Satunama.org – Yayasan SATUNAMA Yogyakarta bersama sepuluh organisasi masyarakat sipil lokal menyelenggarakan pelatihan Mobilizing Support Batch V Maluku Chapter di Hotel Santika Premiere Ambon pada 12–16 Oktober 2026. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid akibat kendala penerbangan yang dipengaruhi gangguan kabut asap. Meski menghadapi keterbatasan tersebut, pelatihan tetap menjadi ruang belajar, evaluasi, dan konsolidasi untuk memperkuat kapasitas organisasi serta mobilisasi dukungan berbasis hak di Maluku.
Fasilitator Change the Game Academy (CtGA), Yohana Maitimu, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan mendorong keterlibatan warga dan pemangku kepentingan secara lebih terarah.
“Katong (kita) di sini tidak hanya belajar teori, tetapi memastikan mimpi lembaga berjalan seiring dengan kebutuhan penerima manfaat agar semua pihak bergerak bersama,” ujarnya.
Masyarakat sebagai Pemegang Kedaulatan Perubahan
Proses pemetaan masalah dalam pelatihan ini mencakup beragam isu sosial, mulai dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, akses pendidikan di pulau-pulau kecil, pelestarian lingkungan, kesetaraan gender, hingga perlindungan anak dari tindakan kekerasan. Sepuluh organisasi masyarakat sipil yang terlibat adalah Yayasan Rumah Generasi, Green Moluccas, PERTUNI Maluku, Generasi Rajawali Maluku, Bangun Anak Maluku Sejahtera (BAMAS), Arika Mahina, YBH Saguara, AMPGM Lease, GMKI, dan Yayasan Toma Maju Lease.
Melalui simulasi interaktif dan diskusi kelompok, peserta diajak memahami lima tingkatan partisipasi masyarakat. Yohana menggarisbawahi bahwa keberhasilan upaya perubahan perlu menempatkan warga dampingan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, bukan sekadar objek dari program pemberdayaan.
Ia juga menjelaskan bahwa esensi mobilisasi dukungan adalah memperkuat kapasitas masyarakat. “Mobilizing support adalah sebuah proses sistematis untuk membentuk kesadaran, kapasitas, relasi, serta kekuatan kolektif milik masyarakat itu sendiri demi memperjuangkan kedaulatan yang mereka butuhkan,” terangnya.
Membangun Organisasi dan Relasi yang Kuat
Untuk memperkuat kapasitas organisasi, peserta mempelajari prinsip CLASP (Credibility, Legitimacy, Accountability, Service, dan Power) sebagai landasan tata kelola organisasi yang sehat dan kredibel. Selain itu, peserta diperkenalkan pada kerangka analisis hukum IRAC (Issue, Rule, Analysis, Conclusion) untuk membantu mengidentifikasi dan menganalisis regulasi yang berkaitan dengan isu yang mereka perjuangkan. Beberapa contoh yang dibahas antara lain ketersediaan data terpilah disabilitas, regulasi sekolah aman, hingga peraturan daerah tentang pengelolaan sampah.
Dalam membangun dukungan, pendekatan yang digunakan juga perlu selaras dengan nilai-nilai Mobilizing Support. Cara-cara konfrontatif, tindakan kekerasan, maupun narasi yang memicu permusuhan bukanlah pendekatan yang diutamakan. Sebaliknya, dialog, edukasi, lobi, mediasi, dan negosiasi yang persuasif menjadi bagian dari upaya membangun hubungan serta menemukan titik temu dengan berbagai pihak.
Wakil Direktur Yayasan Rumah Generasi, Okto Pattikawa, membagikan pengalamannya mengenai pentingnya membangun pendekatan personal ketika berinteraksi dengan birokrasi pemerintah.
“Kita perlu mencari orang-orang di jajaran pemerintahan yang memiliki komitmen dan pemahaman yang sama. Melalui hubungan yang baik, isu yang kita perjuangkan lebih mudah masuk dalam prioritas kebijakan,” ujarnya.
Fasilitator pelatihan dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta, Dwi, turut menekankan pentingnya etika dalam bernegosiasi. “Kunci keberhasilan kita ada pada negosiasi yang halus, negosiasi yang menciptakan harmoni. Pergunakan bahasa yang persuasif, memberi ruang untuk diskusi, dan tidak memaksa. Ini strategi kita untuk mencapai tujuan gerakan bersama dalam memobilisasi dukungan,” tuturnya.
Selain membangun relasi dengan pemangku kepentingan, peserta juga dibekali keterampilan dalam menerima laporan pengaduan dari kelompok rentan. Melalui sesi wawancara aktif, peserta belajar memahami bahwa bahasa tubuh, nada suara, dan kesabaran turut menentukan kenyamanan seseorang ketika menyampaikan persoalan yang dialaminya.
Dwi mengingatkan bahwa pendampingan terhadap warga yang menyampaikan pengaduan membutuhkan empati dan kehati-hatian. Setiap informasi perlu didengarkan dan diperiksa berdasarkan fakta sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Gunakan empati dan semangat mendengarkan secara aktif. Pastikan setiap informasi yang diterima diuji kebenarannya berdasarkan fakta di lapangan, serta hindari kebiasaan langsung menawarkan solusi sebelum kita memahami akar masalahnya secara utuh,” papar Dwi.
Kampanye Media dan Komitmen Baku Kele
Pada tahap akhir pelatihan, peserta mempelajari penyusunan strategi komunikasi publik, penulisan siaran pers, dan pengelolaan media sosial. Fasilitator pelatihan dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta, Ariwan Perdana, menekankan pentingnya kemampuan mengemas isu agar dapat tersampaikan dengan baik melalui media.
“Isu yang diangkat dalam pers rilisnya kawan-kawan itu memang menjadi prioritas pemerintah saat ini. Namun perlu diingat bahwa ada isu-isu tertentu yang tidak menjadi prioritas, sehingga kita memerlukan skill (keterampilan) dalam menulis pers rilis ini dengan baik,” ujar Ariwan pada hari keempat pelatihan.
Peserta juga mulai merumuskan slogan-slogan yang dapat membangun kesadaran warga dengan berangkat dari kearifan lokal. Di antaranya, “Jaga pulau, pulau jaga katong” yang diusung Yayasan Toma Maju Lease dan “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi” dari Green Moluccas.
Melalui metode World Café, sepuluh organisasi kemudian memvisualisasikan rencana aksi Mobilizing Support untuk enam bulan ke depan melalui stand pameran interaktif. Setiap organisasi saling mengunjungi, memberikan apresiasi, dan menyampaikan masukan untuk memperkuat rancangan aksi satu sama lain. Dalam proses tersebut, perwakilan Toma Maju Lease, Leni, menyampaikan bahwa pertukaran gagasan membuka wawasan berbagai organisasi mengenai pentingnya membangun aliansi lintas isu.

Rangkaian pelatihan selama lima hari ini ditutup dengan komitmen bersama untuk baku kele, sebuah ungkapan lokal Maluku yang bermakna saling bergandengan tangan dan menopang satu sama lain. Komitmen tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan tidak dapat dibangun oleh satu organisasi atau kelompok saja. Rencana aksi dan jaringan yang telah dirintis selama pelatihan diharapkan terus berkembang melalui kerja bersama, demi mewujudkan kehidupan masyarakat Maluku yang lebih adil, inklusif, bermartabat, dan berkelanjutan.
Penulis: Ganggas Prakosa | Editor: Agustine Dwi | Foto: Tim Dokumentasi Pelatihan MS V
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.