Refleksi Pelatihan Mobilizing Support Batch IV: Menenun Ketahanan dari Dalam

Satunama.org – Pertanyaan mendasar bagi organisasi masyarakat sipil hari ini bukan lagi sekadar apa yang bisa dilakukan, melainkan bagaimana perubahan benar-benar bisa terjadi dan bertahan. Di titik inilah pelatihan Mobilizing Support (MS) menjadi relevan, sebagai ruang untuk merefleksikan dan menggeser cara pandang tentang bagaimana perubahan sosial dibangun.

Peserta pelatihan sedang mendiskusikan analisis masalah dan solusi di wilayah kerja masing-masing

SATUNAMA melalui program Change the Game Academy kembali menghelat Pelatihan Mobilizing Support Batch IV pada 20-25 April 2026 di SATUNAMA Training Center, Yogyakarta. Namun, jika dilihat lebih dalam, pelatihan ini bukan sekedar ruang untuk menambah keterampilan. Lebih dari itu, ia menjadi upaya untuk menggeser paradigma: dari bekerja untuk masyarakat menjadi bekerja bersama masyarakat, dari menjalankan program menjadi membangun ekosistem yang memungkinkan perubahan tumbuh dan berkelanjutan.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang mengembangkan strategi keberlanjutan program berbasis komunitas.

Perubahan Berkelanjutan

Salah satu refleksi paling kuat dari pendekatan Mobilizing Support adalah kritik halusnya terhadap pola kerja organisasi masyarakat sipil yang seringkali menempatkan komunitas sebagai penerima manfaat pasif. Dalam pendekatan ini, keberhasilan diukur dari seberapa banyak layanan diberikan, bukan dari seberapa dalam perubahan berakar dan seberapa lama ia bertahan.

Mobilizing Support bergerak ke arah sebaliknya. Ia menempatkan komunitas sebagai aktor utama, subjek yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kepentingan atas transformasi yang dibutuhkan. Perubahan tidak “dibawa” dari luar, tetapi “ditumbuhkan” dari dalam. Ketahanan komunitas sejatinya adalah hasil dari kemampuan komunitas untuk memahami realitasnya sendiri, mengartikulasikan kepentingannya, dan menggerakkan dukungan yang diperlukan untuk mencapainya.

Proses sosial hanya mungkin terjadi ketika komunitas mampu menjalin kesalingtergantungan strategis yang sehat dengan berbagai pemangku kepentingan, di mana setiap pihak memiliki kepentingan untuk menjaga inisiatif yang ada. Dalam kerangka ini, jaringan sosial, legitimasi komunitas, pengetahuan lokal, hingga kepercayaan yang terbangun merupakan aset penting, menjadi modal dan fondasi utama ketahanan.

Refleksi lain yang mengemuka adalah bagaimana Mobilizing Support mengajak organisasi untuk memahami ulang konsep kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang dimiliki oleh segelintir aktor, melainkan sebagai sesuatu yang dapat dipengaruhi, dinegosiasikan, dan didistribusikan. Dalam praktiknya, ini berarti organisasi masyarakat sipil tidak cukup hanya mengkritik tetapi harus mampu berperan dalam proses-proses pengambilan keputusan hingga implementasi kebijakan.

Peserta sedang menganalisis siapa sekutu dan lawan dalam kerja mereka di komunitas

Ketahanan komunitas, dalam perspektif ini, sangat ditentukan oleh sejauh mana komunitas memiliki posisi dalam proses tersebut. Ketika suara komunitas menjadi bagian dari keputusan, maka upaya kolektif memiliki peluang lebih besar untuk berkelanjutan. Tantangan berat? Tentu saja. Namun jika berbicara dalam kerangka pemenuhan hak, tidak ada yang lebih paham tentang sebuah komunitas selain komunitas itu sendiri.

Pelatihan MS IV juga mengajak peserta untuk memposisikan program sebagai bagian dari proses membangun gerakan. Gerakan ditandai oleh meningkatnya kesadaran kolektif, meluasnya dukungan publik, dan terbangunnya sinergi lintas sektor.

Dalam sebuah gerakan, perubahan tidak bergantung pada satu organisasi atau satu intervensi. Ia bertumpu pada energi bersama yang terus bergerak. Karena itu, sumber daya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dicari dari luar, melainkan sesuatu yang perlu diidentifikasi, diperkuat, dan dihubungkan dari dalam komunitas itu sendiri.

Ketahanan sebagai Proses

Barangkali refleksi paling mendalam dari pelatihan ini adalah kesadaran bahwa ketahanan bukanlah kondisi akhir yang bisa dicapai sekali jadi. Ia adalah proses yang terus berlangsung. Proses belajar, beradaptasi, dan membangun relasi. Mobilizing Support, dengan segala pendekatannya, pada akhirnya adalah tentang membangun kapasitas untuk terus bergerak dalam proses tersebut. Ia menuntut organisasi untuk menjadi fasilitator perubahan yang mampu membaca konteks, membangun kepercayaan, dan menggerakkan banyak pihak. Bukan sekadar mencari project atau melaksanakan program.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan ini menjadi semakin penting bagi keberlanjutan dan martabat sebuah komunitas. Tentunya demi menjaga sebuah harapan agar terus hidup: bahwa komunitas yang memiliki ketahanan adalah komunitas yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu dan berhak menentukan arah perubahannya sendiri secara berkelanjutan.

Penulis: Ariwan KP | Foto: Antonius Andri Setyo Purwanto 

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca