satunamasatunamasatunama

Cerita Dari Anjangsana Permainan Tradisional SATUNAMA

Karena Kami Mengamini Segala Kebaikan

CrossVisit Sitimulya 2015
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Acara “Anjangsana Permainan Tradisional” yang dihelat oleh SATUNAMA pada Minggu, 26 April 2015 lalu memberikan kesan yang mendalam bagi para pesertanya. Salah satunya adalah Ruri Putri Kriswanto. Anak yang berasal dari Desa Kadilajo, Klaten ini memang ikut bermain bersama ratusan anak lainnya dalam gelaran anjangsana tersebut. Ruri kemudian menuliskan kesan-kesannya terhadap acara tersebut dan mengirimkannya kepada SATUNAMA. 

****

Beberapa waktu lalu SATUNAMA mengadakan Anjangsana Guyub Bocah yang berlangsung di Situmulyo, Piyungan, Bantul dan mengambil tema “Dolanan Tradisional.” Kadilajo mengajak serta 35 anak untuk datang ke Sitimulyo dalam Anjangsana Guyub Bocah DIY-Jateng, Minggu, 26 April lalu. Mulai dari anak, remaja, hingga manula, melengkapi kendaraan istimewa kami.

Namun ada juga yang tergerak hatinya untuk ikut anjangsana ini, meskipun dia bukan warga Kadilajo, tapi kami dengan senang hati menyambut kedatangan mereka, yaitu Dewi dan Pretty, dari Kecamatan Trucuk, daerah di ujung timur Kabupaten Klaten. Ada juga Amin, Galih, dan Arum, dari Desa Karangnongko, Kecataman Karangnongko.

Tepat pukul 08.30 wib kami meninggalkan rumah Pak Kades yang menjadi titik kumpul keberangkatan. Anak-anak tidak seramai biasanya. Mereka langsung menyesuaikan diri ke mobil tanpa rewel minta diabsen karena takut temannya ketinggalan. Aku dan Ayik memilih duduk di mobil kedua karena kami harus menjemput mak Nunung di perempatan Galmas. Sedangkan Dewi, Pretty, dan Amin, kuminta mereka duduk di mobil pertama dan berangkat lebih dulu mengambil jalur Manisrenggo-Prambanan. Mobil berangkat. Kisah pun dimulai.

Bahagia bisa mengenal mereka. Banyak hal yang kupelajari dari adik-adik KOPER. Kebersamaan, kesederhanaan, rasa percaya diri, dan gapyak, selalu terpancar dari mata mereka yang berbinar. Sungguh bersyukur, karakter pedesaan masih melindungi mereka dari westernisasi. Mungkin sebagian orang mengatakan ndeso, katrok, tapi memang beginilah kami. Kami selalu belajar untuk tidak malu saat melakukan kebenaran dan kebaikan. Tapi kami semua akan malu saat buang sampah sembarangan.

Sampai di Sitimulyo, Bintang muntah-muntah karena pusing. Padahal biasanya dia menjadi yang ceria dan baik-baik saja. Tapi tidak lama kemudian dia sudah ceria lagi. Setiap desa kemudian harus mengumpulkan kertas untuk presentasi kegiatan masing-masing. Karena kami belum sempat membuat, maka detik itu juga kami langsung membuatnya. Selain presentasi, setiap desa juga diwajibkan membuat suatu karya seni berukuran A3 dan dibingkai, yang nantinya akan ditukar dengan desa lain.

Pohon Kadilajo

Karya anak-anak Kadilajo, Klaten [Foto: istimewa]

Kami membuat sebuah karya sederhana. Sebuah gambar pohon yang menandakan hijaunya desa kami. Dengan foto laki-laki dan perempuan yang bercerita tentang hak anak. Karena kami mengamini segala kebaikan.

Setelah dibagi dalam grup, kami menuju lapangan yang telah ditentukan. Ada beberapa pos yang harus kami datangi untuk menyelesaikan tantangan. Setiap pos berisi permainan yang akan dimainkan oleh dua regu dan diambil pemenangnya. Pos yang paling ramai adalah permainan Gedebuk Krincing. Beberapa orang duduk dan berbaris saling berpegangan kepada kawan di depannya, sementara yang terdepan berpegangan pada pohon. Satu orang dari kelompok lawan akan berusaha menarik rangkaian tersebut dari belakang. Ketika ditarik, semua anak yang berjajar berkata “alum.. alum..” Gedebruk Krincing mengajari kami rasanya berjuang memperjuangkan ideologi.

Setelah permainan selesai, kami menikmati makanan tradisional di lapangan. Pemandangan yang indah menjadikan tempat ini seperti surga. Tak lupa kami mengabadikan acara hari ini dengan foto bersama. Dengan gembira, semua meninggalkan lapangan dan kembali di tempat pemberhentian pertama. Di sana sudah menunggu makan siang dan buah pisang yang sangat lezat.

Sesi makan siang bertambah yahud ketika dua kelompok tari anak melakukan pentas di tengah-tengah kami. Suasanan semakin hidup saat MC mengumumkan pemenang permainan dan pemenang karya terbaik yang dibawa setiap desa. Kadilajo mendapat juara pertama karya desa. Ya, karya sederhana yang mendatangkan kegembiraan, bukan? Hahaha.. Setelah itu, ada sesi untuk presentasi kegiatan setiap desa.

Menjelang sore, waktunya pulang, dan hujan semakin menderaskan airnya. Kami menutup pertemuan yang membahagiakan ini dengan tepuk hak anak. Hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, partisipasi, merdeka! Kami anak merdeka!

Penulis : Ruri Putri Kriswanto [Pengurus Perpustakaan Anak KOPER Desa Kadilajo, Klaten]
Editor : Bima Sakti

(Visited 95 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Leave a comment

Your email address will not be published.


*