satunamasatunamasatunama

Pameran Foto “Mengeja Asmat”

Masyarakat Asmat Dalam Lembar Foto

DSC_0095 (Large)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

DSC_0131 (Large)

Pengunjung mengamati foto-foto yang dipamerkan. [Foto: Ariwan K. Perdana/SATUNAMA]

Pameran foto “Mengeja Asmat” digelar di Java Poetry Sagan Yogyakarta pada 12-18 Agustus 2015 lalu. Pameran ini merupakan helatan SATUNAMA bekerjasama dengan Java Poetry dalam rangka memberikan gambaran kepada masyarakat luas mengenai dinamika masyarakat Asmat di Papua.

Foto-foto yang digelar dalam pameran ini terbagi dalam tiga kategori, yaitu anak-anak Asmat, perempuan Asmat dan sosial budaya Asmat. Seluruh foto merupakan hasil karya lima pegiat sosial yaitu Maria Sucianingsih, Asep Nanda Paramayana, Peter P. Sarkol, Vallens Aji Sayekti, dan Ronaldus Mbrak. Kelimanya telah bergerak menelusuri wilayah Asmat dan merekam dinamika hidup masyarakat Asmat melalui media foto.

Selain untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang Asmat secara umum, acara ini juga menjadi semacam corong untuk menyuarakan suara perempuan Asmat. Hal ini terkait dengan kebutuhan dasar & hak dasar perempuan Papua yang masih belum benar-benar terpenuhi. “Di Papua, perempuan juga cenderung belum boleh bersuara untuk menyerukan dirinya sendiri.” ujar Asep.

DSC_0132 (Large)

Salah satu kerajinan patung yang dipamerkan [Foto: Ariwan K. Perdana/SATUNAMA]

Bulan Mei lalu, pameran yang sama juga diadakan di Solo. “Intinya, pameran ini diharapkan bisa membuka mata kita semua bahwa masih ada saudara kita yang hidup dengan ‘keunikannya’ sementara negara belum sungguh-sungguh hadir memberikan apa yang menjadi hak mereka.” lanjut Asep lagi.

Pameran yang berlangsung selama enam hari ini mendapat respon baik dari pengunjung. “Saya melihat bahwa Asmat memiliki ciri khas kelokalan yang luar biasa. Ini yang harus dipertahankan dari masyarakat Asmat. Karena bagaimanapun, mereka harus tetap menjadi diri mereka sendiri di tengah pusaran arus globalisasi saat ini.” tutur Yuliana, salah satu pengunjung pameran.

Pameran foto “Mengeja Asmat” dibuka dengan pertunjukan nyanyian khas Asmat dan dilanjutkan dengan demonstrasi proses pemahatan atau pengukiran patung yang dilakukan oleh kawan-kawan Asmat yang hadir bersama SATUNAMA di Yogyakarta.

Selain foto, pameran juga menampilkan sejumlah kerajinan khas Asmat seperti patung khas Asmat dan noken. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan beberapa kelompok seni anak-anak yang berasal dari beberapa desa dampingan SATUNAMA di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Penulis: Ariwan K. Perdana
Editor: Ryan Sugiarto

(Visited 79 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*