Belajar tentang Keanekaragaman-hayati (agro biodiversity) di USC Timor Leste

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Learning on Agro Biodiversity at USC Timor Leste

[photo1]

With regard of learning on agro biodiversity from its expert, Dr. Awegachew Teshome from USC Canada, Genie and Maman from SATUNAMA Yogyakarta were invited by USC Timor Leste to attend in a seminar and doing a field trip in Dili, Timor Leste that was sponsored by USC Canada, July 19-24, 2008.

On the first day, July 19, 2008, we had a trip to Kalohan and Manulima villages and the surroundings together with Dr Awegechew Teshome, as well as all of USC Timor Leste’s staff. Teshome explained to us about:
1. Terrains and terrace-rings that become conservation models that are compatible to the plots and the aspects that needs to be considered.
2. Vegetables terrains around the population houses to support food security.
3. Livestock, gardens of vegetable and coffee as a mutual system of a sustainable agriculture.
4. Women groups’ roles on sustainable agriculture.

We dropped by to Manatuto district to learn on biodiversity, biomass and post-harvesting. Teshome gave us illustration on:
a. How to measure rice harvest mapping.
b. How to count biomass that resulted from a local rice terrain compare with a hybrid rice plot.
c. How to see rice diversity in a terrain.
d. How all of these benefit to farmers.

[photo2]

In Usuun community, we had a dialogue with them on forest and vegetable garden conservation. It was so wonderful that we saw fish smokers, a technology to water plant by using bamboos, and vegetable terrains on a very stony and unfertile lands that planted kangkung, pak choi, spinach and onions.

The International Seminar entitled ‘Agro biodiversity and Sustainable Agriculture’ was conducted at the hall of East Timor Development Agency, Dili, Timor Leste, on July 21, 2008. There were 75 participants (about the same amount of female and male) that came from elements such as government, local and international NGOs, SATUNAMA, LA VIA Campesina, college students and farmers.

The seminar was opened by Timor Leste Minister of Agriculture followed by a presentation of USC Timor Leste. Dr. Awegechew Teshome presented ‘Mitigating Land Degradation and Desertification through Agro Biodiversity’, while Irma Yanny from LA VIA Campesina’s presentation was appealing audiences to refuse biodiversity’s privatization and appealing on family farming as a solution of biodiversity and climate change’s challenges. Moreover, it was also presented problems faced by farmers such as removing lands for other interest, lacking lands due to agro-biofuel programs and violation toward farmers done by apparatus that happens in South East Asia, including Indonesia.

The seminar was closed by Courtney Clark, the USC Canada’s staff who acts as the Program Officer Timor Leste.

On July 22-24, 2008, it was conducted a discussion for USC Canada’s partners only, about in-situ conservation of agro biodiversity to secure farming communities’ livelihood. Teshome also explained the difference between in-situ and ex-situ conservation and how to measure biomass.

Lessons Learned

There are some lessons learned from the trip and the seminar:

1. We were refreshed by Teshome’s presentation on agro biodiversity’s concepts, especially on land degradation, in-situ and ex-situ conservation. We are planning to build three modules for new trainings for farmers.
2. Agro biodiversity is an integrated approach that elaborates 3Rs (Resilience, Rights and Respect) that have been done by SATUNAMA. Therefore we were enlightened on sustainability village program to implement integration of formal sectors, civil society program and agriculture in the community level. However we are aware that this is not an easy thing to do.
3. Advocacy where a government accommodates people’s need.

Base on experiences, we were trapped to give more attention on how to change government’s policies that needed much energy and it was not effective because::
a. It needs expensive resources where SATUNAMA does not have it;
b. The Indonesian policies change a lot.

We learned a lot from Teshome on how to give a meaning to advocacy that is part on collaboration. That means that community is the center of our work, not the government. We have to allow community to self-advocate, and PEP Division at SATUNAMA will encourage community to understand that advocacy and combine it with SATUNAMA’s impacts toward its target groups. SATUNAMA will collaborate with local governments to develop programs in line with people’s need. On the other hand PEP SATUNAMA will continue its focus to work in the grassroots level through agro biodiversity’s advocacy.

By. Genie and Maman.
Belajar tentang Keanekaragaman-hayati (agro biodiversity) di USC Timor Leste

[foto1]

Dalam rangka belajar masalah keanekaragaman-hayati bersama ahlinya, yakni Dr Awegechew Teshome dari USC Canada, sambil berbagi pengalaman antar staf, Genie dan Maman dari SATUNAMA Yogyakarta diundang oleh USC Timor Leste untuk hadir dalam sebuah seminar tentang keanekaragaman-hayati, sekalian melakukan kunjungan lapangan di Dili, Timor Leste. Acara yang disponsori oleh USC Canada ini berlangsung dari tanggal 19-24 Juli 2008.

Seminar Internasional Sehari yang berjudul Agro Biodiversity and Sustainable Agriculture, diselenggarakan di Aula East Timor Development Agency, Dili, Timor Leste. Pesertanya sekitar 75 orang (jumlah antara laki-laki dan perempuan seimbang), terdiri atas unsur-unsur pemerintah, LSM lokal dan internasional, SATUNAMA, LA VIA Campesina, mahasiswa, dan petani.

Pada hari pertama, 19 Juli 2008, dilakukan kunjungan lapangan di seputar Kalohan dan Manulima bersama Dr Awegechew Teshome beserta seluruh staf USC Timor Leste dan juga anggota kelompok belajar, langsung di lahan yang akan dijadikan kebun oleh masyarakat setempat. Awegechew menjelaskan dan mengajak kita untuk berbagi pengalaman tentang :
1. Lahan miring dan teras sering yang merupakan model konservasi yang cocok untuk lahan tersebut, beserta aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan.
2. Lahan sayuran di sekitar rumah penduduk untuk mendukung adanya kecukupan pangan.
3. Ternak sapi, kebun sayur dan kebun kopi, sebagai sistem yang saling mendukung dalam pertanian berkelanjutan.
4. Peran kelompok perempuan dalam pertanian berkelanjutan.

[foto2]

Di tengah perjalanan kami mampir di lahan sawah di Distrik Manatuto, untuk belajar tentang biodiversity, biomas dan pasca panen. Awegechew memberikan gambaran tentang:
a. Bagaimana melakukan pengukuran hasil panen padi di sebuah sawah dengan model ubinan.
b. Bagaimana menghitung jumlah biomas yang bisa didapatkan dalam satu lahan yang ditanami padi lokal, dibandingkan dengan hasil biomas padi hibrid.
c. Bagaimana melihat keanekaragaman tanaman padi dalam satu lahan.
d. Bagaimana semua ini bisa bermanfaat bagi banyak petani.

Di Komunitas Usuun, kami berdialog dengan masyarakat tentang konservasi hutan dan lahan sayuran mereka. Menurut kami hal ini luar biasa, di mana ada alat pengasap ikan, teknologi menyiram tanaman dengan bambu, dan lahan sayuran yang tanahnya keras, berbatu-batu dan tidak subur tetapi bisa ditanami kangkung, pak choi, bayam dan bawang yang tumbuh subur.

Seminar dibuka dengan pidato Menteri Pertanian Timor Leste, dilanjutkan dengan sambutan Menteri Lingkungan Timor Leste. Presentasi dari USC TL oleh Xisto Martin, yang memaparkan tentang program-program USC Timor Leste di beberapa komunitas, dan tentang hasil serta dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat

Presentasi dari USC Canada oleh Dr. Awegechew Teshome tentang Mitigating Land Degradation and Desertification through Agrobiodiversity, sementara presentasi dari LA VIA Campesina regioanl Asia Tenggara dan Asia Timur oleh Irma Yanny, yang menghimbau hadirin untuk menolak privatisasi terhadap biodiversity. Dia menghimbau adanya pertanian keluarga yang merupakan solusi atas tantangan terhadap biodiversity dan perubahan iklim. Selain itu juga disampaikan tentang masalah-masalah yang dihadapi para petani seperti penggusuran lahan untuk kepentingan lain, berkurangnya lahan untuk pangan akibat adanya program agro-biofuel, dan kekerasan yang dilakukan aparat kepada petani, yang terjadi di beberapa negara Asia Tenggara (termasuk di Indonesia).

Penutupan seminar dilakukan oleh Courtney Clark dari USC Canada, yang menjabat sebagai Program Officer Timor Leste.

Setelah selesai seminar, tiga hari berikutnya, yakni 22-24 Juli 2008, ada diskusi lebih lanjut khusus untuk para mitra USC Canada, yakni dari USC Timor Leste dan SATUNAMA, bertemakan tentang konservasi in-situ untuk keanekaragaman-hayati guna meningkatkan jaminan matapencaharian bagi komunitas pertanian. Awegechew menjelaskan tentang bagaimana pentingnya konservasi in-situ bagi petani dan bagaimana cara melindungi keanekaragaman hayati. Selain itu dia juga menjelaskan tentang apa bedanya dengan konsep konservasi ex-situ serta bagaimana cara melakukan pengukuran biomas dalam sebuah areal dengan menggunakan metode ubinan dan transect walk.

Pembelajaran

Pentingnya kunjungan seperti diceritakan di atas adalah adanya pembelajaran sbb.:
1. Kami telah disegarkan kembali oleh presentasi Awegechew tentang konsep keanekaragaman-hayati, khususnya untuk masalah degradasi tanah, konsep konervasi in-situ dan ex-situ. Dari sharing bersama, kami mendapatkan informasi lengkap akan hal itu. Di kemudian hari kami akan membangun tiga modul pelatihan baru bagi para petani.
2. Keanekaragaman-hayati merupakan sebuah pendekatan integratif yang mengelaborasikan 3R (Rights, Resilience and Respect) yang telah kita lakukan di SATUNAMA. Jadi, dari kehadiran ini kami mendapatkan energi lebih besar dan pencerahan ide tentang program desa yang berkelanjutan, untuk mengimplementasikan integrasi dari sektor formal, program masyarakat sipil dan pertanian di tingkat masyarakat. Walaupun demikian kami sadar bahwa hal itu tidak mudah untuk dilakukan.
3. Advokasi, yang kami maksudkan adalah advokasi di mana pemerintah mengakomodir kebutuhan rakyat. Berdasarkan pengalaman, kami telah terperangkap untuk memberikan perhatian tentang bagaimana mengubah kebijakan pemerintah, yang mengakibatkan keluarnya banyak energi dan ketidakefektifan, karena:
a. perlu sumberdaya yang mahal di mana SATUNAMA tidak memilikinya;
b. kebijakan di Indonesia selalu berubah-ubah, di mana ketika ada pemimpin baru akan ada kebijakan baru.

Kami banyak belajar dari Awegechew tentang bagaimana sebaiknya memberikan arti terhadap advokasi yang merupakan bagian dari kolaborasi. Jadi advokasi hanya merupakan alat, tujuannya tetap masyarakat. Itu berarti bahwa masyarakat akan menjadi pusat pekerjaan kami, bukan pemerintah. Di masa depan kami akan membangun apa yang telah terkubur di SATUNAMA yakni di mana masyarakat sendiri melakukan advokasi kepada komunitas mereka, sementara Divisi PEP di SATUNAMA akan mendorong masyarakat untuk memahami advokasi tersebut, dan mengkombinasikannya dengan pengaruh SATUNAMA di daerah dampingan. SATUNAMA akan berkolaborasi dengan pemerintah lokal untuk membangun program sesuai dengan kebutuhan rakyat. Di sisi lain Divisi PEP SATUNAMA akan tetap melanjutnya fokusnya untuk bekerja di tingkat akar rumput melalui pendampingan tentang program keanekaragaman-hayati.

Oleh: Genie and Maman

(Visited 252 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*