Rita Barros: Saya Ingin Menjadi Bunga yang Harum

Rita Barros (Radio Komunitas Timor-Leste)
Rita Barros (Radio Komunitas Timor-Leste)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook8Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Rita Barros, Manager Radio Komunitas Lian Tatamailau, Ainora:
Saya Ingin Menjadi Bunga yang Harum untuk Semua di Sekeliling Saya

Satunama.org – Pemerintah Timor Leste, melalui Sekretariat Negara untuk Informasi dan Komunikasi, memberangkatkan 9 perwakilan radio komunitas, dari 16 radio komunitas yang ada. Perwakilan 9 radio komunitas ini mengikuti pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Radio Komunitas, di Yayasan SATUNAMA, Yogyakarta. Mereka berasal dari Radio Komunitas Lian Tatamailau- Ainaro District, Radio Komunitas Lian Matebian – District Baucau, Radio Komunitas Don Boaventura – District Same, Radio Komunitas Iliwai – District Manatuto, Radio Komunitas Tokodede – District Likisa, Radio Komunitas Districtvern Lospalos, Radio Komunitas Distrcit Oe-Cusse, Radio Komunitas Sub-District Maubisse, Board radio komunitas District Ermera.

Selama 25 hari para peserta mendapatkan berbagai macam materi, pengetahuan, dan teknik pengelolaan radio komunitas. Dua dari sembilan peserta adalah perempuan, salah satunya adalah Rita Barros.

Rita bukanlah orang asing di dunia radio komunitas. Ibu dari dua anak, perempuan (5) dan laki-laki (2 tahun, 6 bulan) ini mengawali keterlibatan dalam dunia radio komunitas dari nol. Sebelas tahun yang lalu, ia bersama 4 orang relawan ditunjuk membidani lahirnya Radio Komunitas Lian Tatamailau- Ainaro District, 9 jam perjalanan darat dari Dili, Ibu kota Timor Leste. Perempuan kelahiran Ainaro, Timor Leste, 40 tahun lalu ini begitu antusias mendedikasikan dirinya di radio komunitas. “Pada tahun 2002, saya sempat bekerja di OMT, sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk isu Perempuan. Dari sana saya diutus organisasi untuk mengikuti pelatihan selama 5 bulan mengenai informasi dan media,” ungkap Rita tentang awal karirnya di radio komunitas. Dari situlah keterlibatannya bermula.

Pada tahun yang sama diselenggarakan pertemuan antara tokoh masyarakat dan intelektual, di Ainaro. Pertemuan itu menunjuk 2 orang dari 4 kecamatan untuk melakukan kajian selama satu bulan. Mereka diminta membuat laporan.

“Dari laporan itulah kemudian pertemuan menunjuk 4 orang volunteer di gereja untuk menginisiasi radio komunitas. Saya termasuk di dalamnya. Namun, selama November awal itu vakum, karena tidak ada peralatannya,” tutur Rita.

Radio komunitasnya baru mulai menunjukkan tanda-tanda bergerak ketika pada pertengahan bulan November alat-alat dari Australia datang. Pada bulan yang sama, bersama pemerintah lokal, menentukan kantor dan tempat pemasangan antena.

“Pada tanggal 14 November 2002, orang Australia ini mengatakan bahwa inilah radio kalian, silahkan diterima dan menyebarkan informasi,” tutur Rita, sembari mengingat. Perempuan lulusan SMA ini, bersama 5 rekan lainnya kemudian menyelenggarakan siaran percobaan. Ia pulalah yang mengumandangkan suaranya pertama kali di radio komunitas di Ainaro. Siaran percobaan berlangsung selama 5 bulan hingga bulan Maret 2003.

“Dihadiri oleh salah satu menteri Timor Leste, pada tanggal 16 Maret 2003, Radio Komunitas Lian Tatamailau diresmikan,”sambung Rita yang tidak kesulitan mengingat tanggal peresmian radionya. Hingga 12 tahun mengudara, radio tersebut menjakau telah menjangkau lebih dari 75% penduduk di 3 kecamatan, Ainaro, Hatu-Udo, dan Hatu-Builico. “Kami jatuh bangun, dalam menghidupi radio komunitas ini. Tapi kami yakin waktu itu, akan ada yang datang membantu kita untuk menjadi lebih baik. Bahkan jika nanti Timor Leste sampai pada sistem otonomi daerah, radio komunitaslah yang menjadi penting bagi sebuah kabupaten.”

Rita, satu dari dua manager perempuan dalam radio komunitas di Timor Leste juga memimpin stafnya yang berjumlah 5 orang. Tiga staf perempuan dan dua staf laki-laki. Ia menuturkan di negaranya lebih dari 20% perempuan sudah menduduki posisi parlemen. Namun, sambil tertawa, ia berkata: “Hanya kami berdua (ia dan Dulce Santina Belo, red) perempuan yang menjadi manager di radio komunitas dari 16 radio komunitas di Timor Leste,” ujarnya.

Mengenai pekerjaannya sekarang ia berujar, “Saya merasa bebas dan bisa mengaktualisasikan diri saya di radio komunitas. Ada sumbangsih yang besar menurut saya, masyarakat bisa lebih maju dengan informasi-informasi melalui radio. Hak-hak mereka untuk mendapatkan informasi, dan bantuan dari pemerntah, kami sampaikan melalui radio. Saya bangga melakukan ini semua,” tutur Rita yang lulus 2 kali seleksi kepolisian namun ia tinggalkan. Orang-orang di sekeliling Rita pun mendukung langkah Rita. “Mereka mengatakan, itu tugasmu, itu pilihanmu. Ikutilah kata hatimu.”

Rita, berani melakukan ini semua untuk kemajuan masyarakat pendengarnya. Ia melangkah dan menjalani prinsip hidupnya dengan tegak. ”Saya ingin menjadi bunga yang harum untuk semua di sekeliling saya.” (Ryan)

(Visited 125 times, 1 visits today)
Sebarkan:Tweet about this on TwitterShare on Facebook8Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someone

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*