Winongo, Persentuhan Komunitas Antarsegmen Perkaya Gagasan Hulu-Hilir

Forum Group Discussion Baseline Winongo
Para partisipan melakukan pengamatan terhadap gambar hasil penginderaan jauh (versi cetak kawasan sungai Winongo) tahun 2016 untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek fisik untuk memperdalam data-informasi dan menuliskan harapan jangka panjang terkait tata kelola hulu-hilir kawasan Winongo. Aula Kantor Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. (24/10) Foto : Ema Vidia_SATUNAMA.
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Satunama.org – Yogyakarta- Minggu, 29 Oktober 2017. Bertempat di Aula Pertemuan Kantor Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, SATUNAMA bersama FISIP UNS (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan Universitas Sebelas Maret Surakarta), Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA), dan jejaring Komunitas Warga Bantaran Sungai Winongo gelar rembug terfokus peta kondisi kawasan Sungai Winongo untuk memperkaya gagasan hulu-hilir dan pembangunan berbasis kawasan.

Bertemu dan Membangun Gagasan

Para partisipan melakukan pengamatan terhadap gambar hasil penginderaan jauh (versi cetak kawasan sungai Winongo) tahun 2016 untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek fisik untuk memperdalam data-informasi dan menuliskan harapan jangka panjang terkait tata kelola hulu-hilir kawasan Winongo. Aula Kantor Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. (24/10) Foto : Ema Vidia_SATUNAMA.

Ema Vidiastuti Utami dari SATUNAMA Yogyakarta menyampaikan bahwa data dan informasi yang telah digali dan dirangkum oleh rekan-rekan mahasiswa FISIP UNS menjadi bahan bagi forum untuk digali lebih dalam.
“Pertemuan ini untuk memperdalam data dan informasi yang telah digali dan dirangkum oleh rekan-rekan mahasiswa FISIP UNS yang bekerjasama dengan SATUNAMA sejak awal 2017, informasinya meliputi aspek fisik dan non-fisik terkait kondisi terkini Winongo”, terang Ema.

Ema melanjutkan, yang terpenting dari kegiatan ini adalah mempertemukan berbagai komunitas warga bantaran sungai Winongo untuk memperkuat prinsip tata kelola hulu-hilir untuk pembangunan berbasis kawasan.
“Pertemuan ini penting sebagai media pertemuan bagi berbagai komunitas warga bantaran sungai Winongo untuk memperdalam data dan informasi terkait kondisi terkini sungai Winongo, dengan ini kita mengharapkan tumbuhnya prinsip tata kelola hulu-hilir dengan pendekatan kawasan oleh komunitas dan para pemangku kepentingan”, lanjut Ema.

Demikian dengan Achmad Ramdhon, Dosen Jurusan Sosiologi FISIP UNS yang mengampu kelas perubahan sosial dan perkotaan menerangkan bahwa sangat penting untuk meningkatkan intensitas pertukaran pengetahuan oleh komunitas antarsegmen di sungai Winongo untuk membangun kerangka pikir tatakelola hulu-hilir .

“Gagasan tata kelola hulu-hilir di sepanjang sungai Winongo bisa terbangun dan kuat jika ada media persentuhan komunitas warga antarsegmen, sebagai wadah pertukaran informasi untuk munculnya gagasan-gagasan baru, komunitas warga yang ada di hulu bisa paham apa tantangan yang ada ditengah dan hilir, demikian sebaliknya, sehingga bisa terbangun pengetahuan bersama terjait potensi dan tantangan Winongo secara menyeluruh”, terang Ramdhon.

Ramdhon menambahkan, agar Winongo punya agenda bersama dan kolektif, kebutuhannya adalah data dan informasi yang menyeluruh tentang Winongo, “Kalau data dan informasi sudah menyeluruh dan terdokumentasikan dengan baik, maka terbuka peluang besar untuk menyusun agenda kolektif dalam bentuk cetak biru atau peta jalan tata kelola Winongo kedepannya”, tambah Ramdhon.

Hal senada disampaikan oleh Endang Rohjiani, ketua FKWA DIY, bahwa kebutuhan sungai Winongo adalah membangun profil berbasis kawasan untuk memperkuat gagasan tata kelola hulu-hilir, “Memang harapan kami kegiatan ini menjadi tambahan energi dan lebih menjamin keberlanjutan agenda besar membangun cetak biru tata kelola Winongo berbasis kawasan, tapi memang harus kuat dulu data dan informasinya”, terang Endang.

Memperkuat Partisipasi Komunitas

Para partisipan melakukan pengamatan terhadap gambar hasil penginderaan jauh (versi cetak kawasan sungai Winongo) tahun 2016, Yogyakarta. (24/10) Foto : Ema Vidia_SATUNAMA.

Pertemuan ini melibatkan partisipan dari berbagai komunitas warga sungai Winongo, seperti yang disampaikan oleh Esa Anggraini dari SATUNAMA Yogyakarta, komunitas yang diundang untuk berpartisipasi memperkaya data dan informasi kondisi terkini sungai Winongo dan membangun harapan bersama untuk jangka panjang.

“Kita mengundang berbagai komunitas untuk terlibat penuh sebagai partisipan dalam kegiatan ini, karena yang paham Winongo ya komunitas warga itu sendiri, ada rekan-rekan komunitas difabel, komunitas tanggap bencana (KTB), komunitas pantau winongo, kelompok perempuan usaha kecil, warga yang menambang pasir, produsen pabrik tahu, kader muda-mudi kampung, kampung siaga bencana, dan komunitas pengelolaan risiko bencana”, terang Esa.

Juariah, kordinator komunitas difabel Kecamatan Jetis menerangkan bahwa dirinya dan komunitas difabel memang penting untuk terlibat dalam banyak media pertemuan. “Terimakasih kami sudah diundang, kelompok difabel memang harus terlibat, kalau ngomongin sungai sama pembangunan, ya harus melihat kebutuhan difabel”, terang Bu Juju, sapaan akrabnya.

Juriah melanjutkan, kalau soal difabel yang dibutuhkan juga tentang keakuratan data dan informasi dasar dan kebutuhan akan akses bagi difabel untuk pembangunan fisik dan semua yang non-fisik. “Kalau di Jetis itu data difabel kan dari Dinas Sosial dan sepertinya memang butuh dipastikan keakuratannya supaya jelas berapa jumlah difabel yang ada juga apa saja kebutuhan aksesnya untuk pembangunan fisik dan non-fisik”, lanjut Bu Juju.

Terkait dengan partisipasi komunitas warga dalam perencanaan tata kelola sungai dan perkotaan, Wahyu Triana dari komunitas kader muda-mudi Kampung Badran menjelaskan bahwa setiap Kampung harus berinovasi dan berswadaya untuk memetakan wilayahnya, agar komunitas warga punya data dan informasi wilayah yang akan sangat berguna untuk perencanaan dan pengelolaan risiko bencana.

“Akan sangat baik kalau komunitas warga punya data dan informasi wilayahnya, selain bermanfaat untuk dasar perencanaan kampung, juga bisa membantu kampung untuk lebih matang dalam pengelolaan risiko bencana, misalnya saja data tentang golongan darah apa saja yang tersedia di wilayah kita akan sangat membantu untuk mengelola risiko penangan medis, dan banyak manfaat lainnya dari data dan sistem informasi, termasuk untuk perencanaan kampung dan kelurahan”, terang Wahyu.

Hal senada disampaikan oleh Ema dari SATUNAMA Yogyakarta, bahwa partisipasi komunitas warga dalam perencanaan pembangunan dapat dibangun dengan pemahaman utuh terhadap tantangan dan potensi wilayahnya serta secara kawasan, dan sistem informasi menjadi wadah bagi komunitas dan semua pihak untuk membangun gagasan tata kelola hulu-hilir kawasan Winongo.

“Kalau komunitas warga paham tantangan dan potensi wilayahnya, juga paham kawasan hulu-hilir Winongo, akan sangat membantu untuk berpartisipasi meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan, dan sistem informasi menjadi wadah bagi komunitas dan semua pihak untuk membangun gagasan tata kelola hulu-hilir kawasan Winongo”, terang Ema.  (Prabu Ayunda Sora_SATUNAMA / Foto : Esa R. Anggraini_SATUNAMA)

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 15 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*