satunamasatunamasatunama

Diskusi Ringan Beranda Perempuan

Stigmatisasi Perempuan dalam Pemberitaan Media Massa

SATUNAMA
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Satunama.org – Media massa marak memberitakan ihwal prostitusi online. Tak bisa dipungkiri, media massa ikut menyumbang menjadikan prostitusi online sebagai topik yang ramai dibicarakan publik. Hampir semua media massa menampilkan berita tentang prostitusi online, yang diduga melibatkan artis. Misalnya pemberitaan tentang jaringan prostitusi yang dikelola Robby Abbas. Dia dituduh melibatkan artis dan model dalam prostitusi online.

Prostitusi online ini terungkap setelah pemberitaan kematian Deudeuh Alfisahrin alias Tata Chubby, pekerja prostitusi. Peristiwa itu berturut-turut diikuti dengan penggerebekan remaja di bawah umur yang diduga sebagai pekerja prostitusi di Apartemen Kalibata City. Merujuk pada berita Tempo.co, Ketua Aliansi Jurnalis Independen, Suwardjono menilai derasnya pemberitaan prostitusi dipicu kompetisi media di era industrialisasi. Seolah-olah bila satu media memberitakan, lainnya juga harus ikut agar tak kehilangan ceruk bisnis.

Tak hanya menyangkut kompetisi dalam hal pemberitaan, menurut dia, perkembangan berita prostitusi belakangan ini sudah melenceng dari koridor dan etika jurnalisme. Suwardjono mencontohkan pemberitaan selebaran gelap yang berisi inisial artis dan model yang diduga terlibat prostitusi kelas wahid. Dalam fenomena itu, dia menambahkan, media terjebak dengan memproduksi berita yang berbasis pada rumor. “Sumbernya tak jelas dan bisa mengarah pada jurnalisme kuning,” kata Suwardjono.

Media memberitakan prostitusi sebagai fakta persoalan sosial boleh saja. Tapi, berita sebagai produk kerja jurnalistik tak boleh keluar dari koridor fakta. Media fokus saja pada substansi kriminalnya, bukan mengeksploitasi hal yang masuk dalam ranah privasi, seperti profil keluarga perempuan yang diduga terlibat dalam prostitusi online. AJI menyarankan media mulai menegaskan batas-batas informasi, apakah menyangkut kepentingan publik atau sekadar ranah privasi. Jika kasus prostitusi itu meresahkan masyarakat, media bisa mengungkap dalam bingkai modus pelaku.

Sebaliknya, bila fenomena ini menjurus pada domain personal, misalnya identitas pekerja prostitusi dan profil keluarga mereka, media tak perlu menjamah ranah tersebut. Pekerja media semestinya juga punya empati. Ini penting supaya media memberitakan secara adil dan sensitif gender. Sekaligus memberikan penguatan perspektif kepada awak media, agar tak hanya terjebak pada proses industrialiasi media yang kian deras, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek sensitivitas terhadap berita yang lebih banyak mendiskirminasi bahkan melakukan stigmatisasi kepada diri perempuan. Bagaimana tantangan ini harus dijawab oleh teman-teman jurnalis, di tengah industrialisasi media yang makin massif. Apa saja hal-hal yang harus dilakukan media untuk bisa memberikan sensitivitas pemberitaan yang berspektif gender sehingga tidak melakukan stigmatisasi terhadap perempuan, utamanya perempuan korban.

Selain pemberitaan media yang cenderung melakukan stigmatisasi, kiranya kita semua perlu untuk melihat secara lebih mendalam bagaimana kecenderungan prostitusi pada masa kini. Apakah ada perubahan cara pandang pada bentuk-bentuk prostitusi yang selama ini hanya terletak pada lingkar tempat, seperti Dolly, Pasar Kembang, menuju bisnis transaksi yang bisa jadi by call. Bagaimana rupa sosiologis tentang prostitusi masa kini sekaligus memperbaiki cara pandang yang lebih baik dan humanis ketika melihat perkara prostitusi, bukan semata persoalan moralitas yang menjadi tanggung jawab perempuan tetapi juga ada motif ekonomi dan politik di dalamnya.

SATUNAMA dan AJI Yogyakarta menggagas diskusi berseri bertema isu gender dalam forum bernama Beranda Perempuan dengan tema Stigmatisasi Perempuan dalam Pemberitaan Media Massa. Diskusi ini melibatkan peserta dari pers mahasiswa, jurnalis, pegiat hak asasi manusia, pegiat budaya, anggota komunitas yang peduli isu gender, dan aktivis isu gender. Metode diskusi bersifat reflektif, sehingga peserta diskusi pun terlibat aktif di dalam sesi-sesi diskusi.

Hari/Tanggal Jumat, 29 Mei 2015
Waktu 19.00-21.00 WIB
Tempat Kantor Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta.Jalan Pakel Baru UH VI/1124 Umbulharjo Yogyakarta.

Telepon (0274)    375687

Pembicara Sarmi dari P3SYOlivia Lewi Pramesti, Dosen Ilmu Komunikasi Atmajaya dan anggota Divisi    Sekolah Jurnalistik AJI Yogyakarta

Any Sundari, Staf  Departemen Politik Demokrasi dan Desa SATUNAMA

Tema Stigmatisasi Perempuan dalam Pemberitaan Media Massa

Silahkan konfirmasi kehadiran di 082221495244 (Shinta) atau 081228314817 (Any). Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

(Visited 166 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*