Satunama.org – Bertepatan dengan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional pada 26 Mei 2026, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta bersama RSIY PDHI dan Dompet Dhuafa menggelar forum webinar mengenai isu kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia (lansia). Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dan pemerhati lansia yang memberikan pengetahuan serta membuka ruang penting untuk berdiskusi tentang tantangan nyata yang dihadapi kelompok lansia di tengah perubahan zaman.
Direktur Eksekutif SATUNAMA, Edy Purwaka, membuka webinar dengan menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menyediakan layanan yang ramah dan inklusif bagi kelompok senior. Edy memaparkan bahwa 17,8 persen warga Yogyakarta saat ini adalah lansia, yang menghadapi tantangan dalam mengakses fasilitas kesehatan secara daring. Sistem antrean online hingga telemedisin mungkin terasa mudah bagi generasi muda, namun menjadi hambatan besar bagi banyak lansia yang tidak familiar dengan teknologi.
Juperta Panji Utama, Direktur Dompet Dhuafa, menjelaskan bahwa pada tahun 2045 jumlah lansia diproyeksikan mencapai 20,43 persen penduduk Indonesia. Artinya satu dari setiap lima orang adalah lansia. Data BPS tahun 2025 juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah memasuki fase ageing population sejak tahun 2021, dengan jumlah lansia mencapai 11,93 persen dari total populasi.
Meski demikian, lansia tidak selalu identik dengan ketergantungan. Sebanyak 92,5 persen lansia masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Namun sekitar 7,5 persen lainnya hidup dalam kondisi rentan, baik dari sisi kesehatan fisik, ekonomi, maupun sosial. Banyak lansia mengalami kesepian dan keterasingan sosial yang berdampak pada kesehatan mental mereka.
Di tengah meningkatnya jumlah lansia dan berbagai tantangan yang mereka hadapi, dukungan dari berbagai pihak menjadi semakin penting. Namun demikian, Juperta menyoroti bahwa perhatian terhadap isu lansia dalam sektor filantropi nasional masih relatif rendah. Donasi untuk program pendampingan dan pemberdayaan lansia disebut baru mencapai sekitar 5 persen dari total donasi nasional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pendekatan berbasis kelompok menjadi penting dalam pendampingan lansia. Pada sesi kedua, terapis program lansia Yayasan SATUNAMA Yogyakarta, Berlian Prafitri, A.Md.Kep., menjelaskan bahwa lansia kerap mengalami penurunan daya ingat, berkurangnya aktivitas sosial, hingga munculnya kecemasan yang berpengaruh pada kualitas tidur.
Berbagai kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan mental mereka. Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta mengembangkan program pemberdayaan berbasis kelompok bagi lansia. Melalui berbagai aktivitas bersama, para lansia diajak untuk kembali aktif bersosialisasi dan saling mendukung. Menurut Berlian, pendekatan ini terbukti membantu lansia menjadi lebih percaya diri, aktif, dan tidak merasa sendirian.
Pada sesi ketiga, Cania Mutia, M.Psi., seorang psikolog dari RSIY PDHI, menyoroti pentingnya kesehatan mental lansia. Ia menjelaskan bahwa banyak lansia kehilangan semangat hidup ketika merasa dirinya tidak lagi produktif seperti dulu. Mengenai hal ini, ia menekankan bahwa makna hidup di usia lanjut tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik atau pekerjaan, tetapi juga oleh pengalaman hidup, nilai-nilai yang diwariskan, dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Sesi keempat ditutup oleh dr. Prafita Cahya Dewanti, Sp.PD., Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSIY PDHI, yang menekankan pentingnya active ageing atau menjalani usia lanjut secara aktif dan sehat. Ia menjelaskan bahwa olahraga rutin dapat membantu menjaga kekuatan otot, keseimbangan tubuh, kesehatan jantung, hingga menurunkan risiko demensia dan depresi. Ia merekomendasikan beberapa jenis aktivitas fisik bagi lansia, seperti jalan kaki atau berenang minimal 150 menit per minggu, latihan penguatan otot, latihan keseimbangan seperti yoga dan tai chi, serta peregangan agar tubuh tetap fleksibel. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya konsultasi dokter bagi lansia dengan kondisi kesehatan tertentu sebelum memulai olahraga rutin.
Diskusi sepanjang webinar menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi lansia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga akses layanan, kesehatan mental, dan dukungan sosial yang mereka terima. Forum ini ditutup dengan pesan bahwa merawat lansia bukan hanya tanggung jawab keluarga atau tenaga medis, tetapi tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dan sektor filantropi perlu ikut memastikan agar para lansia dapat menjalani usia senja dengan sehat, aktif, dan bermakna.
Penulis: Ganggas Prakosa Sigit Wibowo | Editor: Agustine Dwi | Foto: Ganggas Prakosa Sigit Wibowo
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.