Satunama.org – Bunyi mainan otek-otek bambu bergema hampir bersamaan di Lapangan Garuda Mandala, Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan, Rabu (22/7). Di tangan sekitar 500 anak, mainan tradisional itu digoyangkan mengikuti irama, menciptakan suasana meriah yang mengawali peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Sleman.
Di bawah rindangnya pohon trembesi, ratusan pelajar dari berbagai SMP di Kabupaten Sleman duduk lesehan di atas tikar. Kain-kain berwarna yang dibentangkan di sekeliling area menjadi peneduh dari hangatnya matahari pagi. Dari tempat mereka berkumpul, siluet Candi Prambanan berdiri megah, menjadi latar perayaan yang tahun ini mengangkat semangat untuk menghadirkan ruang yang aman dan nyaman bagi anak.
Ruang Kecil untuk Membaca dan Bermimpi
Dalam momentum tersebut, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta turut berpartisipasi dengan menghadirkan Stan Perpustakaan Keliling. Stan ini dirancang sebagai ruang literasi dan berekspresi, tempat anak-anak dapat membaca, bermain, berkarya, sekaligus menyampaikan harapan mereka melalui berbagai aktivitas yang disiapkan.

Tak butuh waktu lama, stan SATUNAMA menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi anak-anak. Di area perpustakaan keliling, mereka bebas memilih buku cerita untuk dibaca bersama para pendamping. Beberapa anak tampak duduk melingkar sambil membacakan cerita kepada temannya. Sebagian tertawa sambil saling membacakan cerita, sementara yang lain tenggelam dalam buku bergambar yang baru mereka pilih.
Di sudut lain, anak-anak usia TK dan SD tampak asyik mewarnai menggunakan crayon. Dengan penuh konsentrasi, mereka memadukan warna-warna cerah pada gambar yang tersedia. Sesekali mereka saling menunjukkan hasil karyanya kepada teman maupun pendamping, disertai senyum bangga.
Ketika Pohon Harapan Dipenuhi Mimpi Anak-anak
Perhatian pengunjung juga tertuju pada Pohon Harapan, sebuah instalasi sederhana yang dipenuhi kartu-kartu kecil berwarna. Anak-anak menuliskan cita-cita dan harapan mereka sebelum menggantungkannya pada ranting-ranting pohon. Satu per satu kartu harapan mulai memenuhi ranting-ranting pohon. Tulisan tangan anak-anak itu sederhana, ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, atlet, polisi, hingga sekadar ingin membahagiakan kedua orang tua.
Sambil menggenggam kartu berwarna merah muda, seorang anak tersenyum malu-malu dan berkata, “Aku mau jadi anak pintar, biar orangtuaku bangga.” Anak-anak yang lain tertawa mendengarnya. Ia pun tersenyum lebar sebelum menggantungkan kartu pada pohon harapan di depannya.



Di balik kartu-kartu kecil tersebut, tersimpan mimpi yang sama besarnya dengan langit Prambanan pagi itu. Melalui aktivitas sederhana itu, anak-anak menemukan ruang untuk menyampaikan mimpi mereka, sekaligus mengingatkan kita bahwa setiap anak memiliki hak untuk didengar.
Belajar, Bermain, dan Mengenal Budaya
Sementara anak-anak memenuhi stan SATUNAMA, dari panggung utama terdengar sesi talkshow bersama dr. Novi dan Mbak Dani. Keduanya mengajak peserta memahami tiga nilai penting sejak dini: percaya diri, tekun dan pantang menyerah, serta empati terhadap sesama.
Setelah beristirahat dan menikmati makan siang, peserta kembali mengikuti kegiatan kelompok bertema budaya Jawa. Masing-masing kelompok memperoleh satu peribahasa Jawa untuk didiskusikan bersama. Mereka mencoba memahami makna yang terkandung di dalamnya, kemudian menuliskannya kembali menggunakan aksara Jawa. Suasana diskusi berlangsung santai. Anak-anak saling bertanya, berbagi pendapat, dan membantu teman yang masih kesulitan menuliskan aksara dengan benar. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya mengenal kembali bahasa dan budaya Jawa, tetapi juga belajar bekerja sama dalam menyelesaikan sebuah tugas.

Kegiatan berlanjut dengan lokakarya batik eco-print. Setiap peserta menerima sebuah tas kain yang sebelumnya telah diberi larutan pewarna. Berbagai jenis daun dan bunga kemudian disusun membentuk motif di atas permukaan kain sebelum ditutup dan dipukul menggunakan palu kayu.
Suara ketukan palu terdengar bersahutan dari berbagai sudut area kegiatan. Anak-anak tampak antusias memukul kain secara bergantian sambil menebak hasil motif yang akan muncul. Sorak kegembiraan terdengar ketika mereka membuka lipatan kain dan melihat jejak daun serta bunga yang tercetak alami pada permukaan tas.
Ruang Aman Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Hari itu, anak-anak memang pulang membawa pembatas buku, hasil eco-print, atau kartu harapan yang telah mereka gantungkan. Namun lebih dari itu, mereka pulang dengan ruang kecil untuk membaca, bermimpi, dan percaya bahwa setiap cita-cita mereka layak didengar. Itulah ruang aman dan nyaman yang ingin terus dihadirkan SATUNAMA bagi setiap anak, sebagai dukungan terhadap Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA).
Penulis: Ganggas Prakosa Sigit Wibowo | Editor: Agustine Dwi | Foto: Tim Hari Anak Nasional SATUNAMA
Eksplorasi konten lain dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.