PERINGATAN HARI PANGAN SEDUNIA

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

WORLD FOOD DAY COMMEMORATION

[foto1]

Around 10 AM, came a procesion of farmers that brought local foods and produce, followed by a lumping horse dance sequence, to open the World Food Day (WFD) Commemoration in Clapar 2 sub village, Hargowilis, Kokap, Kulonprogo.
SATUNAMA in cooperation with target groups in the Clapar Sub village, held this event on October 17th and 18th. This commemoration was attended by hundreds of people with various backgrounds, such as farmers groups from Kulonprogo District, Gunungkidul, Bantul, and Sleman, NGOs, the Food Security Department office in Kulonprogo, and the Kokap sub district Goverment.
“We held this commemoration for remaind community about the importance of local foods. These days we are too dependent on rice and packaged food and forget there are many local foods,” said Frans Tugimin, Executive Director of SATUNAMA.

One core objective of this event was a discussion on the first day with Bambang Tri Budi Harsono, head of Kulonprogo Food Security Departement. This was followed by a farmers workshop in the second day. Farmers explain their problems about deadly plant diseases and how to market their produce.

[foto2]

”While talking with Bambang Tri, farmers raised the issues they face in the field, such as request for agricultural infrastructure improvement, facilitation in banana cultivation, and food processing facilities added value,” said Sukijan, a Clapar resident on the WFD organizing committee. He also said that on the second day, farmers also discussed about this. After the event, farmers representatives and the Head of Food Security will goes to the Regent to give recomendations about agriculture in Kulonprogo.

Farmers from the SATUNAMA project sites in Sleman, Kulonprogo, and Gunungkidul enlivened this event with open local produce stands, including displays of processed products, and seeds. Ganyong flour, garut, lanting, grains, seeds and local nuts were sold. Expo participants also demonstrated their skills in making dawet, krecek, jamu, and other traditional foods. The workshop called Inovation Corner taught farmers from each region how to process local varieties of plants into commodities. The WFD event also included a childrens drawing competition and movie screening with the theme of agriculture and local food. The event closed with an award ceremony for the drawing competition winner and agroexpo. PERINGATAN HARI PANGAN SEDUNIA

[foto1]

Sekitar pukul sepuluh muncul arak-arakan petani yang membawa beraneka pangan lokal dan hasil bumi serta barisan penari kuda lumping. Pawai tersebut menandai dibukanya peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di Dusun Clapar 2, Hargowilis, Kokap, Kulonprogro.
Acara yang berlangsung pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2009 ini diselenggarakan oleh SATUNAMA bekerja sama dengan kelompok dampingan di Dusun Clapar. Pada peringatan ini hadir ratusan orang dari berbagai kalangan seperti kelompok-kelompok tani dari Kabupaten Kulonprogo, Gunung Kidul, Bantul, dan Sleman, LSM, Dinas Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan (KP4K) Kulonprogro serta aparat Pemerintah di wilayah Kecamatan Kokap.
“Kami menyelenggarakan acara peringatan HPS ini untuk mengingatkan masyarakat akan arti pentingnya pangan lokal. Oleh karena itu, peringatan HPS ini menjadi ajang promosi untuk memperkenalkan jenis-jenis makanan lokal yang ada disekitar kita. Selama ini kita terlalu tergantung pada beras dan makanan produksi pabrik, dan melupakan bahwa ada banyak sumber pangan lokal,” tutur Frans Tugimin, Direktur Eksekutif SATUNAMA.

Salah satu acara inti dalam peringatan ini adalah diskusi dengan Kepala Dinas KP4K, Bambang Tri Budi Harsono pada hari pertama yang dilanjutkan dengan sarasehan petani di hari kedua. Saat berdiskusi, beberapa petani menyampaikan keluhannya mengenai penyakit tanaman yang mematikan dan cara memasarkan hasil pertanian. ”Pada saat berdiskusi dengan Pak Bambang Tri, petani-petani menyampaikan masalah-masalah yang mereka hadapi di lapangan. Mulai dari permintaan untuk perbaikan infrastruktur pertanian, pembinaan dalam budidaya pisangisasi dan pembinaan supaya masyarakat bisa mengelola hasil panennya sebagai pendapatan tambahan. Harapannya ada dukungan nyata dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan,” tutur Sukijan, warga Clapar yang menjadi ketua penyelenggaraan HPS. Ia juga menambahkan pada hari kedua para petani mengadakan sarasehan membahas diskusi di hari pertama ini. Acara ini akan ditindaklanjuti dengan wakil petani dan Kepala Dinas KP4K akan menghadap Bupati Kulonprogro untuk mengajukan rekomendasi mengenai pertanian di Kulonprogo.

[foto2]

Petani dari daerah dampingan SATUNAMA di wilayah Sleman, Kulonprogro, dan Gunungkidul turut serta memeriahkan peringatan ini dengan membuka stan panganan lokal, produk olahan, dan benih. Tepung ganyong, garut, lanting, padi-padian, benih tanaman hingga kacang-kacangan lokal dijual di sini. Peserta ekspo ini juga menampilkan cara pembuatan dawet, krecek, jamu, dan kue bolu dari waluh. Acara yang dinamakan dengan pojok inovasi ini bertujuan supaya antar petani bisa saling belajar memanfaatkan sumberdaya pangan lokal untuk nantinya dijual. Acara ini juga diisi dengan kegiatan pemutaran film dan lomba menggambar dengan tema berkaitan dengan pertanian dan pangan lokal. Acara ditutup dengan penyerahan hadiah untuk pemenang lomba anak dan agroexpo.

(Visited 84 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*