Penguatan Peran Perempuan Dalam Organisasi Puanhayati

Satunama.org – Puanhayati yang merupakan singkatan dari Perempuan Penghayat Indonesia, merupakan organisasi sayap perempuan penghayat kepercayaan yang berdiri pada tahun 2017. Organisasi ini di bawah naungan dari Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI). Sebagai salah satu bagian dari masyarakat sipil, Puanhayati menghadapi berbagai tantangan dan kendala eksternal. Dalam rangka memperkuat kapasitas kader perempuan penghayat khususnya di DIY, SATUNAMA bersama pengurus Puanhayati menggelar acara Pelatihan HAM, Gender, dan Kepemimpinan bertempat di Grand Inna Malioboro Kota Yogyakata, Jumat- Minggu (21-23 Agustus 2020).

Selama 3 hari para anggota Puanhayati Yogyakarta dibekali dengan materi HAM, Gender, Public Speaking, Kepemimpinan Perempuan dan Organisasi. Sri Endang Sulistyowati ketua Puanhayati Yogyakarta menuturkan bahwa Puanhayati Yogyakarta termasuk salah satu wilayah yang baru dibentuk dibanding wilayah lainnya. “Kendala yang dihadapi oleh Puanhayati Yogyakarta adalah masih banyaknya anggota perempuan di paguyuban yang lebih memilih aktif di paguyubannya ketimbang ikut serta dalam kegiatan mewakili Puanhayati Yogyakarta,” ujarnya.

Sri Endang Sulistyowati
Sri Endang Sulistyowati

Dalam pelatihan yang diikuti oleh 20 orang perempuan penghayat dari berbagai kelompok paguyuban penghayat kepercayaan di wilayah Yogyakarta. Sri Endang Sulistyowati menjelaskan Paguyuban Penghayat Kepercayaan di Yogyakarta lebih kurang berjumlah 40, namun dikarenakan kondisi pandemi maka peserta yang terlibat tidak bisa mewakili setiap paguyuban yang ada di Yogyakarta. Dari sekitar 10 paguyuban yang hadir dalam pelatihan, kebanyakan dari mereka masih mengalami kekurangan dalam pengembangan keorganisasian perempuan penghayat. Kendala dari hal ini adalah sulitnya pengumpulan para perempuan dalam upaya penggerakan kebangkitan penghayat.

”Harapannya setelah kegiatan ini maka akan menjadikan batu loncatan untuk Puanhayati Yogyakarta” ujar Sri Endang.

Perempuan dan Organisasi

Selama pelatihan materi yang diberikan selalu berkaitan dengan penguatan kapasitas organisasi. Salah satu materi mengenai kepemimpinan perempuan dengan mengahdirkan ketua Fatayat NU Yogyakarta untuk berbagi ilmu. Khotimatul Husna, S. Ag memaparkan bahwa menjadi seorang pemimpin harus berani dan mau mengayomi seluruh anggotanya. Fatayat NU mampu bangkit dari keterbatasan karna peran penting setiap perempuan terutama semangat generasi muda. Dengan bantuan generasi muda mendorong kreatifitas untuk berkarya dan lebih memiliki banyak ruang ditengah perkembangan zaman.

Selain itu materi mengenai organisasi juga disampaikan oleh ketua Puanhayati Pusat Dian Jennie. Dalam paparannya mengenai keterlibatan perempuan dalam organisasi Dian Jennie menjelaskan bahwa perempuan mempunyai peran penting dalam perkembangan suatu ajaran. Perempuan diharapkan mampu diberi tanggungjawab dalam pengambilan kebijakan supaya muncul loyalitas dalam suatu keorganisasian. “Para perempuan harus terus belajar dalam nilai- nilai spiritual sehingga mampu menurunkan ilmu dan kepercayaan kepada anak- anak nya” paparnya.

Tujuan dari pemberian materi ini nantinya agar Puanhayati masuk ke level kota/kabupaten. Kehadiran Puanhayati diharapkan mampu menimbulkan semangat para perempuan untuk mampu bicara didalam forum. Melepaskan stigma gender terhadap perempuan itu sendiri karena perempuan adalah pelestari dari harmonisasi masyarakat.

Penulis: Puti Ayu Anandita | Editor: Bima Sakti

Tinggalkan komentar

English EN Bahasa Indonesia ID
%d blogger menyukai ini: