Pinjaman Modal Usaha untuk Sukinem.

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Loans for Sukinem Business.

[photo1]

Sukinem, 40 years old, has sold jamu since 1992. She starded selling jamu while her first daughter was aged one. She has to sell jamu to increase the family income.

“My husband is just a small farmer who cultivates a quarter hectare rice field. Each year we produce only 50 kilograms of corn and 300 kilograms of casava from this field. That income is only enough to pay for our meals. My husband’s extra income as a carpenter couldn’t be relied on to provide for donations to our neighbourhood celebration or savings like other people,” Sukinem said.

Having started selling jamu, each day Sukinem could earn around Rp.6.000-7.000. This income started to support the daily needs of her family. The income from the field could be used for savings or to finance a social fund everytime her neighbours have a ceremony.

“We use money from selling rice for donations and saving. So, if there are a lot of ceremonies in our neighbourhood, we only have a little saving. Sometime it returns to zero,” said Sukinem.

After seventeen years selling jamu, Sukinem’s hard work shows the results. She and her husband started buying some new rice fields. Now, they have 3 ½ hectares. They also renovated their house from bamboo to brick. Now, Sukinem has 2 cows and 4 goats. Some years ago Sukinem could also afford to buy a motorcycle.

Sukinem is still selling jamu. She has to wake up at 3.30 am to mix the jamu and cook the breakfast and lunch. She rides her bicycle from kampong to kampong from 5 am until 11 am everyday and takes a break every five days for buying jamu material. Besides selling jamu, Sukinem also helps her husband work in the fields until afternoon. She is still burdened with the domistic work like washing, house cleaning, and ironing the clotes.

She has joined the Sumber Waras Association, whose members are small merchants like jamu sellers, goat sellers, kiosk owners, and cassava chips makers. In this association each jamu seller always informs the others about their area.

“In each meeting, we always inform each other about our selling area. It’s like an informal area demarcation, because once one member has established her area, the other jamu sellers do not attend that place,” Sukinem said.

Sumber Waras members also assist with savings and loans. Usually the members borrow money as extra capital for their businesses.

In 2000, SATUNAMA facilitated conflict management, reflexiology, and simple management training for Sumber Waras association, including Bu Sukinem. Sukinem used this administration training to improve the management of association cash flow.

“At that moment, I became association treasurer. That training taught me how to write minutes of every meeting, or recording members’ savings and loans.”

Sukinem utilized the small interest loan scheme offered by SATUNAMA in 1998, to borrow Rp. 100.000 to increase capital for selling jamu.

“At first, I was afraid I couldn’t afford to repay the debt. After that loan was settled, I borrowed Rp. 300.000. One year later, I borrowed another Rp.500.000. I used that money for buying a goat. I treat the goat well, then sell it for Rp. 900.000 six month later. After that I always borrow money for buying goats.”

Some years ago, Sukinem borrowed money from SATUNAMA to made a toilet in her house. Usually, people in the village sell their goats if they have extra expenditure, but Sukinem chose to borrow money so she could still have goat as an investment. Other Sumber Waras association members do the same thing. They borrow money for extra capital or buying cows and goats for production. In 2009, association membership has increased from 20 to 45. Sumber Waras association also has goat sharing scheme, with 22 goats that treathed by it’s members using provit sharing system.

Lutfi
Pinjaman Modal Usaha untuk Sukinem.

[foto1]

Sukinem (40 tahun), warga Gombang, Gunung Kidul, menjadi penjual jamu sejak tahun 1992 saat anak perempuannya, Suwarni masih berusia satu tahun. Ia memutuskan berjualan jamu untuk menopang pemasukan keluarganya. “Suami saya petani kecil yang hanya mengerjakan sawah seluas ¼ hektar. Sawah tersebut dalam satu tahun menghasilkan ½ kuintal jagung dan 3 kuintal ketela. Selain itu pekerjaan tambahan suami sebagai tukang kayu yang tidak tentu, mepet sekali untuk biaya hidup sehari-hari. Kami jarang punya tabungan juga sering kelabakan untuk nyumbang jika tetangga hajatan. Ya terpaksa saat itu saya mulai berjualan. Suwarni yang baru berumur satu tahun saya titipkan pada ibu di desa sebelah,” tutur Sukinem.

Pada awal berjualan jamu, setiap hari Sukinem mendapatkan pemasukan antara Rp.6000 hingga Rp.7000. Pendapatan ini yang mulai menjadi penopang kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Pada waktu itu, setiap hari Sukinem bisa menyisihkan uang antara Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000. Hasil dari bertani kemudian dipakai sebagai tabungan atau untuk membiayai dana sosial tiap kali ada tetangganya punya hajat. “Jadi ya kalau pas lagi musim banyak orang punya gawe tabungannya sedikit. Malah kadang bisa sampai nol,” kata Sukinem.

Setelah tujuhbelas tahun berjualan jamu, kerja keras Sukinem mulai menampakkan hasilnya. Ia dan suaminya mulai membeli beberapa bidang tanah hingga kini luas tanah mereka sejumlah 3 ½ hektar. Mereka juga bisa merenovasi rumahnya dari yang semula hanya gubuk dengan dinding anyaman bambu menjadi rumah dengan dinding bata. Saat ini keluarga Sukinem juga memiliki tabungan berupa 2 ekor sapi dan empat ekor kambing. Beberapa waktu yang lalu, keluarga Sukinen juga bisa membeli sebuah sepeda motor.

Hingga saat ini Sukinem masih menekuni profesinya sebagai penjual jamu untuk menopang penghasilan keluarga. Tiap hari ia harus bangun pukul setengah tiga pagi untuk meracik jamu sekaligus memasak sarapan dan makan siang. Ia berangkat dengan naik angkot ke daerah Ngrancah sejauh 42 kilo mulai pukul setengah lima pagi. Selanjutnya ia harus berjalan kaki dari kampung ke kampung sejauh empat kilo. Sukinem pulang ke rumah sekitar pukul 11 siang.

Ia melakukan rutinitas ini selama empat hari berturut-turut. Dan hari kelima yang jatuh pada hari pahing dipergunakannya untuk berbelanja bahan pembuat jamu. Selain berjualan jamu, Sukinem tiap hari juga membantu suaminya bekerja di sawah hingga sore hari. Selain itu ia masih harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, bersih-bersih rumah, dan menyetrika.

Ia bergabung dengan paguyuban Sumber Waras yang anggotanya merupakan pedagang kecil mulai dari penjual jamu, pemilik toko kelontong, pedagang kambing, dan pembuat keripik singkong. Para penjual jamu di Sumber Waras selalu bertukar informasi tentang daerah yang biasa mereka jelajahi. “Tiap kali ada pertemuan di Sumber Waras, kami biasanya saling bertukar cerita sudah berjualan di mana saja. Hal ini menjadi semacam pembagian wilayah berjualan jamu karena jika ada seorang anggota bercerita ia berjualan jamu di sebuah lokasi, penjual jamu lain tidak berjualan ke sana,” kata Sukinem. Selain itu anggota Sumber Waras juga mengadakan simpan-pinjam. Biasanya anggota paguyuban ini meminjam uang sebagai tambahan modal.

Mulai tahun 2000, SATUNAMA mendampingi Paguyuban Sumber Waras di wilayah Gombang, Ponjong, Gunung Kidul. Bu Sukinem termasuk salah satu anggota yang mendapatkan berbagai pelatihan mulai dari pelatihan mengatasi konflik, kursus pijat refleksi, dan manajemen sederhana. Bu Sukinem memanfaatkan pelatihan administrasi tersebut untuk mengelola keluar masuknya uang di paguyuban. “Saya waktu itu memegang jabatan sebagai bendahara paguyuban. Pelatihan tadi mengajarkan saya cara untuk membuat notulen setiap ada pertemuan dan pencatatan simpan-pijam uang anggota.”

Ibu Sukinem juga memanfaatkan fasilitas pinjaman uang dengan bunga ringan yang diperoleh dari SATUNAMA. Awalnya pada tahun 2000 ia meminjam uang sebesar seratus ribu rupiah untuk tambahan modal berjualan jamu. “Pertama kali saya meminjam agak ragu karena takut nanti tidak bisa mengembalikan. Akhirnya setelah pinjaman tadi lunas, saya berani meminjam dengan jumlah lebih besar. Saya meminjam tiga ratus ribu rupiah. Setelah lunas satu tahun kemudian, saya meminjam lagi sebesar lima ratus ribu rupiah untuk membeli kambing. Kambing ini saya gemukkan selama sekitar setengah tahun dan dijual laku sembilan ratus ribu. Saya lalu membeli kambing lagi dengan jumlah lebih banyak.” Bu Sukinem juga pernah meminjam uang untuk membuat kamar mandi di rumahnya. Saat itu ia memilih untuk meminjam supaya ia tetap memiliki kambing sebagai tabungan.

Anggota Paguyuban Sumber Waras juga melakukan hal yang sama. Mereka meminjam uang untuk tambahan modal usaha atau membeli sapi dan kambing untuk digemukkan. Saat ini ada 45 orang anggota Paguyuban dari yang semula hanya 20 orang. Paguyuban Sumber Waras juga memiliki usaha penggaduhan kambing. Saat ini mereka memiliki 22 ekor kambing yang dipelihara oleh anggota dengan sistem bagi hasil.

Lutfi

(Visited 87 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*