Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian: Pembelajaran dari Pelatihan Local Fundraising Batch VIII 

Satunama.org – Yayasan SATUNAMA Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Local Fundraising Batch VIII pada 18–22 Mei 2026 di SATUNAMA Training Center, Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh sepuluh peserta dari lima organisasi masyarakat sipil yang berasal dari Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung, yaitu Bentala Aceh, Jeumpa Puteh, Jemari Sakato, Ecosociopreneur Institute, dan Muslimah Khansa Community.

Pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap perubahan lanskap pendanaan internasional yang semakin menyempit. Sejumlah donor besar, termasuk USAID, telah mengumumkan penarikan diri dari Indonesia, sementara kondisi fiskal dalam negeri pun tidak memberikan ruang yang memadai bagi organisasi masyarakat sipil. Dalam konteks tersebut, penggalangan dana lokal menjadi strategi yang semakin relevan untuk memperkuat keberlanjutan dan kemandirian organisasi masyarakat sipil. 

Pelatihan dibuka oleh Edy Purwaka selaku Direktur Eksekutif Yayasan SATUNAMA Yogyakarta, yang mengajak peserta merefleksikan kondisi pendanaan CSO di Indonesia dalam konteks perubahan global. Edy menekankan bahwa modal sosial di Indonesia sebenarnya cukup tinggi, namun selama ini belum dikelola secara maksimal sebagai sumber daya bagi gerakan sosial. Selama lima hari, peserta diajak melewati rangkaian materi yang mencakup perubahan perspektif, pemetaan donor, strategi komunikasi, penyusunan rencana aksi, hingga evaluasi.

Peserta berpartisipasi dalam permainan terkait materi “Mendengarkan secara Aktif”

Salah satu hambatan yang segera diidentifikasi di hari pertama adalah hambatan psikologis. Banyak peserta mengaku adanya rasa tidak nyaman ketika harus mendekati pihak lain untuk meminta dukungan finansial. Fasilitator Suharsih meluruskan perspektif tersebut: penggalangan dana bukan tentang meminta, melainkan mengajak orang lain untuk ikut berkontribusi pada perubahan sosial yang juga mereka perjuangkan. Para peserta kemudian berlatih langsung melalui sesi mencocokkan kepentingan organisasi dengan kepentingan calon donor, baik donor individu maupun perusahaan/sektor swasta.

Hari kedua dan ketiga difokuskan pada pemetaan donor dan penguatan komunikasi. Perwakilan organisasi diminta mengidentifikasi calon donor dari lingkaran terdekat mereka, mulai dari keluarga, sahabat, alumni, hingga pengusaha lokal dan perusahaan yang memiliki irisan kepentingan dengan isu yang digarap. Latihan ini membuka mata banyak peserta bahwa potensi donor lokal yang selama ini ada di sekitar mereka sesungguhnya belum pernah secara aktif didekati.

Salah satu pesan yang mengemuka selama pelatihan adalah pentingnya membangun relasi, bukan sekadar mencari dukungan finansial. “Fundraising itu juga merupakan friend raising,” jelas Agustine Dwi, salah satu fasilitator. 

Pada sesi komunikasi, para peserta belajar menyusun Case for Support, yaitu narasi organisasi yang menjawab mengapa lembaga mereka layak untuk didukung. Mereka juga berlatih membuat brosur, konten media sosial, dan mempraktikkan elevator pitch di hadapan sesama peserta. Satu prinsip yang ditekankan untuk menyusun case for support: ceritakan perubahan yang sudah nyata terjadi, bukan sekedar rencana yang masih di atas kertas. “Cerita perubahan ini akan menjadi bekal kuat untuk mendekati calon donor,” tambah Ariwan Perdana, fasilitator dalam sesi tersebut. 

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah LFR8_d4-33-2-1024x683.jpg
Peserta mempratikkan proses bekerja sama dalam sebuah tim untuk materi “Membentuk Tim LFR”

Hari keempat menjadi sesi paling konkret, di mana setiap organisasi menyusun Rencana Penggalangan Dana Lokal secara lengkap. Mereka menentukan proyek yang akan didukung, memetakan calon donor, memilih metode yang sesuai, serta menghitung estimasi biaya dan potensi dana yang dapat dihimpun. 

Fasilitator kemudian mengajak peserta meninjau kembali kelayakan rencana tersebut. Apakah target yang ditetapkan realistis? Apakah pembagian peran dalam tim sudah proporsional? Apakah masih terdapat celah yang perlu diperkuat sebelum rencana dijalankan? Hari keempat ditutup dengan presentasi rencana penggalangan dana dari masing-masing organisasi yang mendapatkan masukan langsung dari fasilitator dan sesama peserta. 

Pada hari kelima, seluruh peserta menjalani sesi penyusunan rencana aksi penggalangan dana. Fasilitator mengajak peserta untuk mengidentifikasi acara apa yang paling berpeluang untuk menggalang dana, tentu dengan mempertimbangkan budaya dan kebiasaan masyarakat di wilayah masing-masing. Fasilitator juga menekankan pentingnya memanfaatkan momentum tertentu, seperti peringatan hari-hari besar atau agenda komunitas, untuk memperkuat peluang penggalangan dana sekaligus memperluas dampak dan jangkauan audiens. 

Fasilitator menekankan bahwa Return on Investment (ROI) bukan hanya urusan bisnis, melainkan juga ukuran keberlanjutan sebuah gerakan sosial. Beberapa organisasi melakukan revisi berdasarkan masukan yang diterima, menyesuaikan langkah awal mereka agar lebih terukur dan dapat segera ditindaklanjuti.

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan teknis dalam penggalangan dana lokal, tetapi juga perspektif baru tentang pentingnya membangun relasi, kepercayaan, dan dukungan dari masyarakat sekitar. Dengan rencana penggalangan dana yang telah disusun, masing-masing organisasi diharapkan dapat mulai memperkuat kemandirian pendanaan serta keberlanjutan kerja-kerja sosial yang mereka jalankan. 

Penulis: Ganggas Prakosa Sigit Wibowo | Foto: Dokumentasi Program CtGA Indonesia

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca