(CEFIL Pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders)

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) Training

[photo1]

(Yogyakarta, 7 November 2009) SATUNAMA, in cooperation with Konrad Adenauer Stiftung (KAS), held Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) basic level from 2-7 November. 25 participants from North Sumatra, DIY, Central Java, East Java, Madura, and West Nusa Tenggara Civil Society Organizations undertook this course to create future leaders that can support a democratic Indonesian society.

“The CEFIL courses are specially for young people that will be future Indonesian leaders. This training equips the participants with universal values, social analysis skills, and conflict management skills that the participants can apply to achieve a pluralist society. We hope the participants are consederate of social inequality in the community so that they will advocate basic social rights such as economic and socio-cultural rights,” said SATUNAMA Executive Director, Frans Tugimin.

This training emerged from an understanding that democratic governance systems could bring prosperity to the community. Democratic governance requires social participation in formal politics and which gives society a chance to control public policy.

[photo2]

“The development of a democratic society has to be followed by the development of institutional, individual, and democratic social structures. Materials in this course assist the participants to become courageous leaders who can promote social change. Participants learn about mass communication and how to write opinion pieces or the mass media so that they can effectively communicate with the public,“ stated Frans.

Participants were aged between 25-35 years old.

“We see that people in this age group have a chance to be future leaders. Someone aged under 25 has less experience in working with the community. Participants over 35 have less opportunity to develop their potential to be a leader in the community,” said Frans. He also added that this training used an adult education method. The participants are more active in discussions and compile conclusions after that.

Sulastri, 26, from Griya Mandiri Community Learning Centre, Yogyakarta said that this couse give a foundation to people that work in the community so that they have a framework before running their program.

“I followed this training because of a CEFIL alumni recommendation. She said that people in the field like me need this training so that they could develop a strategy for their program. I am attracted to the Social Analysis materials because I learned about undersanding social problems such as dehumanisation and basic rights violations. At night, we went to the field and talked with small merchants and beggars.”

This training was presented experts such as Raymond Toruan, Ichsan Malik, Usman Hamid, Dani Munggoro, dan Sunardi Rinangkit. They covered material such as universal values, human rights and democracy, economic globalisation, civil society, community participation, conflict management, social analysis, and mass organization.
(CEFIL Pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders)

[foto1]

(Yogyakarta, 7 November 2009) SATUNAMA bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) menyelenggarakan pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) basic level pada tanggal 2- 7 November 2009. Pelatihan yang diikuti oleh 25 peserta dari berbagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Sumatra Utara, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan NTB ini bertujuan untuk menciptakan calon pemimpin yang dapat mendorong terbentuknya masyarakat Indonesia yang demokratis. Pelatihan kali merupakan angkatan terakhir tahun ini dan tahun ke XI diselenggarakannya CEFIL.

“CEFIL merupakan pelatihan untuk generasi muda yang diharapkan menjadi pemimpin Masyarakat Sipil di Indonesia. Pelatihan ini membekali peserta dengan nilai-nilai universal, analisis sosial, hingga manajemen konflik supaya peserta bisa menerapkan hal-hal tersebut di tengah masyarakat yang pluralistik. Kami berharap peserta bisa peka terhadap ketimpangan sosial yang ada di dalam masyarakat dan bisa membantu mengadvokasi hak-hak dasar masyarakat, termasuk hak Ekosob,” tutur Direktur Eksekutif SATUNAMA Frans Toegimin.

Pelatihan ini tercipta atas dasar pemahaman jika sistem pemerintahan demokratis bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk itu perlu adanya partisipasi warga negara dalam pengambilan keputusan dalam politik formal dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengontrol kebijakan publik. “Pembangunan masyarakat demokratis ini harus disertai oleh pengembangan institusi, individu, dan struktur sosial yang demokratis pula. Materi-materi dalam pelatihan ini memberi bekal supaya peserta bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang berani melakukan perubahan sosial,” Frans menyatakan. Ia juga menambahkan jika dalam pelatihan ini peserta belajar mengenai komunikasi massa dan cara menulis opini di media supaya peserta bisa menyusun pesan yang efektif untuk disampaikan kepada khalayak.

[foto2]

Rentang usia peserta dalam pelatihan ini antara 25 hingga 35 tahun. “Kami melihat kisaran umur ini paling pas untuk menjadi calon pemimpin. Seseorang yang berusia di bawah 25 tahun kemungkinan besar masih kurang memiliki pengalaman dalam bekerja di masyarakat. Sedangkan peserta yang usianya sudah di atas 35 tahun hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk mengembangkan potensinya untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat,” lanjut Frans. Ia juga menambahkan jika pelatihan ini memakai metode pembelajaran orang dewasa. Peserta diajak untuk lebih aktif berdiskusi mengenai berbagai hal dan menarik kesimpulan setelahnya.

Sulastri, 26 tahun, dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Griya Mandiri, Yogyakarta menyatakan jika pelatihan ini memberi bekal untuk orang-orang yang bekerja di masyarakat supaya memiliki kerangka berpikir sebelum menjalankan program. “Saya tertarik ikut pelatihan ini karena ada alumni dari pelatihan yang merekomendasikan CEFIL. Katanya, orang-orang lapangan seperti saya perlu materi-materi seperti yang dibahas dalam CEFIL ini supaya tidak asal tabrak. Saya paling tertarik dengan materi Analisis Sosial karena di sana saya belajar mengenai bagaimana memahami masalah-masalah sosial seperti dehumanisasi dan pelanggaran hak dasar. Malamnya kami kemudian di ajak ke lapangan untuk berbicara dengan pedagang kecil dan pengemis.”

Pelatihan ini menghadirkan para pakar yang berpengalaman dalam bidangnya sebagai narasumbernya seperti Raymond Toruan, Ichsan Malik, Usman Hamid, Dani Munggoro, dan Sunardi Rinakit. Materi yang diajarkan beragam mulai dari nilai-nilai universal seperti HAM dan demokrasi, modus dan instrumen globalisasi ekonomi, masyarakat sipil, partisipasi warga, manajemen konflik, analisis sosial, dan pengorganisasian massa.

(Visited 109 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*