Sakitnya (menjadi) Perempuan Asmat

Posyandu Anggrek - Asmat, Papua
Posyandu Anggrek - Asmat, Papua
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Salah satu suku yang hidup di Pulau Papua adalah Asmat. Nama suku ini berubah menjadi kabupaten seiring adanya struktur pemerintah di tengah-tengah mereka. Kedatangan pemerintah ini menandai bahwa Asmat adalah bagian dari Indonesia.

Kabupaten Asmat memiliki keunikan tersendiri. Kota pedalaman ini biasa disebut dengan kota di atas papan. Aliran sungai memisahkan satu kampung dengan kampung yang lain. Transportasi air menjadi andalan untuk dapat menilik dan menikmati wilayah sekitar. Bukan hal rahasia jika kebutuhan transportasi itu sangat membutuhkan dukungan bahan bakar dan nyatanya harga BBM di tanah Papua tidak lagi seperti harga di Jawa. Terbatasnya akses ini akhirnya merembet ke segala isu kebutuhan dasar dan hak dasar.

Tersendatnya akses transportasi ini senasib dengan upaya negara untuk menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu di Asmat. Bangsa ini masih berusaha untuk mencapai tujuan besar yang biasa disebut dengan tujuan milenium (MGDs). Salah satu dari delapan tujuan itu adalah menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. Tujuan itu terkait kesehatan reproduksi perempuan.Ada banyak kebijakan yang berbicara tentang hak reproduksi perempuan. Tapi kenyataannya apa yang terjadi?

Rangkaian kegiatan PRA (Participatory Rural Appraisal) yang dilakukan di kampung Sanem dengan jumlah KK sebanyak 33 yang difasilitasi oleh Yayasan SATUNAMA dan DELSOS (Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi di Keuskupan Agats) pada tanggal 17 Agustus 2014, berkisah bahwa 5 dari 11 lembar kertas studi rumah tangga yang didapat dari PRA menuturkan dengan tegas bahwa pernah ada bayi meninggal dalam keluarga mereka. Mirisnya, tak ada yang menjawab 1 bayi, melainkan 2 atau 4 bayi yang pernah meninggal di dalam keluarga tersebut. Usia yang mengisi lembaran ini paling tua 35 tahun. Misalpun dia menikah pada umur 15 tahun (dalam kurun waktu 10 tahun terakhir) bisa dihitung ada berapa anaknya yang meninggal dalam rentang waktu yang terhitung pendek ini. Kejadian ini bukan menceritakan jaman dulu seperti ketika jamannya Sukarno ataupun Suharto. Keadaan ini juga tidak hanya terjadi di satu atau dua kampung saja.

Masih berkisah tentang pengalaman lapangan. Salah satu pertanyaan dalam studi rumah tangga saat pertemuan kampung ini terkait tentang kesehatan, yaitu : pernah ada bayi/anak meninggal? Berapa? Saya tanya satu per satu mama-mama yang ikut dalam pertemuan. Sebanyak 50% menjawab pernah. Takjub, heran, haru. Entah apa pernyataan yang pas untuk menggambarkan situasi hati ini ketika melihat jawaban mama-mama ini. Lebih mirisnya dari setengah yang menjawab pernah itu, mereka tidak hanya sekali mengalami kematian bayi di keluarganya. Hasilnya sama dengan kampung yang diceritakan di atas. Yang meninggal antara 2 hingga 4 bayi. Peserta yang ikut pertemuan kampung itu ada 10 orang mama-mama usia produktif (35-45th). Jadi inikah yang disebut dengan mengurangi angka kematian bayi? Dan parahnya penyebab kematian bayi-bayi itu bukan sakit mahal yang butuh biaya besar. Tapi hanya panas muntah berak (muntaber) yang harusnya bisa diberi pertolongan pertama jika akses informasi tersampaikan dengan baik.

Selain akses informasi, kebutuhan untuk mendekatkan akses layanan juga penting dilakukan. Hal itu agaknya sudah disadari oleh banyak pihak. Namun di sisi lain tidak mudah mendapatkan pekerja kesehatan yang bersedia tinggal di daerah-daerah pedalaman. Ada banyak alasan yang menyertai permasalahan itu sehingga terkesan seperti benang ruwet. Daerah geografis yang unik ini menjadi tantangan tersendiri. Kampung satu dengan yang lain terpisahkan oleh sungai (kebanyakan adalah sungai dalam ukuran besar), air bersih bergantung dengan hujan (air rawa dianggap air bersih tapi letaknya jauh dari kampung karena harus pergi ke dusun/hutan) serta isu hak dasar lainnya (tak terkecuali masuknya pengaruh-pengaruh dunia luar yang tidak terbendung).

Kesehatan masih menjadi barang mahal di Asmat. Memang benar ada banyak layanan kesehatan yang berbunyi ‘gratis’. Tapi di Asmat kebutuhannya berbeda. Sarana transpotasi yang tidak mendukung juga ikut berkonstribusi pada tersendatnya akses layanan kesehatan gratis tersebut. Apapun alasannya, perempuan Asmat masih rentan dengan kebutuhan dasar berupa kesehatan dan masih menjadi sasaran empuk untuk kampanye dengan berbagai kepentingan alias hanya menjadi object.

Maria Sucianingsih
Program Officer of Being Prosperous Asmat Project 
Yayasan SATUNAMA

(Visited 268 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*