Satunama.org – Harga sayur melonjak, satu kilogram telur terasa mahal, minyak goreng naik berkali-kali lipat. Bahkan cabai rawit yang selama ini hanya menjadi pelengkap masakan, kini bisa dibeli dengan harga yang lebih tinggi daripada satu kilogram beras. Dahulu, makan malam dengan berbagai lauk dan sayuran terasa sebagai hal yang lumrah. Namun, kini makan dengan lauk saja atau bahkan sayuran saja dapat menjadi pilihan yang berbeda bagi sebagian masyarakat.
Di balik perubahan yang terasa sederhana dalam keseharian tersebut, ada persoalan yang lebih besar. Cuaca yang tidak menentu, kekeringan ekstrem, keterbatasan pakan ternak, hingga terganggunya pertumbuhan tanaman dapat memengaruhi produksi pangan. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan terhadap sistem pangan, sementara permintaan pasar, biaya produksi, distribusi, dan berbagai faktor ekonomi lainnya turut menentukan harga pangan. Tanpa disadari, perubahan iklim perlahan memengaruhi apa yang tersedia di pasar dan, pada akhirnya, apa yang ada di piring kita.
Ketika El Niño Menguji Sistem Pangan
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dunia saat ini adalah climate change. Cuaca yang tidak menentu dan perubahan suhu merupakan beberapa dampak yang semakin dirasakan. Pada 2026, fenomena El Niño kembali menjadi perhatian. NOAA melalui Climate Prediction Center pada September 2026 menyatakan bahwa El Niño telah berkembang di Pasifik tropis dan terus menguat. NOAA memperkirakan terdapat lebih dari 90 persen peluang El Niño mencapai kategori very strong pada musim gugur dan musim dingin 2026–2027. Untuk periode Oktober–Desember 2026, NOAA juga memperkirakan peluang sebesar 75 persen terjadinya peristiwa yang akan melampaui kekuatan El Niño yang tercatat sejak 1950. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola suhu dan curah hujan di berbagai wilayah. Di Indonesia, NOAA mencatat kondisi curah hujan yang cenderung lebih rendah seiring dengan menguatnya El Niño (NOAA, 2026).
Di Indonesia, dampak tersebut perlu mendapat perhatian karena El Niño dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. BMKG memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kekeringan, mengganggu ketersediaan air, serta memengaruhi produksi pangan. Pada sektor pertanian, defisit air dapat mengganggu fase pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, bahkan meningkatkan risiko puso. BMKG juga mengingatkan bahwa gangguan terhadap produktivitas pertanian pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas harga pangan.
Bagi petani, perubahan kondisi tersebut bukan sekadar persoalan cuaca. Ketika ketersediaan air berkurang, tanaman yang membutuhkan kondisi basah dapat tumbuh tidak maksimal. Pola tanam pun perlu disesuaikan dengan kondisi iklim yang berubah. Bagi nelayan, perubahan cuaca dan kondisi laut juga dapat memengaruhi aktivitas melaut dan hasil tangkapan. Ketika kondisi cuaca memburuk, frekuensi melaut dapat berkurang demi keselamatan.
Artinya, dampak perubahan iklim dapat muncul sejak pangan masih berada di lahan pertanian, kebun, peternakan, maupun laut. El Niño tidak secara otomatis menentukan harga pangan, tetapi gangguan terhadap produksi dan rantai pasok dapat menambah tekanan terhadap ketersediaan pangan dan pasar. FAO mencatat bahwa El Niño, bergantung pada kekuatan dan waktunya, dapat menimbulkan risiko serius terhadap produksi pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan ketahanan pangan.
Dari Produksi ke Isi Piring

Ketika produksi terganggu, persoalan berikutnya adalah pasokan. Hasil panen yang menurun atau terganggunya aktivitas produksi dapat mengurangi jumlah pangan yang masuk ke pasar. Dalam kondisi tertentu, tekanan terhadap pasokan dapat ikut mendorong kenaikan harga. Namun, perubahan harga pangan tidak hanya ditentukan oleh cuaca atau produksi. Permintaan pasar, biaya produksi, distribusi, perdagangan, dan kondisi ekonomi juga turut memengaruhinya. Karena itu, perubahan iklim lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat memperbesar kerentanan sistem pangan terhadap gejolak harga.
Persoalannya, kenaikan harga pangan tidak dirasakan dengan cara yang sama oleh semua orang. Bagi masyarakat dengan daya beli terbatas, kenaikan harga dapat berarti berkurangnya pilihan makanan sehari-hari. Pangan yang sebelumnya mudah dijangkau mungkin mulai digantikan oleh pilihan yang lebih murah. Lauk berprotein dapat dikurangi, variasi sayuran dapat menyempit, atau jumlah makanan yang dibeli disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Di titik inilah perubahan iklim menjadi semakin dekat dengan kehidupan manusia. Dampaknya tidak lagi hanya terlihat pada perubahan suhu, kekeringan, atau kondisi lahan, tetapi juga pada pilihan yang tersedia ketika seseorang berdiri di depan rak pasar atau menyiapkan makanan di meja makan.
Perubahan iklim mungkin bermula dari perubahan suhu dan pola hujan, tetapi dampaknya dapat berakhir pada perubahan isi piring.
Ketika Pangan Menjadi Persoalan Keamanan Manusia
Perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi ancaman bagi alam, tetapi juga bagi manusia. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga menyentuh persoalan human security. Konsep human security yang diperkenalkan UNDP melalui Human Development Report 1994 menggeser perhatian keamanan dari perlindungan wilayah dan negara menuju perlindungan manusia. Salah satu dimensinya adalah food security, bersama dengan keamanan ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan dimensi lainnya. UNDP juga menempatkan freedom from fear dan freedom from want sebagai dua komponen utama dalam konsep tersebut.
Dalam konteks pangan, keamanan bukan hanya berarti tidak mengalami kelaparan. Ketika seseorang semakin sulit mengakses pangan yang cukup, aman, dan bergizi, persoalannya dapat berkembang menjadi ancaman terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup. Dengan demikian, gangguan terhadap sistem pangan akibat tekanan iklim tidak berhenti pada persoalan produksi atau harga, tetapi dapat memengaruhi kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Selama ini perubahan iklim sering dipersepsikan sebagai persoalan lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, salah satu ancaman yang paling dekat dengan masyarakat justru dapat terlihat di meja makan. Ketika pangan semakin sulit diproduksi, tersedia, atau dijangkau, yang terancam bukan hanya sektor pertanian dan perikanan, tetapi juga human security.
Ketika perubahan isi piring terjadi karena masyarakat semakin sulit mengakses pangan yang cukup dan bergizi, perubahan iklim telah menjadi persoalan keamanan manusia.
Menjaga Pangan, Menjaga Kehidupan
Karena itu, menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya dengan membicarakan bagaimana mengurangi emisi atau menjaga lingkungan. Ketahanan pangan juga perlu menjadi bagian dari upaya adaptasi. Pemerintah perlu memperkuat kesiapsiagaan sektor pangan melalui kebijakan yang mampu mengantisipasi risiko iklim, mendukung petani dan nelayan dalam menghadapi perubahan kondisi, memperkuat sistem informasi iklim, serta menjaga agar pangan tetap tersedia dan dapat diakses masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan. Konsumsi yang lebih bijak, pengurangan food waste, diversifikasi pangan, serta dukungan terhadap praktik produksi yang lebih ramah lingkungan merupakan bagian dari upaya yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menjaga iklim bukan hanya tentang menyelamatkan bumi, tetapi juga memastikan setiap orang tetap memiliki hak atas pangan yang layak. Sebab ketika cuaca mulai menentukan isi piring kita, saat itulah perubahan iklim telah menjadi persoalan yang tidak lagi bisa diabaikan.
Referensi
UNDP. Human Security and Natural Disasters.
NOAA Climate Prediction Center. (2026, 10 September). ENSO Diagnostic Discussion.
FAO. El Niño in a hotter world: Acting early to protect food and livelihoods.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2024). Antisipasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
Perubahan Iklim. (n.d.). Gagal panen akibat perubahan iklim.
UNDP. (1994). Human Development Report 1994: New Dimensions of Human Security.
Penulis: Kharina Asthna Athiya (Intern di Unit MEL, PP, Kom) | Editor dan Foto: Agustine Dwi
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.