PELATIHAN BASIC CIVIC EDUCATION FOR FUTURE INDONESIAN LEADERS (BASIC CEFIL) 25-30 Mei 2009

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

TRAINING on BASIC CIVIC EDUCATION FOR FUTURE INDONESIAN LEADERS (BASIC CEFIL) 25-30 May 2009

[photo1]

In cooperation with Konrad Adenauer Stiftung (KAS), SATUNAMA organized training on Basic Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL), 25 – 30 May 2009, at SATUNAMA Training Center, Yogyakarta. There were 27 participants from civil community organizations from Sumatra, Java and Sulawesi who wanted to create leaders who would support Indonesia’s transformation and transition towards democratic communities.

The resource persons were Bini Buchori, Muslim Abdulrahman, Raymond Toruan, Ichsan Malik, and the KAS representative, Winfried Weck, as well as SATUNAMA resource persons. The subjects covered in the course were universal values such as human rights, democracy, modules and instruments of economic globalization, civil society, conflict management, social analysis and mass organization.

CEFIL training uses adult education methods, where participants are required to be active and give their opinions. This CEFIL was facilitated by Capacity Building Division, with Cahyo Suryanto, who formulated its modules, as the main facilitator.

This year, Basic CEFIL course will be held three times at SATUNAMA and two times in Pontianak, followed by intermediate and advanced CEFIL in the long run. This Basic CEFIL course is a revised version of the previous course which has been conducted 22 times since 1998. Before it was done for a full month.

Some comments from participants include:

‘There is much developed knowledge and I need to renew mine. I am interested in subjects: community social organization, globalisation and leadership. I can see that the facilitators are used to facilitating training courses therefore it is very interesting including the games, theories and discussion. I plan to do similar forum discussions with my colleagues at my office to make our discourse wider. Hopefully the issues I have learned will be applicable in my society.’
(Happy Suryani Harefa, 28 years old, Director of Yayasan Holi’ana’a, Nias)

“I heard about this training from my friend in 2004. Some friends of mine followed the previous training and suggested me to follow the same training. I am attracted to the leadership and mass communication themes in this training. After following this training, I feel free to speak my mind and start relationships. I am interested in this training because I find a lot of friend from various religions and ethnicities, it is like a mini-Indonesia.”

(Rezza Maulana, 27 years, from Lembaga Laboratorium Religi dan Budaya Lokal, IAIN, Yogyakarta).

Lutfi

PELATIHAN BASIC CIVIC EDUCATION FOR FUTURE INDONESIAN LEADERS (BASIC CEFIL) 25-30 Mei 2009

[foto1]

SATUNAMA bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) menyelenggarakan pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) tingkat dasar pada tanggal 25 hingga 30 Mei 2009, bertempat di Pusat Pelatihan SATUNAMA. Pelatihan yang diikuti oleh 27 peserta (P:9; L:18) datang dari Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi ini bertujuan untuk menciptakan para pemimpin yang dapat mendukung terbentuknya transformasi dan transisi Indonesia menuju masyarakat demokratis.

Pelatihan CEFIL dasar ini baru pertama kali dilakukan dengan menghadirkan para pakar yang berpengalaman menjadi pembicara di tingkat nasional sebagai narasumbernya seperti Bini Buchori, Muslim Abdulrahman, Raymond Toruan, Ichsan Malik, dan Winfried Weck, dan nara sumber dari SATUNAMA sendiri. Materi yang diajarkan beragam mulai dari nilai-nilai universal seperti HAM dan demokrasi, modus dan instrumen globalisasi ekonomi, masyarakat sipil, partisipasi warga, manajemen konflik, analisis sosial, dan pengorganisasian massa.

Tahun ini akan ada tiga kali pelatihan yang sama di SATUNAMA dan dua kali di Pontianak, yang nantinya akan dilanjutkan dengan pelatihan CEFIL tingkat menengah dan atas. Pelatihan ini merupakan perubahan bentuk dari pelatihan CEFIL sebelumnya, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1998 sebanyak 22 kali. Dalam CEFIL sebelumnya pelatihan dilaksanakan dalam waktu satu bulan penuh.

Berikut ini adalah kesaksian para peserta:

“Saya merasa banyak sekali isu yang berkembang dan ilmu yang saya miliki perlu diperbaharui. Saya tertarik tentang materi CSO, globalisasi, dan kepemimpinan yang dibahas. Para fasilitator pelatihan ini sepertinya sudah terbiasa memfasilitasi pelatihan sehingga mereka bisa membuat pelatihan menjadi menyenangkan dengan variasi permainan, teori, dan diskusi. Rencananya, saya akan membuat semacam forum diskusi dengan para staf di kantor saya supaya mereka memiliki wawasan yang lebih luas. Semoga isu yang saya pelajari di sini bisa diterapkan di Masyarakat. ” (Happy Suryani Harefa, 28 tahun, Direktur Yayasan Holi’ana’a, Nias)

“Saya pernah mendengar pelatihan ini dari rekan satu lembaga sejak tahun 2004. Beberapa di antaranya pernah mengikuti pelatihan yang sama dan meminta saya untuk ikut. Saya sendiri tertarik dengan tema kepemimpinan dan komunikasi massa yang diajarkan oleh narasumber yang kompeten pada pelatihan ini. Setelah mengikuti pelatihan ini saya merasa lebih berani untuk menyampaikan pendapat dan membuka relasi. Menurut saya pelatihan ini menarik karena saya seperti menemukan Indonesia mini di sini. Dalam satu pelatihan ada banyak rekan dari berbagai agama dan etnis.” (Rezza Maulana, 27 tahun, dari lembaga Laboratorium Religi dan Budaya Lokal, IAIN, Yogyakarta).

Lutfi

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 121 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*