Rangkuman Laporan Akhir Program bersama USC Canada

Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Poverty in Indonesia is more prevalent in rural areas, but reaches up to 68.5% of the total population. One explanation for this is that most people who live in rural areas work in the agricultural sector, which typically does not yield a high salary for workers. In Yogyakarta, the number of people living in poverty increased in 2009 to 17.23%, above the average of 16.8%. A report in June 2010 showed that Indonesia is currently in Rp. 1,600 trillion debt, meaning each citizen has 9.7 million rupiah in debt. When one considers recent legislation, such as the ACFTA, which forces farmers to compete with big corporations such as Carrefour and Giants, it becomes clear that the government does not have the best interests of the people in mind. The following discusses SATUNAMA’s 2010 involvement in improving these conditions through improved biodiversity, youth education, and communication with local government.

In 2010, SATUNAMA worked on several initiatives in order to empower farmers by facilitating community with skills and tools to increase their quality of life and farm sustainability. SATUNAMA has helped farmers maintain biodiversity by using a variety of techniques, such as establishing demo-plots and conducting training batches to test the genetic viability of the crops, as well as a seed exchanges, where farmer participants bring seeds labeled with there names, origin, age, and habitat and swap them with each other to obtain needed seeds. SATUNAMA has also worked to ensure that farming practice follow good agro-ecology practices, helping farmers develop water and soil conservation techniques by adding organic waste to fields, and developing fair water distribution systems. SATUNAMA has worked with farmers to increase their own supply of food through seed bedding, and trained new farmers in the techniques of home gardening, as well improving farmer’s capacity to safely and healthy process foods for sale.

During World Food Day, SATUNAMA worked with NGO’s and community groups representing farming interests by appealing to the government to ban a bill that would allow the private sector to control agricultural-based commodities. Satunama has facilitated many discussions between farmers and policymakers in order to ensure there is an open dialogue about ongoing and potential projects. This has been helpful in projects such as the construction of a bridge between 2 villages, and the creation of a clean water facility. The government has been helpful in supplying communities with the technologies necessary for food processing and the government has introduced an agro-biodiversity group as well.

Adding to these biodiversity efforts has been the establishment of a seed bank to ensure that seeds are stored in a way that maximizes there usefulness to farmers in the future. Food diversification is another essential aspect of farming, and SATUNAMA has helped farmers develop new uses for plants and crops. Already, 4 new kinds of foods have been made using cassava, and flour diversification has also been increased. Two villages have seen a decrease in hygiene-related diseases such as ringworm since the creation of clean water tanks.

By participating in World Food Day, SATUNAMA was able to educate many farmers about proper farming techniques, promote bio-diversity through seed exchanges, and educate children about the basics of farming. SATUNAMA has made excellent progress in expanding the mobile library program, gaining the trust of local schools, and developing curriculum modules that allow for the teaching of biodiversity. SATUNAMA’s training programs with children have taught them about aquaculture and home gardening. SATUNAMA is also pleased to report that women are increasingly filling leadership roles in the OPA (water use organization) and in CSO’s in Java and Flores. SATUNAMA will continue this work in Java Flores, as we have found that women have a large role to play in the farming sphere. Women have also become more vocal and more willing to express their opinions due to SATUNAMA’s initiatives. Working together with local organizations, farmers, and the government to improve people’s knowledge of agricultural practices and increase their access to necessities will remain SATUNAMA’s priority as we work to improve human capacity in our communities.

Kemiskinan di Indonesia terlihat lebih umum terjadi daerah pedesaan, bahkan mencapai mencapai hingga 68,5% dari total populasi. Suatu situasi yang dapat memberikan penjelasan untuk situasi ini adalah bahwa kebanyakan orang yang tinggal di daerah pedesaan bekerja di sektor pertanian, yang biasanya tidak menghasilkan pendapatan yang tinggi bagi mereka. Di Yogyakarta, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan meningkat pada 2009 hingga mencapai 17,23%, di atas rata-rata 16,8%. Sebuah laporan (Juni 2010) menunjukkan bahwa Indonesia saat ini memiliki hutang hingga mencapai Rp. 1.600 triliun, yang berarti bahwa setiap warga negara memiliki hutang sebesar Rp. 9,7 juta. Ketika satu pihak menyadari bahwa aturan undang-undang baru, seperti ACFTA, yang isinya memaksa petani untuk bersaing dengan perusahaan besar seperti Carrefour dan Giants, menjadi jelas bahwa pemerintah tidak memiliki pertimbangan pemikiran mengenai bagaimana memenuhi kepentingan masyarakat Indonesia pada umumnya. Uraian berikut membahas keterlibatan SATUNAMA di tahun 2010 dalam memberikan kontribusi untuk berbagai kondisi yang timbul dari situasi tersebut melalui perbaikan keanekaragaman hayati, pendidikan generasi muda, dan komunikasi dengan pemerintah daerah.
Pada tahun 2010, SATUNAMA bekerja dengan beberapa inisiatif untuk memberdayakan petani berbentuk pendampingan dengan dukungan keterampilan dan peralatan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan keberlanjutan pertanian. SATUNAMA telah membantu petani mempertahankan keanekaragaman hayati dengan menggunakan berbagai teknik, seperti mendirikan demplot dan mengadakan sejumlah pelatihan untuk menguji kelangsungan hidup genetik dari tanaman, serta pertukaran benih, dimana petani yang menjadi partisipan acara membawa benih yang diberi label nama benih, asal benih, usia, dan habitat dan dengan benih berlabel itu para petani partisipan saling bertukar benih satu sama lain untuk memperoleh benih yang dibutuhkan. SATUNAMA juga telah bekerja untuk memastikan bahwa praktek pertanian yang baik mengikuti praktik agro-ekologi, membantu petani mengembangkan air dan teknik konservasi tanah dengan menambahkan limbah organik untuk ladang, dan mengembangkan sistem distribusi air yang adil. SATUNAMA telah bekerja sama dengan petani untuk meningkatkan pasokan makanan mereka sendiri melalui lahan pembenihan, dan melatih petani baru dalam teknik berkebun di rumah, serta meningkatkan kapasitas petani untuk memproses makanan yang aman dan sehat untuk dijual.

Selama Hari Pangan Sedunia, SATUNAMA bekerjasama dengan sekelompok LSM dan kelompok masyarakat yang mewakili kepentingan petani meminta kepada pihak pemerintah untuk melarang RUU yang akan memungkinkan sektor swasta untuk mengendalikan komoditas berbasis pertanian. SATUNAMA telah memfasilitasi banyak diskusi antara petani dan pembuat kebijakan untuk memastikan adanya dialog terbuka tentang proyek yang sedang berlangsung dan proyek yang potensial. Proses ini telah membantu dalam proyek-proyek seperti pembangunan jembatan antara dua desa, dan penyediaan fasilitas air bersih. Pemerintah telah membantu masyarakat dengan memberikan teknologi yang diperlukan untuk pengolahan makanan dan pemerintah juga telah memperkenalkan kelompok dengan agro-keanekaragaman hayati.

Dalam memperkuat usaha pelaksanaan penganekaragaman hayati ini telah juga didirikan bank benih untuk memastikan bahwa benih disimpan dengan cara yang dapat mengoptimalkan kegunaannya bagi para petani di masa depan. Diversifikasi pangan adalah aspek lain yang juga penting dalam pertanian. SATUNAMA telah membantu para petani dalam mengembangkan inovasi penggunaan berbagai tanaman dan tanaman pangan. Hingga saat ini sudah ada empat jenis makanan baru yang telah dibuat dengan menggunakan singkong, dan diversifikasi tepung juga telah meningkat. Dua desa telah melihat penurunan dalam penyakit yang berhubungan dengan kesehatan seperti kurap sejak penciptaan tangki air bersih.
Dengan berpartisipasi dalam Hari Pangan Sedunia, SATUNAMA mampu mendidik banyak petani tentang teknik pertanian yang tepat, mempromosikan keanekaragaman hayati melalui pertukaran benih, dan mendidik anak-anak tentang dasar-dasar pertanian. SATUNAMA telah membuat kemajuan yang sangat baik dalam memperluas program perpustakaan keliling, memperoleh kepercayaan dari sekolah-sekolah lokal, dan mengembangkan modul kurikulum yang memungkinkan untuk pengajaran keanekaragaman hayati. Program-program pelatihan SATUNAMA untuk anak-anak telah mengajarkan juga kepada mereka mengenai akuakultur dan berkebun di rumah. SATUNAMA juga dengan gembira melaporkan bahwa perempuan semakin mengisi peran kepemimpinan dalam OPA (Organisasi Penggunaan Air) dan di OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) di Jawa dan Flores. SATUNAMA akan melanjutkan terus karya yang telah dimulai di Jawa Flores, karena SATUNAMA telah menemukan bahwa perempuan memiliki peran besar untuk turut terlibat dan berpartisipasi di bidang pertanian. Perempuan juga menjadi lebih vokal dan lebih bersedia untuk mengekspresikan pendapat mereka berkat inisiatif SATUNAMA. Bekerja bersama dengan organisasi lokal, petani, dan pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap praktek pertanian dan meningkatkan akses mereka terhadap kebutuhan akan tetap menjadi prioritas SATUNAMA karena SATUNAMA bekerja untuk meningkatkan kapasitas manusia dalam masyarakat kita.

(Visited 101 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*