“Upacara Pengambilan Air Suci“ Untuk Pura Bendo Dari Hutan Adat Wonosadi, Desa Beji Kecamatan Ngawen Gunung Kidul, 8 Mei 2009

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Ceremony of Taking Sacred Water Beji Village, Ngawen Sub-district, Gunung Kidul, DIY, 8 Mei 2009

[photo1]

The joint intercultural program between SATUNAMA and The Asia Foundation has reached the second phase. The program aims to reach prosperity through pluralism, multiculturalism, governance and increased gender equality, as well as a conservation movement.

The Beji village population is religiously pluralistic. Most of them are Muslim, but some sub-village members follow other religions such as Hinduism, Protestant denominations, and Catholicism. There is a Pura (a Hindu house of worship) in Bendo sub-village, where the majority of the population are Hindu, which became a centre of learning for Hindu followers all over Yogyakarta Special Province (DIY).

“A RELIGION THAT IS BASED ON A TRADITIONAL CULTURE”

The Hindu religion in Beji village is united through local traditions, and might be more suitably termed Javanese Hindu. The ceremony of taking Sacred Water was held at 7 water springs located in Beji village, primarily at the largest in Wonosadi forest. Wonosadi forest is a legendary meditation place for the ancient Majapahit soldiers when they fled from a battle. The spot has become a ritual place in the Syura month.

Related to the Pura Bendo’s anniversary, the Hindu community in Beji conducted a cleaning day of the pura by changing the pura water with water from the other springs Beji village. The ceremony included “Kidungan and Jathilan” at the entrance of Wonosadi forest, performed by young people and women.

Kidungan means to sing sacred verses which ensure safety for all people of goodwill. Jathilan are dances which pay respect to the ‘spirit’ which guards Wonosadi forest in order to make the people living in the surrounding area feel secure.

The ceremony started by singing prayers of adoration by the Hindu local figures (wasi) who sat in the front row, followed by other people. The wasi took water by using a piece of bamboo, and then the sacred water in the bamboo was covered by a yellow cloth.

After this the attendees were asked to wash their faces from the spring water of Wonosadi forest, cleansing themselves of all their sins. The ritual ended with praying in Pura Bendo followed by all Hindu followers of Beji village as well as from other parts of Yogyakarta.

Yogyakarta, 9 Mei

Ani

“Upacara Pengambilan Air Suci“ Untuk Pura Bendo Dari Hutan Adat Wonosadi, Desa Beji Kecamatan Ngawen Gunung Kidul, 8 Mei 2009

[foto1]

Pemberdayaan masyarakat untuk program lintas iman – lintas budaya kerjasama SATUNAMA Yogyakarta dengan The Asia Foundation telah memasuki tahun kedua. Program ini memang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan melalui pendekatan pluralisme, multikultur, governance, gender dan gerakan konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

Desa Beji adalah desa yang mempunyai keragaman budaya dan agama yang plural. Mayoritas keyakinan di Beji adalah Islam, tetapi mempunyai beberapa dusun yang sangat plural dari sisi keyakinan yakni: Islam, Hindu, Kristen dan Katolik, yang menambah keragaman budaya dan juga pola pendampingan baik dari pemerintah setempat (desa) maupun Kabupaten Gunung Kidul. Apalagi di Dusun Bendo terdapat sebuah Pura (tempat beribadah agama Hindu) yang menjadi pusat pembelajaran agama Hindu di seluruh DIY. Mayoritas masyarakat Dusun Bendo beragama Hindu, yang menambah keindahan persaudaraan kehidupan bermasyarakat di antara penduduk yang menganut agama lain, dengan saling terlibat dan membantu untuk memperlancar berbagai ritual peribadatan yang dilakukan di antara mereka yang berbeda keyakinan.

“AGAMA BERBASIS BUDAYA LOKAL“

Agama Hindu di Desa Beji berkembang dengan cukup baik dan menjadi agama yang menyatu dengan tradisi lokal, mungkin lebih tepat disebut Hindu Jawa. Upacara Pengambilan Air Suci ini dipusatkan di tujuh sumber mata air yang ada di Desa Beji, tetapi yang mendapat tekanan dengan upacara lengkap adalah sumber mata air di hutan Wonosadi yang juga menjadi sumber mata air paling besar di seluruh desa Beji. Hutan Wonosadi juga mempunyai legenda sebagai tempat bersemadi para tentara Majapahit yang melarikan diri, sehingga di sana juga
terdapat petilasan/bekas (yang dikeramatkan) dan sampai saat ini ramai dikunjungi orang yang melakukan ritual pada hari-hari tertentu di bulan Syura.

Dalam rangkaian ulang tahun Pura Bendo, masyarakat Hindu di Beji melakukan bersih pura dengan cara mengganti air suci yang ada di pura dengan air dari sumber-sumber mata air di seluruh Desa Beji.

Text Box: Upacara tersebut terdiri dari beberapa tahapan yakni: gelar budaya lokal “Kidungan dan Jathilan” yang diselenggarakan di pintu masuk hutan Wonosadi, serta upacara pengambilan air suci yang dilakukan di sumber mata air pertama Hutan Wonosadi.

Text Box: Budaya Jatilan yang menjadi salah satu bagian tradisi dalam pengambilan air suciUpacara Kidungan dan Jathilan dilakukan oleh kaum muda dan kaum perempuan. Kidungan adalah melantunkan ayat-ayat suci yang bermakna keselamatan bagi semua orang yang mempunyai niat baik, sedangkan Jathilan dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada para “penunggu” hutan Wonosadi, sehingga masyarakat yang ada di sekitarnya merasa nyaman.

Rangkaian upacara dan doa dalam pengambilan air suciUpacara pengambilan air suci dilakukan di mata air pertama yang terdapat di tahapan pertama hutan Wonosadi, yang harus ditempuh dengan jalan setapak yang cukup menanjak, sehingga diperlukan stamina yang baik untuk sampai ke tempat tersebut.

Upacara dimulai dengan mengidungkan puji-pujian, sehingga menambah khidmat suasana yang sungguh khusyuk dan tenang. Para Wasi (pemimpin lokal agama Hindu) duduk di barisan depan diikuti oleh sebagian umat yang hadir, yang terdiri dari laki-laki, perempuan, kaum muda dan anak-anak. Mereka secara khidmat berdoa mohon keselamatan melalui air yang akan mereka ambil. Setelah doa dilambungkan, para Wasi mengambil air di sumbernya dengan potongan bambu, dan air suci pun dimasukkan ke dalam potongan bambu yang dibungkus dengan kain warna kuning untuk kemudian didoakan kembali.

Setelah air suci diambil, semua yang hadir dipersilakan untuk mencuci muka dari sumber air di hutan Wonosadi, dengan tujuan agar tercapai apa yang dimohon dan didoakan, yang juga merupakan tanda pembersihan diri dari segala kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Air yang telah didoakan dan dipercaya telah mendapat rahmat ini kemudian dibawa turun menuju mulut hutan Wonosadi dan kemudian diarak kembali menuju Pura di Bendo dengan diiringi Jathilan yang dilakukan oleh para kaum muda yang didukung bersama oleh seluruh komponen Desa Beji.

Rangkaian upacara ini diakhiri keesokan harinya yakni Sabtu, 9 Mei 2009, dengan upacara dan doa yang dilaksanakan di Pura Bendo, dan diikuti oleh seluruh umat Hindu dari Desa Beji maupun dari beberapa wilayah di DIY.

Semoga semua kegiatan pemberdayaan masyarakat Lintas Iman Lintas Budaya ini semakin menambah kekayaan kita tentang indahnya keragaman budaya maupun agama. Perbedaan yang memang menjadi keunikan suatu wilayah dan menjadi sarana untuk saling meningkatkan persaudaraan kiranya akan menjadi ujung tombak pembangunan manusia yang utuh dan berkesinambungan.

Yogyakarta, 9 Mei

Ani

Print Friendly, PDF & Email
(Visited 292 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*