Kembali ke Organik Sebagai Solusi untuk Mengatasi Kelangkaan Pupuk

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Go Organic as a Solution for Overcoming Fertilizer Scarcity

(May, 12 2009)

Some time ago, the mass media in Indonesia reported on protests by farmers concerning the government’s plan to reduce the fertilizer subsidy, and to allocate funds to the improvement of agricultural infrastructure. This year, the government provides subsidy of 17.5 trillion to 5.5 million tons of urea fertilizer. Minister for Agriculture, Anton Apriyantono, said that the subsidy is only profitable for farmers who use fertilizer in large amounts. He argued that the government needed to cut the subsidy to improve the facilities for more profitable agricultural farmers as a whole. Answering the farmers’ complaint about the scarcity of fertilizers, the Agriculture Minister said scarcity is due to a disparity between the quantity of fertilizer produced and the needs of farmers. The government’s ability to provide fertilizer is limited due to expensive, imported raw materials.

But is the real issue regarding agriculture only about who can benefit from the ferilizer subsidy? Currently, one pound of urea fertilizer in the market can be obtained at the price of Rp 1,600 while the price should Rp 6000. This subsidy can be manipulated by people who stockpile the fertilizer and sell it back at a higher price. This practice will continue to occur because many farmers will buy the expensive fertilizer to prevent suffering from failed crops.

What about the idea of going organic? If farmers choose to farm organically, they will not depend on the chemical fertilizer (fertilizer factory). Producing their own fertilizer, farmers could become more independent so that the government doesn’t need to subsidize the purchase of chemical fertilizer. Currently, farmers need a lot of chemical fertilizers because the soil is already saturated in this manner. On the other hand, organic agriculture in Indonesia could be an alternative to long-term food needs that is environment-friendly. To support organic fertilizer production for farmers, the government should develop a livestock program for farmers. Livestock such as cattle dung can be a source of good organic fertilizer. Farmers also need facilitation to improve their skills in terms of waste management in order to make organic fertilizer.

However, could a return to organic agriculture really be that simple? Some farmers in Indonesia use chemical fertilizers because it quickly affects their crops. Urea, for example, will provide more quickly growing crops compared with organic fertilizer. Farmers who make this decision will face many obstacles and requires significant savings to survive in the early years. During the first three years, returns to organic agriculture will reduce agricultural production. Organic farming technologies also require different planting practices, provision of organic fertilizer, pest control using natural pesticides, and different agricultural management techniques compared with ‘green revolution’ technologies.

Government, academia, and various institutions engaged in agricultural sector need to disseminate information to the public and farmers to increase the awareness of farmers about land conservation and environmental protection outcomes that result from reduced use of synthetic chemicals. All stakeholders need to collectively change the orientation of farmers who are already trapped in the ‘green revolution’ agricultural system. Agricultural productivity that relies on the use of seeds, chemicals fertilizers and pesticides is not environmentally friendly and contributes to the impoverishment of farmers because they are no longer independent and are reluctant to produce their own seeds. This campaign should be accompanied by a promotional campaign which highlights the long-term material advantages that can result from organic farming. For example, the market price of organic rice is expensive. While regular price of rice is Rp. 4500 per kilo, organic rice can reach as high as Rp. 6,500 per kilo, meaning improved income if volumes of organic rice sold increase. In addition, farmers would also see health benefits from a shift to organic farming, because the additional pollution due to excessive use of chemical fertilizers and pesticides over long periods endangers the health of farmers, the environment health, and the public.

Governments, both national and provincial, should give priority to the agriculture sector because there are millions of Indonesians who earn their living from farming. The development of agricultural science and human population explosion caused increased food needs. The government at that time encourages green revolution with the use of synthetic chemical fertilizers, the use of pesticides, and sowing seeds to produce superior high (hybrid). Initially this is to increase agricultural production but after so long this agriculture cause more problems. Land that cultivated with chemical fertilizers for tens years require more fertilizer and whether their results can be proportionate to the costs that they spend?

The ‘green revolution’ was designed to apply agricultural practices using synthetic chemical fertilizers, pesticides and hybrid seeds to meet an increased demand for food that resulted from population growth in the second half of the 20th century. However, the initial increase in production has had serious consequences in terms of soil quality and other environmental impacts. This has led to a reliance on further use of such chemical agents to maximize production from degraded land. While a shift to organic production may have a short term impact on productivity, new approaches to these time-honoured techniques can ensure reasonable levels of production without the harmful social, economic and environmental side-effects that are all too evidently a result of a dependence on chemicals.

Kembali ke Organik Sebagai Solusi untuk Mengatasi Kelangkaan Pupuk

(12 Mei 2009)

Beberapa hari ini, seluruh media massa di Indonesia memberitakan mengenai protes petani akibat rencana pemerintah mengurangi subsidi pupuk untuk dialokasikan ke perbaikan infrastuktur pertanian. Pemerintah tahun ini memberikan subsidi sebesar 17,5 trilyun untuk 5,5 juta ton pupuk urea. Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyatakan bahwa subsidi ini hanya menguntungkan petani besar yang menggunakan pupuk dalam jumlah besar. Pemotongan subsidi diperlukan supaya pemerintah bisa memperbaiki sarana pertanian yang lebih menguntungkan petani secara keseluruhan. Menjawab keluhan petani mengenai kelangkaan pupuk, menteri pertanian menyatakan kelangkaan ini akibat tidak imbangnya antara angka produksi pupuk dengan kebutuhan riil petani. Kemampuan pemerintah untuk menyediakan pupuk terbatas akibat mahalnya bahan baku yang masih impor.

Benarkah persoalan pertanian bisa diselesaikan dengan memberikan subsidi? Saat ini satu kilo pupuk urea di pasaran bisa didapat dengan harga sekitar Rp 1.600, padahal harga semestinya Rp 6000. Bukankah pemberian subsidi ini juga rawan diselewengkan karena ada oknum yang menimbun pupuk dan menjualnya kembali dengan harga mahal? Praktek ini akan terus terusan terjadi karena ada banyak petani yang tetap akan membeli pupuk dengan harga mahal supaya tanamannya tidak rusak dan membuat petani gagal panen.

Bagaimana dengan gagasan untuk kembali ke pertanian organik? Jika petani memilih untuk bertani secara organik, mereka tidak akan tergantung kepada pupuk kimiawi (pupuk pabrik). Membuat pupuk sendiri membuat petani lebih mandiri sehingga pemerintah tidak perlu memberi subsidi pembelian pupuk kimiawi. Saat ini, petani semakin membutuhkan banyak pupuk kimiawi karena tanah yang mereka olah sudah jenuh. Di sisi lain, pertanian organik di Indonesia dapat menjadi suatu alternatif pemenuhan kebutuhan pangan di dalam jangka panjang yang ramah lingkungan. Untuk mendukung produksi pupuk organik petani, sebaiknya pemerintah mengembangkan program ternak bagi petani. Kotoran ternak seperti sapi dapat menjadi sumber pupuk organik yang baik. Petani juga perlu mendapat bantuan untuk peningkatkan ketrampilan dalam hal pengelolaan sampah untuk dijadikan pupuk organik.

Namun, apakah kembali ke pertanian organik bisa semudah itu? Sebagian petani di Indonesia terbiasa menggunakan pupuk kimiawi yang memberi respon cepat pada tanaman. Urea, misalnya, akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan cepat jika dibandingkan dengan pupuk organik. Pada masa tiga tahun pertama kembali ke pertanian organik akan menurunkan produksi pertanian. Tahun-tahun awal ini akan mengalami banyak kendala dan membutuhkan tabungan yang cukup dari petani untuk bertahan. Pertanian organik juga membutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama tanaman menggunakan pestisida alami serta manajemen yang berbeda dengan pertanian dengan teknologi revolusi hijau.

Pemerintah, akademisi, dan berbagai lembaga yang bergerak di bidang pertanian perlu menanamkan kesadaran pada masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis. Semua pihak perlu bersama-sama mengubah orientasi petani yang sudah terjerumus pada sistem pertanian revolusi hijau. Produktivitas pertanian yang selama ini diupayakan dengan penggunaan benih, pupuk, dan pestisida kimia ini selain tidak ramah lingkungan juga memiskinkan petani karena mereka tidak lagi mandiri dan enggan memproduksi benih sendiri. Penyadaran ini bisa disertai promosi jika dalam jangka panjangnya pertanian organic juga memberikan keuntungan secara materi. Sebagai contoh, harga pasaran beras organik mahal. Beras biasa harganya 4.500 rupiah per kilogram sedangkan beras organik bisa mencapai 6.500 rupiah. Selain itu petani juga mendapat keuntungan tambahan karena pencemaran akibat pemakaian berlebih pupuk kimiawi dan pestisida dalam jangka panjang membahayakan kesehatan si petani, kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pemerintah perlu memberikan prioritas pada sektor pertanian karena ada jutaan penduduk Indonesia yang bermata pencahariaan sebagai petani. Perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia menyebabkan kebutuhan pangan meningkat. Pemerintah pada saat itu menggalakkan revolusi hijau dengan penggunaan pupuk kimia sintetis, penggunaan pestisida, dan penanaman benih unggul berproduksi tinggi (hybrida). Awalnya hal ini meningkatkan produksi pertanian tetapi setelah sekian lama pertanian ini lebih banyak menimbulkan permasalahan. Tanah yang puluhan tahun diolah dengan pupuk kimia membutuhkan lebih banyak pupuk dan apakah hasil yang mereka dapat sepadan dengan ongkos yang mereka keluarkan?

Revolusi Hijau dahulu didesain untuk menanggulangi tingginya permintaan makanan akibat pertumbuhan penduduk di paruh kedua abad 20 dengan pola pertanian yang menggunakan pupuk kimia, pestisida, dan benih hibrida. Dilain pihak, peningkatan produksi ini memberikan konsekwensi serius pada kondisi tanah dan dampak buruk kepada lingkungan. Hal ini menyebabkan perlunya penggunaan banyak zat-zat kimia untuk bertani di tanah yang tidak lagi subur. Namun, penggantian ke sistem pertanian organik memiliki dampak jangka pendek pada produktivitas tanpa merusak lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 448 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

2 Comments

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pertanian indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetahui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*