Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu di Desa Sengi

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone


Field School in Crop Management in Sengi Village

[photo1]

Starting in November 2009, villagers in Sengi, Magelang with assistance from SATUNAMA held a Field School of Crop Management. Around 40 people attend weekly meetings that discuss planting organic vegetables. This field school started when SATUNAMA became the resorce for seed management, a community seed bank, and farmers’ organization for the Sustainable Organic Vegetable and Agriculture seminar that was held by the National Programme in Community Empowerment in November 2009. The committee asked SATUNAMA to facilitate discussion about field school design in Sengi Village.

The Field School in Crop Management is an alternative knowledge management approach that attempts to increase farmers knowledge and skills. This field school is held with the hope of that farmers could apply simple research principles in their ricefields.

“This organic vegetable Field School in Crop Management has the ultimate purpose of streaghtening farmer capacity in practising environmentally friendly farming in a wider area, streangthening farmers networks and institutions, and introducing planting management from the seed until harvest with a simple research methode. In the future, we hope that the management skill that taught in this field school will be adopted by the communities around field school area,” said Rahmanto, a SATUNAMA staff member who is one of the facilitator.

Each Thursday, staff from SATUNAMA come to a facilitating class about organic cultivation, including subjects such as soil ecology, soil preparation, mulch technique, and post-harvesting management. The materials include review and discussion from the special topic covered by the resource person that delivered the tutorial in the previous week. Each meeting also includes field observations, writing about the observations, and closes with discussion with input and conclusion from the facilitator.

Training participants consist of a delegation three to five participant from each sub-village. The organizers expect this participants will practice organic farming in their terrain as an examle to farmers in their area.

“I have two rice fields each of 1000 square meters. Right now, they are planted with cabbage and chili. I want to use organic farming bacause it is cheaper because we don’t have to buy fertilizer which has now become more expensive,” said Budiah (35 years) one participant.

Wartini (35 years) agrees and is also attracted to try organic farming. “I do not yet understand about organic farming. I only heard that this form of agriculture is heathier because it does’t use poisionous chemicals. So far, me and the community around me cultivate the land with a lot of fertilizer and chemicals. I want to utilize manure from my cow as fertilizer.”
Wartini also added that she is attracted to use organic farming to minimize the operational costs. For two terraces planted with chilli, she uses 18 kilos of mulch that costs Rp. 25.000 per kilo, and fertilizer that cost Rp. 23.000 per kilo. She also needs several chemicals for fertilize, to kill caterpillars and another for plant disease. The money that she spends on that is not compatible with the results.
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu di Desa Sengi

[foto1]

Mulai bulan November 2009, warga Desa Sengi, Magelang, Jawa Tengah, dengan dukungan dari SATUNAMA menyelenggarakan sekolah lapang. Pertemuan mingguan yang diikuti sekitar 40 peserta ini membahas cara-cara bercocok tanam sayuran secara organik. Sekolah lapang ini berawal saat SATUNAMA menjadi narasumber mengenai pengelolaan sumber benih, lumbung benih komunitas dan pengorganisasian petani pada pelatihan Budidaya Sayuran Organik dan Pertanian Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh PNPM Kecamatan Dukun pada Bulan November 2009. Panitia kemudian meminta SATUNAMA untuk memfasilitasi diskusi pembuatan desain sekolah lapang di Desa Sengi.

Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) merupakan salah satu metode pembelajaran pengelolaan tanaman dan tanah secara terpadu di lahan petani. Sekolah lapang merupakan salah satu alternatif manajemen pengetahuan, yang berupaya meningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani. Harapannya, melalui sekolah lapang petani dapat menerapkan prinsip-prinsip penelitian sederhana di sawah masing-masing. “SLPTT sayuran organik ini tujuan besarnya memperkuat kapasitas petani dalam praktek pertanian ramah lingkungan di wilayah yang lebih luas, memperkuat jaringan dan kelembagaan kelompok tani, memasyarakatkan pengelolaan tanaman sejak siklus awal (manajemen pembenihan) sampai dengan panen dengan metode penelitian sederhana. Kedepannya, kami berharap supaya pengelolaan tanaman dalam sekolah lapang akan banyak diadopsi oleh masyarakat di lingkungan sekitar petak sekolah lapang,” tutur Rahmanto, staf SATUNAMA yang menjadi salah satu fasilitator.

Tiap hari Kamis, pembicara dari SATUNAMA datang untuk memfasilitasi kelas mengenai berbagai hal mengenai budidaya tanaman secara organik. Mulai dari ekologi tanah, pengolahan tanah, teknik pemulsaan, membangun kesuburan dan produktifitas tanah, pertumbuhan tanaman dan kebutuhan hara, adaptasi lingkungan, adaptasi tanaman, pengendalian hama terpadu hingga pengelolaan pasca panen. Materi ini dikemas dalam bentuk review dan pembelajaran dengan topik khusus dari narasumber yang memberikan tutorial pada minggu sebelumnya. Pertemuan juga diisi dengan pengamatan dilapangan, penulisan dan rangkuman pengamatan, dan diskusi yang ditutup dengan masukan dan kesimpulan dari pemandu.

Para peserta pelatihan ini merupakan perwakilan dari dusun. Masing-masing dusun rata-rata menunjuk tiga sampai lima orang untuk mengikuti sekolah lapang ini. Peserta diharapkan akan mencoba pertanian organik di lahannya dahulu supaya menjadi contoh bagi petani di sekelilingnya. “Saya punya dua buah sawah yang masing-masing berukuran seribu meter. Saat ini ditanami kol dan cabai. Saya ingin mengubah cara penanamannya dengan organik yang lebih murah karena tidak harus membeli pupuk yang makin lama makin mahal,” tutur Budiah (35 tahun) salah seorang peserta sekolah lapang.

Pernyataan tadi dilanjutkan oleh Wartini (35 tahun) yang juga menyatakan tertarik untuk mencoba pertanian organik. “Sebelumnya saya tidak begitu paham apa itu pertanian organik. Hanya pernah mendengar kalau pertanian jenis ini lebih sehat karena tidak memakai bahan kimia beracun. Selama ini saya dan masyarakat di sini mengolah tanah dengan banyak pupuk dan obat-obatan kimia. Saya ingin memanfaatkan kotoran dari dua ekor sapi sebagai pupuk kandang.” Wartini juga menambahkan jika ia tertarik untuk beralih ke pertanian organik untuk menekan biaya operasional. Saat ini untuk dua petak sawahnya yang di tanami cabe, ia membutuhkan 18 kilo mulsa yang tiap kilonya seharga 25 ribu, mes untuk cor seharga 23 ribu per kilo. Berbagai obat-obatan mulai untuk menyuburkan daun, membunuh ulat dan penyakit tanaman lain. Jumlah ini tidak sesuai dengan hasil yang ia peroleh.

(Visited 212 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*