SATUNAMA Luncurkan Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa

SATUNAMA Luncurkan Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa

Menangani isu kesehatan jiwa bukanlah persoalan sederhana. Butuh perhatian serius dari semua pihak. Dari pihak pemerintah sampai non-pemerintah. Salah satunya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Semua perlu bersinergi, dan berkolaborasi dalam menangani masalah kesehatan jiwa. Pembagian peran semua pemangku kepentingan mutlak diperlukan demi terwujudnya masyarakat yang sehat jiwa.

Yayasan SATUNAMA Yogyakarta yang selama ini telah bergelut di dalam isu-isu kemanusiaan dan kelompok-kelompok termarginal akhirnya mewujudkan keterlibatannya secara nyata terhadap kelompok Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). SATUNAMA sendiri mengadopsi pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan juga Rehabilitasi Berbasis Institusi (RBI) dalam kerja-kerja di ranah kesehatan jiwa.

Wujud keterlibatan tersebut hadir dalam bentuk kegiatan seminar bertopik  “Berbagi Peran Bersama untuk Edukasi dan Pencegahan Bunuh Diri” dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa se-dunia tanggal 10 Oktober 2019 lalu. Tidak hanya seminar, Yayasan SATUNAMA pun meluncurkan Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa (RPKJ) seusai seminar.

Butuh Sinergi Antar Pihak.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar adalah Frans Tugimin dari Yayasan SATUNAMA dengan materi “Giat Yayasan SATUNAMA dalam Pengelolaan Kesehatan Jiwa di Masyarakat”, dr. Akhmad Akhadi Syamsudhuha Direktur RSJ Grhasia dengan materi “Peran Layanan Kesehatan Jiwa Tersier dalam Kelolaan Kasus Resiko Bunuh Diri”.

Dukungan pelayanan terhadap kesehatan jiwa juga harus melibatkan berbagai pihak yang peduli dengan isu ini. Oleh karenanya, hadir juga narasumber dr. Ashra Vina, Senior Program Officer Community Mental Health CBM Indonesia dengan materi “Peran Lembaga Donor dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat”, dan Benny Prawira dari Into The Light dengan materi “Peran Into The Light dalam Respons Kesehatan Jiwa”. Sementara moderator acara seminar adalah Aspi Kristiati dari RSJ Grhasia.

Peserta seminar berasal dari banyak pihak yang berkepentingan di dalam penanganan isu kesehatan jiwa selain pekerja Yayasan SATUNAMA. Ada dari Dinas Sosial DIY, Dinas Kesehatan DIY, Dinas Sosial Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kab. Sleman, Satpol PP Kab. Sleman, Satpol PP Kota Yogyakarta, RSJ Grhasia, Puskesmas Mlati I, Puskesmas Mlati II, TPKJM Mlati II, Perwakilan LSM Mitra di DIY, dan Perwakilan CSR.

Akhmad Akhadi Syamsudhuha Direktur RSJ Grhasia sedang menyampaikan materi tentang “Peran Layanan Kesehatan Jiwa Tersier dalam Kelolaan Kasus Resiko Bunuh Diri”

Kegiatan seminar berlangsung  di Kompleks SATUNAMA pada Selasa, 22 Oktober 2019 dari pkl. 10.00 – 15.00 WIB. Seminar dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama diisi pembicara dari SATUNAMA dan RSJ Grhasia. Sesi kedua dilanjutkan setelah makan siang diisi oleh pembicara dari CBM Indonesia dan Into The Light.

Seminar berlangsung interaktif . Banyak pertanyaan datang dari para peserta seminar. Salah satu peserta dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menanyakan apakah ada kemungkinan untuk berkolaborasi dalam menganai masalah kesehatan jiwa.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri dari Into The Light Benny Prawira bahwa pintu kerja sama terbuka lebar dalam menangani masalah kesehatan jiwa. Baik secara akademis maupun praktis.

William Aipipidely selaku Direktur Yayasan SATUNAMA ketika menutup seminar mengatakan bahwa seminar ini memberikan banyak pelajaran bagi SATUNAMA.

Apalagi SATUNAMA sendiri sebelumnya masih awam dengan isu kesehatan jiwa. Namun tekat dan kemauan akhirnya mengantarkan mereka sampai ke titik ini. Beliau pun menambahkan bahwa pertanyaan mengenai sinergi berbagai pihak untuk menangani isu kesehatan jiwa tentu akan berjalan. Tinggal menentukan bentuk sinerginya seperti apa.

“Ternyata masalah kesehatan jiwa tidak sesederhana yang kita bayangkan. Hari ini SATUNAMA mendapatkan banyak pelajaran ke mana harus berlayar dan pergi”, ungkap William menutup pembicaraan.

SATUNAMA Resmi Punya RPKJ

Setelah acara seminar, dilanjutkan lagi acara launcihing Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa (RPKJ). Ini merupakan dua kegiatan yang saling berhubungan. Acara launching ditandai dengan pemukulan gong oleh Staf Ahli Gubernur DIY Umar Priyono dan penandatanganan prasasti secara simbolik. Hadir pula dalam acara launching Wakil Bupati Sleman Hj. Sri Muslimatun yang berkesempatan menyampaikan sambutan.

Staf Ahli Gubernur DIY Umar Priyono saat memukul gong sebagai tanda diresmikannya Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa (RPKJ) milik Yayasan SATUNAMA

Dalam sambutannya perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah tersebut menyatakan dukungannya terhadap keberpihakan SATUNAMA dalam isu kesehatan jiwa. Hal ini sejalan dengan program yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaaten Sleman, DIY.

“Pemerintah telah serius menangani masalah kesehatan jiwa dengan menempatkan psikiater di masing-masing Puskesmas Se-Kabupaten Sleman. Ini yang pertama di DIY dan juga seluruh Indonesia”, ungkap Wakil Bupati diikuti tepuk tangan peserta yang hadir.

Methodius Kusumahadi selaku pembina Yayasan SATUNAMA pun menyatakan dukungan yang senada. “Kehadiran RPKJ ini menjadi momen berharga bagi SATUNAMA. Menjadi bukti nyata bahwa Yayasan SATUNAMA sejak berdirinya hingga saat ini masih setia kepada pelayanan-pelayanan kemanusiaan.” Kata beliau.

Persembahan musik karawitan Laras Srikandi dari kelompok ibu-ibu Kampung Duwet, Desa Sendangadi semakin menambah kemeriahan launching RPKJ. Acara launching ini akhirnya ditutup dengan resepsi bersama di gedung RPKJ yang baru saja diresmikan. [Berita & Foto : Oka Gualbertus. Editor : A.K. Perdana]

 

Leave a Comment

Translate »