Kesejahteraan Psikologis

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Based on GNP approach, Indonesia is a country which rich of natural resources. How come Indonesia left compared to other country which is smaller and having limited natural resources such German or Dutch? German is a country which fell twice in World War – not only in political side but all support for the human life inside, while Dutch is a country which its area is below the sea level.

…aren’t smart is Ok, unemployment is Ok, the most important is happy …

Mental attitude seems something which is distinguishing Indonesia to the two example countries which mentioned before. Whole journey of the two countries are documented honestly on its records where they learn and taking lesson learned. Focus and responsibility are mental attitude which first of all are being strengthened to develop nation, even to develop to be better than before the World War.

Phase where we need to put our concern before go through the effort to achieve psychological well-being is self introduction. Self introduction is necessary to be done as a basic knowledge for self development process. Then, we need mirror to help ourselves to see (understanding) our self.

350 years in colonialism had rise slave pattern or character inside the Indonesian majority society. The pattern or character derived through parenting.

Alternative which offered to cut the slave pattern or character is school of parenting. The purpose of school of parenting is to prepare the (future) parents so that they have enough knowledge and skill to relate (educate) children in certain age, by doing this family is become a house to return (as a reference). How come? Family is a means to develop children positive emotion, train children to communicate, train children to cooperate, strengthening creativity, etc; and all is start in parenting pattern.

Positive emotion: calmness, but not inferior, empathy or compassion, but creative and sharing in strength, forgiveness, but not ignorant, contentment, but sharing in strength, generous, but smart.

Media around us also expected to support the positive situation by giving information or news which is build positive emotion. This recent time, media tend to broadcast or inform information or news (even entertainment) which less construct positive emotion. Several negative element such as inferiority, violence, and illogical jumps which absorbed then by the time, the mindset will be illogical also.Berdasarkan pendekatan GNP, Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya alam. Bagaimana bisa Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara yang berukuran lebih kecil dan lebih terbatas kekayaan sumber daya alamnya seperti misalnya Jerman atau Belanda? Jerman adalah negara yang 2x jatuh dalam perang dunia – tidak hanya jatuh dari sisi politik tapi juga seluruh faktor pendukung kehidupan manusia di dalamnya, sedangkan Belanda adalah negara yang wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

Ada kecenderungan masyarakat Indonesia,

nggak pinter nggak apa-apa, nggak kerja nggak apa-apa, yang penting senang.

Sikap mental, nampaknya sesuatu yang membedakan Indonesia dengan dua contoh negara tersebut. Seluruh perjalanan kedua negara tersebut didokumentasikan dengan jujur dalam catatan sejarahnya, dari situlah mereka belajar dan memetik makna. Fokus dan tanggung jawab adalah sikap mental yang pertama-tama diperkuat untuk mulai membangun negara, bahkan membangun untuk jadi lebih baik daripada sebelumnya.

Satu tahapan yang perlu diperhatikan sebelum kita melangkah menuju usaha pencapaian kesejahteraan psikologis adalah pengenalan diri. Pengenalan diri ini perlu dan penting dilakukan sebagai dasar pengetahuan kita mengembangkan diri. Oleh karena itu, kita perlu cermin untuk membantu kita melihat diri sendiri.

350 tahun berada dalam situasi kolonialisme memunculkan pola atau karakter budak dalam diri mayoritas masyarakat Indonesia. Pola atau karakter ini diturunkan melalui pola pengasuhan anak dan orang tua.

Alternatif yang bisa ditawarkan untuk memutus pola atau karakter budak tersebut adalah sekolah pengasuhan. Sebuah tantangan yang dilemparkan karena sampai hari ini tidak ada sekolah persiapan untuk menjadi orang tua. Tujuan keberadaan sekolah pengasuhan ini adalah mempersiapkan orang tua sehingga mereka mempunyai cukup pengetahuan dan ketrampilan untuk berhubungan (mendidik) anak usia tertentu, dengan demikian keluarga menjadi rumah untuk kembali (sebagai sumber referensi). Bagaimana bisa? Keluarga sebagai sarana untuk membangun emosi positif anak, melatih anak berkomunikasi, melatih anak bekerjasama, melatih kreativitas, dan sebagainya; dan semuanya berawal dari pola pengasuhan orang tua.

Emosi yang positif : tenang, tapi tidak rendah diri, empati atau kepedulian, tapi kreatif dan berbagi potensi, memaafkan, tapi tidak dengan bodoh, kegembiraan, dengan berbagi potensi, murah hati, tapi tidak bodoh.

Media yang berada di sekitar kita juga diharapkan untuk mendukung kondisi tersebut dengan memberikan informasi atau pemberitaan yang membangun emosi positif. Saat ini, media cenderung menayangkan berbagai informasi atau pemberitaan (atau bahkan hiburan) yang kurang membangun emosi positif. Beberapa unsur negatif seperti minder, kekerasan, dan loncatan-loncatan tidak logis kalau terserap maka lama-kelamaan, kerangka berpikir juga akan menjadi tidak logis.

Melalui Gross National Happiness, kita diundang untuk ingin tahu (menggali) seperti apa kita dan apa yang kita cita-citakan sebagai bagian dari dunia.

(Visited 87 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

1 Comment

  1. Kami butuh pelatihan tentang internal audit, kalo ada tolong informasi profil facilitas dan biayanya. Tkanls

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*