Pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL)

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Training of CEFIL (Civic Education for Future Indonesia Leaders)

[photo1]

Again, SATUNAMA in coordination with KAS (Konrad Adenauer Stiftung) conducted Basic CEFIL training at SATUNAMA Training Center, participated by 32 people (F:6; M:26) who came from various civil society organizations of North Sumatra, Jakarta, Yogyakarta, West Java, Central Java, East Java, Central Kalimantan, South Sulawesi and West Papua.

The training took place from 26 April to 1 May 2010, facilitated by some prominent resource persons such as Raymond Toruan (ex The Jakarta Post chief editor), Ichsan Malik (Indonesian University lecture and the founder of Institut Titian Perdamaian), Hardono Hadi (SATUNAMA), I Gusti Agung Putri Astrid Kartikasaat (ELSAM Director), M. Fadjroel Rachman (Pedoman Indonesia) and Bahruddin (Qoriah Toyyibah).

SATUNAMA has conducted CEFIL training since 1997. The training based on a belief that a democratic civil society leadership is a pillar of a fair and prosperous society. Its subjects are: democracy, globalization, human rights, participation, civil society, leadership, social analyses, conflict resolution and organizational. Those subjects are aimed to provide future democratic civil society leaders.

”Democracy lessons learned is also provided by various background of the participants who contribute to determine how the training process happens. When there is an interaction between participants, they also learn of multiculturalism”, stated Metta Yanti, Capacity Building Division Head, SATUNAMA. She added that CEFIL prioritizes adult education, where participants not only listening to the resource persons but be active discussing the material. Participants also learn how to understand subjects through various games made specifically for the training. SATUNAMA facilitators who have had experiences in method development and adult education accompanied the whole training process.

[photo2]

CEFIL training tries to always in line with the developing national situation, for instance in the session of Conflict Management. Participants learn and discuss on actor mapping, core problem analyses, problems’ triggering, conflict accelerator and what groups are vulnerable for instance in the Tanjung Priok case. “A future leader has to understand about how to map and solve conflicts. It will even be better when he/she is able to avoid a conflict by detect the conflict acceleration, empowering vulnerable groups, identifying functional actors and communicating with securitizing actors”, said Ichsan Malik, one of the resource persons who is a lecturer on Conflict Management at the post graduate program of the Indonesian University.

Petrus Taliabo, a lecturer from Pare-pare, South Sulawesi, stated that he participated the training to increase his knowledge on society condition. ”In every end of semester, students at my campus take a community program in a society. They observe environment and health issues in order to do illumination. As a community assistant I have a limited knowledge on how to get data, and by attending this training I will have capability to apply the materials”.
Pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL)

[foto1]

SATUNAMA bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) kembali menyelenggarakan pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) untuk level dasar di Balai Pelatihan SATUNAMA. Peserta yang berjumlah 32 orang (6 perempuan, 26 laki-laki) berasal dari berbagai organisasi masyarakat sipil di Sumatera Utara, DKI Jakarta, DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat.

Pelatihan CEFIL yang berlangsung dari tanggal 26 April hingga 1 Mei ini menghadirkan para pakar yang berpengalaman dalam bidangnya sebagai narasumber. Mulai dari Raymond Toruan (jurnalis senior, mantan pemimpin redaksi The Jakarta Post), Ichsan Malik (dosen UI, pendiri Institut Titian Perdamaian), Hardono Hadi (SATUNAMA), I Gusti Agung Putri Astrid Kartikasaat (Direktur ELSAM), M Fadjroel Rachman (Pedoman Indonesia), dan Bahruddin (Qoriah Toyyibah).

SATUNAMA menyelenggarakan pelatihan CEFIL sejak tahun 1997. Pelatihan ini muncul berdasar keyakinan bahwa kepemimpinan masyarakat sipil yang demokratis merupakan pilar bagi terbangunannya masyarakat adil dan sejahtera. Materi-materi pelatihan seperti demokrasi, globalisasi, hak asasi manusia, partisipasi, masyarakat sipil, kepemimpinan, analisis sosial, resolusi konflik dan pengorganisasian; akan membekali peserta menjadi pemimpin masyarakat sipil yang demokratis.

[foto2]

” Pembelajaran demokrasi juga terakomodasi oleh keberagaman latar belakang peserta yang turut menentukan bagaimana proses pelatihan berjalan. Saat berinteraksi dengan peserta lainnya, perbedaan budaya mengakibatkan seorang peserta belajar mengenai keberagaman,” kata Metta Yanti, Kepala Divisi Capacity Building, SATUNAMA. Ia juga menambahkan jika bahwa CEFIL mengedepankan proses pembelajaran orang dewasa. Di sini, peserta tidak hanya mendengarkan materi yang diberikan narasumber tetapi juga aktif mendiskusikan bahan tersebut. Peserta juga belajar memahami materi melalui berbagai permainan yang dibuat khusus untuk pelatihan. Seluruh sesi pelatihan didampingi oleh fasilitator dari SATUNAMA yang memiliki pengalaman selama bertahun-tahun dalam hal mengembangkan metode dan media pembelajaran orang dewasa.

CEFIL mencoba untuk selalu aktual dengan situasi nasional yang berkembang. Misalnya saja dalam sesi Manajemen Konflik. Peserta belajar dan berdiskusi mengenai peta aktor, analisis masalah inti, pemicu, serta akselerator dari konflik, dan kelompok mana yang rentan menjadi korban dari kasus kerusuhan Tanjung Priok. “Seorang calon pemimpin harus paham cara memetakan dan menyelesaikan konflik. Akan lebih bagus lagi jika ia mampu mencegah sebuah konflik dengan cara mendeteksi akselerasi konflik, mendampingi ataupun memberdayakan kelompok rentan, mengidentifikasi aktor-aktor fungsional dan menjalin komunikasi dengan securitizing actor” tutur Ichsan Malik yang juga staf pengajar di S2 Manajemen Konflik UI.

Petrus Taliabo, pengajar di Akademi Keperawatan Fatima, Pare-pare, Sulawesi Selatan mengaku bahwa ia tertarik untuk mengikuti pelatihan ini untuk menambah pengetahuannya mengenai kondisi masyarakat. ”Tiap akhir semester, mahasiswa-mahasiswa di kampus kami mengambil program komunitas di masyarakat. Mereka melihat masalah-masalah kesehatan lingkungan untuk nantinya membuat program penyuluhan. Sebagai pendamping, saya merasa pengetahuan saya mengenai cara mengambil data di masyarakat terbatas. Ada banyak materi dari pelatihan ini yang nanti bisa saya terapkan.”

(Visited 157 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*