki komitmen untuk melindungi hak-hak minoritas.

CEFIL muncul berdasarkan kondisi Indonesia paska reformasi. Negeri ini mengalami transformasi dan transisi menuju masyarakat demokratis. Muncul dinamika politik yang cepat dan juga kompetisi serta konflik di kalangan elite. Hal ini akan menciptakan masyarakat demokratis apabila didukung dengan pengembangan institusi yang demokratis, adanya kondisi sosial dan individu yang mendukung demokrasi, dan struktur struktur sosial dan kultur politik yang demokratis

Pelatihan Fasilitator CEFIL di NTT

Pada tanggal 27 September hingga 2 Oktober 2010 nanti, SATUNAMA bekerja sama dengan Konrad Adeanuer Stiftung (KAS) akan menyelenggarakan pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) untuk region NTT. Sebelumnya, Budi Susilo dan Sri Sulastri dari Divisi Capacity Building SATUNAMA mempersiapkan fasilitator lokal yang diikuti oleh alumni pelatihan CEFIL di wilayah NTT. 11 orang alumni CEFIL menjadi peserta pelatihan yang berlangsung dari tanggal 20 hingga 21 Mei 2010 lalu di Maumere, Flores, NTT

Pada pelatihan ini, calon fasilitator belajar mengenai pemahaman dan ketrampilan untuk memfasilitasi materi Basic CEFIL. “Acara selama dua hari tersebut bertujuan menyiapkan supaya alumni CEFIL mampu menjadi fasilitator pelatihan mendatang. Kami berdiskusi mengenai konsep dan kerangka pelatihan Basic CEFIL. Selain itu, kami juga mengembangkan materi supaya sesuai dengan kondisi yang dialami masyarakat Nusa Tenggara Timur” tutur Sri Sulastri. Ia juga menambahkan jika para alumni CEFIL di wilayah Flores pernah mengadakan pelatihan Liberty yang berisi tentang pendidikan kewarganegaraan. Pelatihan CEFIL mendatang akan memadukan antara modul CEFIL Basic dari SATUNAMA, modul Liberty, dan isu-isu lokal.

Selain mempersiapkan para alumni CEFIL untuk melakukan pendidikan politik, pelatihan fasilitator ini juga melatih supaya para calon fasilitator ini memiliki ketrampilan fasilitasi dengan metode pendidikan orang dewasa. Pertemuan ini juga membentuk tim inti yang akan merumuskan materi pelatihan bermuatan lokal supaya pelatihan CEFIL region NTT mampu menghasilkan pemimpin masyarakat sipil yang peka terhadap situasi sekitarnya. Tim lokal ini juga bertindak sebagai penanggungjawab persiapan penyelenggaraan pelatihan basic CEFIL.

CEFIL merupakan pelatihan reguler yang awalnya diselengarakan di Balai Pelatihan SATUNAMA, Yogyakarta sejak tahun 1998. Mulai tahun 2009, pelatihan ini mulai diadakan di daerah. CEFIL membahas materi-materi mengenai demokrasi diyakini oleh banyak bangsa sebagai suatu sistem pemerintahan yang dapat menjamin warga masyarakat mencapai kehidupan yang sejahtera. Pelatihan ini muncul atas dasar perlu adanya para pemimpin yang akan membawa organisasi masyarakat sipil yang memiliki komitmen pada sistem sosial politik yang adil.

Materi-materi pelatihan seperti demokrasi, globalisasi, hak asasi manusia, partisipasi, masyarakat sipil, kepemimpinan, analisis sosial, resolusi konflik dan pengorganisasian, akan membekali peserta menjadi pemimpin masyarakat sipil yang demokratis. Kedepannya, lulusan CEFIL diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memiliki daya tahan dan daya juang untuk melakukan perubahan sosial serta memiliki komitmen untuk melindungi hak-hak minoritas.

CEFIL muncul berdasarkan kondisi Indonesia paska reformasi. Negeri ini mengalami transformasi dan transisi menuju masyarakat demokratis. Muncul dinamika politik yang cepat dan juga kompetisi serta konflik di kalangan elite. Hal ini akan menciptakan masyarakat demokratis apabila didukung dengan pengembangan institusi yang demokratis, adanya kondisi sosial dan individu yang mendukung demokrasi, dan struktur struktur sosial dan kultur politik yang demokratis

(Visited 146 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*