satunamasatunamasatunama

Diskusi Buku

Kesadaran dan Nalar Manusia Nusantara dalam Bumi Manusia

Disuksi Kesadaran dan Nalar Manusia Nusantara
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Diskusi : Kesadaran dan Nalar Manusia
Bersama, Irwan Bajang, Direktur Indie Book Corner (IBC)
Kamis, 21 Mei 2015

Satunama.org – Sewaktu membicarakan tentang karya Pramoedya Ananta Toer, yang terlintas didalam benak kebanyakan adalah novel tetralogi pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca). Novel yang ditulis Promoedya ketika mendekam dalam tahanan di Pulau Buru inilah yang paling memberi kesan mendalam di hati dan pikiran pembaca tanpa mengkesampingkan novel-novel lainnya yang pernah ia tulis. ‘Bumi Manusia’ goresan pena hasil karya Pram (sapaan untuk Pramoedya) memang sangat kompleks. Pram menyajikan berbagai persoalan yang ada di Nusantara era akhir abad 19 dan awal mula abad 20. Mulai dari persoalan kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, hingga persoalan mengenai permasalahan diskriminasi yang dialami oleh manusia pribumi waktu itu, tak terkecuali adalah perempuan.

Atas dasar pembacaan diatas itulah SATUNAMA melakukan refleksi atas kondisi realitas yang ada di Indonesia saat ini. Apakah memang kondisinya masih sama seperti apa yang dituliskan Pram walaupun zaman telah berubah, rezim telah berganti, aktor telah banyak mengalami regenerasi. Atau kah masih sama seperti yang telah diejawantahkan Pram?. Bertepatan dengan tanggal 21 Mei, yang mana dikatakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional tersebut SATUNAMA melakukan kajian reflektif yang menggunakan novel ‘Bumi Manusia’ sebagai alat untuk membaca realitas kesadaran dan nalar manusia Nusantara. Harapannya adalah adanya dorongan untuk bangkitnya kesadaran nalar maanusia yang ada di Indonesia umumnya dan kampung Duwet secara lingkup kecil. Diskusi yang dilaksanakan hari Kamis 21 Mei 2015 pukul 15.00 WIB di Kelas Kecil gedung utama ini dihadiri oleh kurang lebih 25 peserta, yang mana terdiri dari staff SATUNAMA dan para pemuda kampung Duwet Desa Sendangadi.

Diskusi ini sendiri difasilitasi oleh Irwan Bajang, yang mana ia adalah direktur dari Indie Book Corner (IBC). IBC adalah salah satu penerbit buku di Yogyakarta. Sebelum diskusi dimulai, Izzul Albab (staff SATUNAMA) selaku moderator mempersilahkan untuk mengawali proses diskusi dengan dramatic reading yang dibacakan oleh Any Sundari (staff SATUNAMA). Pembacaan dramatic reading ini dilakukan dengan membacakan salah satu kalimat kejadian yang ada didalam novel untuk memancing dinamika diskusi dan juga untuk mengingatkan kembali kepada pembaca tentang beragam kejadian yang ada di novel tersebut.

Tujuan dari diskusi reflektif ini adalah untuk kembali membuka kesadaran nalar berpikir manusia nusantara via novel Bumi Manusia. Apa yang kita impikan terkait imaji Indonesia terkait tentang keterbukaan, kesetaraan, keadilan bisa kita refleksikan salah satunya melalui novel ini, kata sang moderator.

Irwan bajang selaku fasilitator lantas membeberkan panjang lebar yang diawali dengan menerangkan bahwa beberapa tokoh yang ada didalam novel tersebut memiliki karakter yang sangat kuat dan kompleks seperti Minke, Nyai Ontosoroh, dll. Pram menyajikan redaksi-redaksi yang sangat mendalam hingga pembaca sangat kuat sekali terpengaruh oleh cerita yang dituangkan lewat tulisannya, begitu kata Irwan Bajang.

Dalam diskusi tersebut setidaknya ada beberapa tanggapan dari para staff SATUNAMA. Tanggapan tersebut berupa pertanyaan ataupun pernyataan. Bahwa kesadaran nalar adalah titik dimana manusia mengambil posisi dan sikap meskipun itu harus melalui perjuangan yang melelahkan. Salah satu caranya mungkin dengan menulis, berorganisasi atau peduli terhadap kemanusiaan. Diskusi yang berlangsung selama hampir tiga jam ini sangat menarik dan salah satu staff SATUNAMA bernama Suhono bahkan menyarankan agar diskusi ini dilakukan secara berkala dan intens. Harapannya agar dirinya sendiri khususnya dan warga masyarakat Duwet bisa mengerti atas kondisi yang sesungguhnya dan bisa mengambil sikap atas apa yang akan dilakukan. Kemudian diskusi ini ditutup dengan berfoto bersama antara fasilitator dengan seluruh peserta yang hadir di forum tersebut.

Ditulis : Izzul Albab
Editor : Bima Sakti

(Visited 92 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Kebenaran Sejarah Matinya Gerakan Perempuan : SATUNAMA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*