Radio SATUNAMA

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

SATUNAMA Radio

[photo1]

Since September 2002, SATUNAMA has operated radio station to enhance its capacity for human rights and democracy promotion. The station is located near the SATUNAMA main office in Mlati, Sleman and broadcast in AM 864 KHz frequencies. Station chose AM to reach listeners from the periphery of society.

“This station was founded along with the emergence of draft broadcasting regulations that controls the excessive use of FM frequencies. In Jogja there were 50 radio stations using 35 frequencies. We chose AM to avoid being swept up if that legal draft was applied. Furthermore, were SATUNAMA to operate on the FM band it would be competing with commercial stations which provide the kind of entertainment an urban audience expects from FM radio. Radio SATUNAMA then chose to broadcast in rural areas where the communities have less access to the media. At that time there were only 4 stations using the AM frequency,” said Nurul Purnamasari, Radio SATUNAMA station manager.

Radio SATUNAMA broadcast to all communities within 40 to 60 kilometers of Mlati. As well as Yogyakarta, the radio broadcasts can be listened to in places as distant as Borobudur in Magelang, Dlanggu in Klaten, and Purworejo.

“Listeners mostly come from Sleman because this is the best area for radio coverage, but we also have listeners from Bantul, Jogja city area, and a few from Kulonprogo and Gunungkidul. Active listeners give their responses by sending SMS’, calls or sending letter requests for songs and questions for our on-air on consultancy sessions,” added Nurul that use Marni as her broadcast name. She also said that sometimes listeners from areas close to the station attend the office to chat with the announcers, give input, or meet the interviewees.

Everyday, Radio SATUNAMA operates from 5 am until midnight. The broadcast information about health, organic farming, family herbs, and small scale business. Each Monday to Friday at 9 AM there are consultancy sessions with expert on law, female and children, health, business, houshold economic management, and psychology. The interviewees come from several organizations such as the Center for Legal Aid and Consultation (PBKH) Faculty of Law UAJY, Mitra Wacana, the Indonesian Tionghoa Society (INTI), the Private Ombudsman Institute (LOS), and also from SATUNAMA staff.

“Before becoming an announcer for the station, I was a listener. Originally, I only listened while my parents listened to the radio. Then, I was attracted to listen because this station not only plays songs but also gives information. I like to hear about health information that could be used in our daily lives, such as how to stop nosebleeds, knowing which water is healthy, or cure how to cure phlegm using traditional herb,” said Suci Purwanti.

Radio SATUNAMA holds an annual listeners’ meeting where listeners can meet each other, including social activities, such as cooperating with the Indonesian Red Cross for blood donations, and free treatment sessions in cooperation with the Indonesian Tionghoa Society (INTI) and Sanata Dharma Pharmacy Faculty. This annual meeting also includes small scale business bazaar to promote listener’s businesses.

While other radio stations use famous named for their announcers, Radio SATUNAMA chooses to use grassroots names such as Mitro Gaplek, Gino Lincak, Siyem, or Lasminah.

“We choose the names that familiar to our listeners. If there is a new announcer, the old announcers and radio staffs suggest several names then we choose the most familiar,” said Nurul.

She also stated that Radio SATUNAMA uses both Indonesian and Javanese in daily conversation because both are used by its audience. The songs in our play list are also typical songs listened to people from the middle to lower classes like campursari, langgam, keroncong, dangdut, old and new popular song.

“We choose that music because of our nationalism. There are many good songs from Indonesia, why do we have to play songs that use foreign languages?” said Nurul.

Understanding its function as a tool for disseminating information, Radio SATUNAMA includes political, socio economic, and cultural news in its programs. The announcers summarize the news, especially news from around Yogyakarta, from newspapers or the internet then read it for the audience.

Radio SATUNAMA also undertakes community radio development assistance. There are four radio stations that receive this assistance: Murakabi in Kulonprogo, Radeka in Gunungkidul, Karisma in Sleman, and Amerta in Purworejo. Radio SATUNAMA has a long-standing commitment to the development of community radio in Indonesia dating from its belief that lawmakers should ensure protection for community radio in the draft broadcasting legislation. The assistance that Radio SATUNAMA provides to community stations is part of its continuity efforts to ensure legal recognition and protection for the community radio sector. There are many community radio stations that only play songs without representing their community. Radio SATUNAMA hopes that it assistance to community radio will mean that they broadcast programs which the communities need and that the announcers have the sensibility to comprehend and explain the issues in the communities.

Radio SATUNAMA

[foto1]

Sejak September 2002, SATUNAMA memiliki radio yang dipakai untuk melengkapi promosi nilai-nilai HAM dan demokrasi. Radio yang kantornya terletak berdekatan dengan kantor utama SATUNAMA di wilayah Mlati, Sleman, ini mengudara pada gelombang AM 864 KHz. Pemilihan gelombang ini dilakukan untuk meraih pendengar yang berasal dari masyarakat pinggiran. “Awal pendirian radio berdekatan dengan munculnya RUU Penyiaran yang mengatur dan membatasi penggunaan frekuensi berlebih, khususnya frekuensi FM. Di Jogja saat itu ada sekitar 50 radio, padahal hanya ada 35 frekuensi yang digunakan. Pemilihan frekuensi AM untuk menghindari sweeping – apabila UU Penyiaran ditegakkan. Selain itu, jika Radio SATUNAMA menggunakan jalur FM, pendengarnya kebanyakan masyarakat perkotaan yang menyukai hiburan sehingga harus berebut pendengar dengan radio komersil. Radio SATUNAMA kemudian memilih untuk menyasar masyarakat pinggiran dan pedesaan yang sedikit mendapat akses media. Pada saat itu hanya ada empat radio yang memakai frekuensi AM,” tutur Nurul Purnamasari, penanggung jawab radio.

Radio SATUNAMA menggunakan pemancar dengan kekuatan 600 sampai 700 watt. Radius siarannya bisa mencapai jarak antara 40-60 kilometer. Selain lingkup DIY, siaran radio bisa didengar hingga Borobudur di Magelang, Dlanggu di Klaten, dan Purworejo. “Pendengar terbanyak dari daerah Sleman karena mendapat sinyal paling bagus, disusul kemudian pendengar dari Bantul, Kota Jogja, ada juga dari Kulon Progo dan Gunungkidul. Para pendengar aktif berinteraksi dengan cara mengirim SMS, menelepon, atau mengirim surat untuk meminta lagu dan bertanya pada sesi konsultasi,” tambah Nurul yang memiliki nama siaran Marni. Ia juga menuturkan jika kadang ada pendengar dari daerah seputaran radio datang untuk sekadar ngobrol dengan penyiar, memberikan saran, dan bertemu dengan narasumber.

Tiap hari Radio SATUNAMA beroperasi mulai dari pukul 5 pagi hingga pukul 12 malam. Materi siarannya antara lain berbagai informasi mengenai kesehatan, pertanian organik, tanaman obat keluarga, usaha kecil. Tiap hari Senin hingga Jumat mulai pukul 09.00 ada acara konsultasi hukum, perempuan dan anak, kesehatan, usaha, manajemen ekonomi rumah tangga, dan psikologi. Pemateri acara ini berasal dari berbagai lembaga seperti Pusat Bantuan dan Konsultasi Hukum (PBKH) Fakultas Hukum UAJY, Mitra Wacana, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Lembaga Ombudsman Swasta (LOS), dan juga dari staf lapangan SATUNAMA sendiri. “Dulu, sebelum menjadi penyiar saya pendengar Radio SATUNAMA. Awalnya ikut-ikutan Ibu dan Bapak yang menjadi pendengar setia. Saya tertarik mendengarkan karena isi siaran radio ini tidak hanya lagu tetapi juga ada selingan informasi. Saya suka dengan informasi kesehatan seperti penanganan mimisan, membedakan air putih yang sehat dan tidak sehat, atau cara mengobati panu dengan kenanga karena bisa diterapkan langsung,” tutur Suci Purwanti, salah seorang Penyiar.

Untuk memfasilitasi pendengar untuk bertemu sesamanya, Radio SATUNAMA mengadakan acara temu pendengar tahunan. Acara ini juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial, seperti bekerjasama dengan PMI untuk program donor darah, dan bekerjasama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) dan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma untuk mengadakan pengobatan gratis. Dalam acara ini juga terdapat bazaar UKM yang menjadi sarana promosi dari pendengar yang memiliki usaha kecil.

Berbeda dengan radio lain yang umumnya penyiarnya menggunakan nama beken, radio SATUNAMA memilih untuk memilih nama-nama penduduk desa seperti Mitro Gaplek, Gino Lincak, Siyem, atau Lasminah. “Pemilihan nama ndeso ini sengaja kami pakai untuk mendekati pendengar yang rata-rata dari kalangan menengah kebawah. Tiap kali ada penyiar baru, penyiar lama dan staf radio mengusulkan nama dan nanti dipilih yang paling gampang diingat,” tutur Nurul.

Ia juga menambahkan jika untuk lebih mendekati pendengar yang terbiasa dengan bahasa sehari-hari, para penyiar selain menggunakan Bahasa Indonesia juga menggunakan Bahasa Jawa. Lagu-lagu yang diputar pun merupakan lagu kesukaan kalangan menengah ke bawah seperti campursari, langgam, keroncong, dangdut, pop lama dan baru. “Selain karena selera pendengar, kami juga sengaja tidak memutar lagu-lagu berbahasa asing karena alasan nasionalisme. Kalau ada banyak lagu dari Indonesia yang bagus, kenapa harus memutar lagu dengan bahasa asing?” kata Nurul.

Sadar fungsinya sebagai alat untuk menyebarluaskan informasi. Radio SATUNAMA menyelipkan berita politik, ekonomi, sosial, dan budaya di beberapa program acaranya. Para penyiar radio menyarikan berita, terutama yang terjadi di seputaran DIY, dari koran atau internet kemudian membacakannya kepada pendengar.

Selain siaran, Radio SATUNAMA juga melakukan pendampingan komunitas. Saat ini ada empat radio yang mendapat pendampingan yaitu Murakabi di Kulonprogo, Radeka di Gunungkidul, Karisma di Sleman, dan Amerta di Purworejo. Radio SATUNAMA melakukan pendampingan ini karena para pendirinya adalah orang-orang yang memberi rekomendasi mengenai perlindungan terhadap radio komunitas dalam penyusunan RUU Penyiaran. Sebagai pertanggungjawabannya, Radio SATUNAMA melakukan pendampingan supaya radio komunitas tidak dianggap illegal. Masih banyak radio komunitas yang hanya memutar lagu tanpa mewakili masyarakat di sekitarnya. Sehingga pendampingan ini dilakukan supaya radio komunitas tersebut bisa menjadi milik warga dan menyiarkan kebutuhan warga juga supaya penyiarnya lebih peka untuk menangkap isu dalam masyarakat.

(Visited 411 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*